Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Soroti Turki sebagai Ancaman

Pemilu legislatif Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 29 Agustus 2026, 13:01 WIB
Unggahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuat foto baliho kampanye yang dihiasi gambar Wali Kota New York Zohran Mamdani hingga Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. (Dok. X/@netanyahu)

Liputan6.com, Tel Aviv - Papan reklame raksasa yang terpampang di jalan utama Tel Aviv menempatkan Turki sebagai salah satu isu utama dalam kampanye pemilu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Reklame itu menampilkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersama para pemimpin Iran Mojtaba Khamenei dan Hizbullah Naim Qassem serta Wali Kota New York Zohran Mamdani sebagai tokoh-tokoh yang diposisikan sebagai lawan Israel. Di bawah foto mereka tertulis slogan, "Mereka ingin Netanyahu kalah. Jangan biarkan mereka menang."

Beberapa hari lalu, Turki juga menjadi pusat ketegangan militer terbaru yang melibatkan Israel.

Jet tempur Israel menyerang pangkalan udara Abu al-Dahar di Suriah utara. Serangan itu menyasar apa yang menurut para pejabat merupakan persiapan peningkatan kehadiran militer Turki yang dianggap Israel sebagai ancaman serius.

Namun, pemilu legislatif Israel tinggal hitungan minggu. Kedekatan waktu antara serangan tersebut dan pesan kampanye Netanyahu memunculkan perdebatan di Israel maupun di luar negeri: apakah Netanyahu benar-benar sedang berusaha mencegah ancaman strategis atau justru membesar-besarkan ancaman itu demi meningkatkan peluangnya dalam pemilu?

Sepanjang karier politiknya yang telah berlangsung puluhan tahun, Netanyahu membangun citra sebagai "Mr. Security", sosok yang mampu menghadapi berbagai ancaman terhadap Israel. Ia dikenal pula sebagai politikus ulung yang memiliki rekam jejak panjang dalam memanfaatkan krisis untuk keuntungan politik.

Tom Barrack, utusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk Suriah sekaligus Duta Besar AS untuk Turki, melontarkan kritik terbuka yang jarang terdengar dari Washington terhadap Israel. Mengutip laporan CNN, ia menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi yang tidak perlu.

Dalam wawancara dengan podcaster Mario Nawfal, Barrack menduga ada kepentingan politik di balik serangan itu. Ia mengemukakan sebuah teori bahwa Israel sekadar mencoba memancing Turki.

Barrack menilai bahwa serangan tersebut merupakan langkah yang sangat agresif, tetapi bisa menguntungkan secara politik menjelang pemilu.

Secara resmi, Israel menegaskan serangan itu murni dilakukan atas pertimbangan operasional. Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan intelijen Israel menunjukkan bahwa Turki tengah bersiap menempatkan pasukan dan peralatan di pangkalan udara tersebut.

Seorang sumber militer Israel mengungkapkan kepada CNN bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah mengumpulkan informasi intelijen mengenai rencana Turki mengerahkan personel, drone, dan sistem pertahanan udara ke lokasi itu.

Menurut sumber tersebut, kehadiran militer Turki di sana dapat membatasi ruang gerak Israel dalam melakukan operasi di wilayah udara Suriah sekaligus mengubah keseimbangan strategis di kawasan.

Sumber kedua mengatakan informasi intelijen tersebut telah disampaikan kepada pemerintahan Trump dan Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa.

Israel dan Suriah selama setahun terakhir telah menggelar pembicaraan untuk mencegah bentrokan langsung. Netanyahu menyebut kedua pihak telah mencapai status quo dalam urusan keamanan.

Kantor berita pemerintah Suriah melaporkan, kepala badan intelijen Israel, Mossad, Roman Goffman bertemu Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani di Yordania pada Minggu (23/8) untuk meredakan ketegangan terbaru.

Bagaimanapun, Turki, AS, dan sejumlah rival politik Netanyahu di dalam negeri menyoroti waktu terjadinya serangan tersebut.

Turki menolak penjelasan Israel dan menyebutnya tidak dapat dipertahankan. Ankara menuduh Netanyahu menjalankan kebijakan ekspansionis dan mengganggu stabilitas kawasan menjelang pemilu Oktober.

Pemerintah Turki mengatakan akan terus bekerja sama dengan pemerintah Suriah atas dasar yang sah untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan.

