Raja Termuda di Dunia Meninggal di Usia 34 Tahun

Duka atas kematian raja termuda di dunia ini tidak hanya dirasakan rakyatnya, namun juga sesama kerajaan lain di Uganda hingga dunia sepak bola negara itu.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 29 Agustus 2026, 07:00 WIB
Raja Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV dari Kerajaan Tooro, Uganda. (Dok. AP Photo/Marc Hofer)

Liputan6.com, Kampala - Raja Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV dari Kerajaan Tooro, Uganda, meninggal dunia pada usia 34 tahun. Ia dikenal sebagai pemegang rekor raja termuda di dunia.

Oyo menjadi Raja Tooro di Uganda bagian barat ketika baru berusia tiga tahun pada 1995, setelah ayahnya meninggal.

Kerajaan Tooro tidak mengungkap penyebab kematian Raja Oyo. Namun, seorang menteri Uganda yang dikutip media lokal mengatakan sang raja sempat sakit kritis dan menjalani pengobatan di Amerika Serikat.

Uganda menjalankan pemerintahan yang dipimpin presiden dan parlemen hasil pemilu. Meski demikian, negara itu masih memiliki sejumlah kerajaan tradisional yang mempunyai pengaruh kuat dalam kehidupan budaya masyarakat, meski tidak memegang kekuasaan politik.

Guinness World Records mencatat Oyo sebagai penguasa monarki termuda di dunia yang masih bertakhta. Ia memimpin lebih dari dua juta masyarakat Tooro dan merupakan raja ke-13 dari kerajaan yang berdiri pada awal Abad ke-19 tersebut.

Perdana Menteri Kerajaan Tooro Calvin Armstrong Rwomiire Akiiki, saat mengumumkan kematian Oyo, menyebut kepergian sang raja pada Kamis (27/8/2026) sebagai "kehilangan yang tak ternilai" bagi keluarga kerajaan dan masyarakat Tooro.

"Saya menyerukan kepada seluruh masyarakat Tooro untuk tetap bersatu, tenang, dan terus berdoa dalam masa yang sangat sulit ini," kata Akiiki pada Jumat (28/8), seperti dilaporkan BBC.

"Semoga Yang Mulia Raja beristirahat dalam damai abadi."

 

Duka atas Kepergian Raja Oyo

Kerajaan Tooro menerapkan sistem turun-temurun dalam menentukan raja.

Oyo tidak pernah menikah secara resmi. Namun, Akiiki memastikan kelangsungan takhta Kerajaan Tooro tidak terancam.

"Yang Mulia meninggalkan seorang pangeran sebagai pewaris takhta. Identitasnya akan diumumkan secara resmi pada waktu yang tepat, sesuai dengan tradisi dan adat Kerajaan Tooro," tutur Akiiki.

Ketika Oyo naik takhta pada 1995, sebuah dewan perwalian yang antara lain beranggotakan ibu suri dibentuk untuk menjalankan urusan kerajaan hingga ia berusia 18 tahun. Setelah mencapai usia tersebut, Oyo menjalani penobatan resmi.

Oyo dikenal sebagai raja yang dihormati masyarakatnya. Menurut laporan surat kabar Daily Monitor, ia aktif mendorong berbagai kegiatan di bidang pemberdayaan pemuda, pendidikan, pelestarian lingkungan, serta peningkatan kesadaran tentang HIV/AIDS.

Buganda, kerajaan tradisional terbesar dan paling berpengaruh di Uganda, menyatakan turut berduka bersama masyarakat Tooro atas meninggalnya Raja Oyo. Kerajaan Buganda menyebut Oyo sebagai sosok penting bagi Uganda.

Kerajaan Rwenzururu, menurut laporan media lokal, juga menyampaikan belasungkawa kepada "semua pihak yang berduka atas kehilangan besar ini".

Ucapan duka dan penghormatan pun datang dari berbagai kalangan.

Federasi Sepak Bola Uganda mengenang Raja Oyo sebagai "sahabat sejati sepak bola". Mereka mengumumkan bahwa seluruh pertandingan hingga 4 September akan diawali dengan mengheningkan cipta untuk mengenang "warisan, kecintaan, semangat, dan kontribusinya" terhadap olahraga tersebut.

Menteri Uganda Margaret Muhanga menggambarkan suasana di Kerajaan Tooro sangat muram.

"Anda tidak akan melihat seorang pun tersenyum," ujarnya.

Dalam video yang dibagikan melalui media sosial, Muhanga mengatakan Raja Oyo meninggal ketika masih berada di masa terbaik dalam hidupnya.

"Meski masih muda, ia telah memberikan dampak besar bagi kerajaannya," sebut Muhanga.

Muhanga mengatakan satu juta pohon akan ditanam untuk mengenang Raja Oyo selama masa berkabung. Ia mengajak distrik-distrik di sekitar Tooro melakukan hal serupa.

Musisi Uganda Juliana Kanyomozi menyebut kematian Oyo sebagai "hari yang sangat kelam bagi Tooro" melalui unggahan di Instagram.

"Pergi terlalu cepat. Kehilangan yang luar biasa!!!!" tulisnya.

Sementara itu, penyanyi yang kemudian terjun ke politik, Bobi Wine, mendoakan agar jiwa Raja Oyo "beristirahat dalam damai abadi".

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya