Liputan6.com, Jakarta - Banjir bandang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026, menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan ribuan lainnya masih belum ditemukan. Bencana tersebut berdampak pada dua sisi perbatasan, termasuk wilayah Tibet di China.
Korban tidak hanya berasal dari masyarakat setempat, tapi juga warga asing yang berada di kawasan tersebut untuk bekerja, mengikuti perjalanan trekking, dan melakukan ziarah ke tempat suci.
Advertisement
Besarnya jumlah warga asing yang terdampak menjadi perhatian karena orang-orang dari lebih dari 30 negara dilaporkan belum ditemukan. Banyak dari mereka berada di wilayah Nepal dan Tibet untuk melakukan perjalanan wisata maupun kegiatan keagamaan.
Nepal mencatat jumlah korban meninggal mencapai 469 orang, sementara 977 orang masih dinyatakan hilang berdasarkan laporan otoritas penanggulangan bencana pada Jumat pagi (28/8/2026), melansir AP News.
Sebanyak 3.253 orang berhasil diselamatkan menggunakan helikopter. Lebih dari 150 korban luka telah dibawa ke rumah sakit di Kathmandu, serta di distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading. Data lokal menyebut korban hilang mencakup 113 wisatawan Nepal, 85 personel keamanan dari militer dan kepolisian, serta sejumlah warga dari wilayah Rasuwa dan Nuwakot.
Kondisi berbeda tercatat di sisi China. Media pemerintah melaporkan sedikitnya tiga orang meninggal dan 558 orang masih hilang di Kabupaten Gyirong, Tibet. Sebanyak 260 orang dari jumlah tersebut merupakan warga negara asing. Kementerian Luar Negeri China juga menyebut hampir 100 warga negaranya masih hilang di sisi Nepal.
Pencarian Berlanjut
India menjadi salah satu negara dengan jumlah warga yang belum berhasil ditemukan paling banyak. Kementerian Luar Negeri India menyatakan 288 warga negaranya masih belum dapat dihubungi setelah bencana melanda kawasan tersebut.
Sebanyak 73 orang diketahui bekerja dalam proyek pembangkit listrik, sedangkan warga lainnya berada di wilayah tersebut untuk melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash di Tibet.
Amerika Serikat juga melaporkan 90 warganya masih belum diketahui keberadaannya di Nepal dan China. Tiga warga Amerika telah berhasil diselamatkan. Pemerintah AS menyatakan belum menerima laporan mengenai warga negaranya yang meninggal akibat bencana tersebut.
Malaysia mencatat 51 warga masih hilang berdasarkan data Dewan Pariwisata Nepal. Ukraina melaporkan 55 orang belum ditemukan, termasuk sejumlah wisatawan yang bepergian dalam rombongan. Australia mencatat 39 warga hilang, sedangkan 33 warga Inggris masih belum ditemukan.
Kehilangan Kontak
Sejumlah negara lain juga melaporkan warganya belum ditemukan setelah banjir bandang menerjang kawasan Himalaya. Kanada melaporkan 25 orang hilang. Korea Selatan kehilangan kontak dengan sembilan warganya yang bekerja dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga air di Nepal.
Singapura, Jerman, dan Rusia masing-masing mencatat delapan warga yang masih hilang. Afrika Selatan dan Latvia melaporkan enam orang, sementara Jepang dan Selandia Baru masing-masing mencatat lima warga yang belum ditemukan.
Prancis melaporkan empat warga masih hilang. Belgia dan Spanyol masing-masing kehilangan kontak dengan tiga warganya. Italia, Kazakhstan, Portugal, Irlandia, dan Belanda mencatat dua warga yang belum ditemukan.
Belarus, Finlandia, Hungaria, Israel, Lithuania, Filipina, Bulgaria, Swiss, Serbia, dan Swedia masing-masing melaporkan satu warga masih hilang. Jumlah tersebut membuat daftar negara yang warganya terdampak mencapai lebih dari 30 negara.
Medan yang Sulit
Operasi pencarian korban terus berlangsung di kawasan Nepal dan Tibet setelah banjir bandang menerjang wilayah perbatasan kedua negara. Tim penyelamat menghadapi kondisi medan yang tidak mudah, terutama karena sejumlah lokasi terdampak berada di kawasan pegunungan. Kerusakan jalan dan infrastruktur turut membuat akses menuju beberapa titik menjadi terbatas.
Gangguan komunikasi menjadi persoalan lain dalam proses pencarian warga yang belum diketahui keberadaannya. Informasi mengenai kondisi korban perlu dikumpulkan dari berbagai pihak, termasuk otoritas setempat dan pemerintah negara asal warga asing yang terdampak.
Data korban masih mengalami pembaruan seiring berlangsungnya pencarian. Pemerintah Nepal dan China bersama perwakilan negara asing terus berupaya mencocokkan informasi mengenai warga yang belum berhasil ditemukan.