Netanyahu Sebut Erdogan Tiran Antisemit

Netanyahu dan Katz membantah tudingan bahwa serangan tersebut didorong kepentingan politik. Sebaliknya, keduanya memperingatkan soal kemungkinan Turki membangun kehadiran militer di Suriah.

"Kami tidak akan menoleransi kehadiran militer Turki yang mengakar di Suriah dan mengancam Israel," kata Netanyahu pekan lalu.

Pada saat yang sama, Netanyahu semakin mempertajam serangannya terhadap Erdogan.

Pada Jumat (21/8), kantor Netanyahu melalui unggahan di X menyebut Erdogan sebagai tiran antisemit yang menindas rakyatnya sendiri.

Netanyahu dan Erdogan telah lama terlibat perseteruan terbuka. Hubungan keduanya memburuk tajam selama perang di Gaza, Lebanon, dan Iran.

Erdogan menyebut Netanyahu sebagai penjahat perang dan berulang kali menuduh Israel melakukan kekejaman di Gaza. Sebaliknya, Netanyahu menuduh Erdogan mendukung Hamas.

Belakangan, Netanyahu menentang penjualan jet tempur F-35 AS kepada Ankara. Ia memperingatkan tentang ambisi agresif Erdogan di kawasan.

Amos Harel, analis keamanan senior di harian Haaretz yang berhaluan kiri, menilai faktor keamanan dan politik sama-sama relevan dalam melihat ketegangan terbaru ini.

"Memang ada indikasi bahwa sikap Erdogan terhadap Israel sangat bermusuhan dan Turki melakukan berbagai langkah militer di Suriah, beberapa di antaranya menjadi perhatian IDF—termasuk di bandara tersebut," kata Harel.

Ia merujuk pada informasi intelijen mengenai rencana Turki mengerahkan penasihat, drone, dan sistem pertahanan udara.

Namun, Harel mengatakan kepada CNN bahwa juga sangat jelas Netanyahu sedang menjalankan pendekatan baru yang agresif.

Menurut Harel, Netanyahu menggambarkan pendekatan tersebut sebagai pelajaran dari serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel: menyerang lebih dahulu di setiap front sekaligus membentuk zona penyangga keamanan di sepanjang perbatasan Israel di Gaza, Lebanon, dan Suriah.

Militer Israel merebut zona penyangga seluas 400 kilometer persegi di wilayah Suriah setelah rezim Assad runtuh pada 2024 dan menguasainya sejak saat itu.

Namun, situasi politik di tengah saling serang pernyataan terbaru antara Israel dan Turki semakin memperkuat kecurigaan sejumlah pengkritik Netanyahu.

Pemimpin oposisi Yair Lapid menilai operasi militer tersebut dapat dibenarkan, tetapi mengkritik pernyataan bernada kemenangan yang disampaikan Israel setelah serangan.

"Di Timur Tengah, menyerang ketika diperlukan itu penting. Tetapi jika sudah menyerang, diamlah," katanya.

Yair Golan, pemimpin Partai Demokrat yang berhaluan kiri, menyebut operasi tersebut provokatif dan berbahaya.

Mantan Perdana Menteri Ehud Barak melontarkan kritik lebih keras. Melalui media sosial, ia mengatakan eskalasi tersebut “sangat berbau kepentingan politik untuk memasuki pemilu di tengah serangkaian ketegangan keamanan yang dirancang untuk membuat publik khawatir”.

Netanyahu dan blok politiknya saat ini tertinggal dalam sejumlah survei. Para pengkritiknya khawatir krisis keamanan baru dapat mengubah peta politik secara drastis sekaligus membantu Netanyahu mengambil kendali atas agenda kampanye.

"Netanyahu dikenal meyakini bahwa keadaan darurat keamanan merupakan pilihan terakhir yang dapat mengubah keadaan dan meningkatkan peluangnya untuk bertahan dalam pemilu ini," kata Harel.

Harel menuturkan, Trump saat ini membatasi perang Israel terhadap Iran serta operasi militernya di Gaza dan Lebanon. Karena itu, Turki-Suriah menjadi front yang berpotensi muncul.

"Hal ini setidaknya menimbulkan kecurigaan kuat bahwa pertimbangan politik juga ikut berperan," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya