Liputan6.com, Jakarta - Perilaku bertransaksi lewat layanan PayLater akan segera ikut menentukan skor kredit. FICO, pengembang model penilaian kredit yang banyak dipakai lembaga keuangan, memastikan data pinjaman beli sekarang bayar nanti akan diperhitungkan mulai musim gugur 2025. Perubahan ini membuat jejak penggunaan PayLater berpengaruh langsung pada kelayakan kredit konsumen.
Selama bertahun-tahun, banyak penyedia PayLater tidak melaporkan aktivitas pembayaran ke biro kredit utama sehingga dampaknya ke skor kredit kerap minimal. Peralihan menuju pelaporan yang lebih komprehensif mengubah peta: kebiasaan mengelola cicilan digital akan kian terlihat oleh pemberi pinjaman.
Advertisement
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total pembiayaan PayLater mencapai Rp 29,59 triliun pada April 2020. Mayoritas penggunanya berasal dari generasi Milenial dan Gen Z. Pada saat yang sama, tingkat kredit macet PayLater meningkat dari 3,48% menjadi 3,78%.
FICO Akan Memasukkan Data PayLater Mulai 2025
FICO menyiapkan model terbaru yang memasukkan data transaksi PayLater, yakni FICO Score 10 BNPL dan FICO Score 10 T BNPL. Dengan pemutakhiran ini, pola pembayaran cicilan belanja daring akan menjadi bagian dari perhitungan skor.
Skor kredit menjadi rujukan utama lembaga pembiayaan untuk menilai permohonan kredit dan menetapkan syaratnya. Skor tinggi membuka peluang persetujuan untuk kebutuhan penting, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kendaraan, atau pembiayaan usaha, kerap disertai tawaran bunga yang lebih rendah.
Menurut Julie May, Wakil Presiden B2B Scores di FICO, pinjaman PayLater kini memainkan peran yang kian krusial dalam kehidupan finansial konsumen. Karena itu, model baru FICO dirancang untuk memberikan visibilitas yang lebih besar terhadap perilaku pembayaran konsumen.
Risiko Keterlambatan dan Efek ke SLIK
Keterlambatan membayar cicilan PayLater dapat tercatat dalam laporan kredit, termasuk Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) di Indonesia, dan menekan skor kredit. Rekam jejak seperti ini berpotensi menyulitkan pengajuan pembiayaan besar, misalnya KPR atau kredit kendaraan.
Selain menurunkan skor, telat bayar memicu denda dan bunga tambahan yang bisa membengkak dari waktu ke waktu. Kemudahan transaksi juga kerap mendorong belanja impulsif. Penelitian Universitas Islam Malang menunjukkan 63,9% perilaku konsumtif mahasiswa dipengaruhi oleh gaya hidup dan akses PayLater yang mudah.
Pemakaian PayLater untuk banyak pembelian tanpa perencanaan dapat menumpuk utang. Sebelumnya, utang PayLater kerap menjadi "blind spot" bagi penerbit kartu kredit karena tidak selalu terlihat saat menentukan plafon, sehingga berisiko memicu penawaran kredit melebihi kemampuan bayar.
Peringatan Ahli dan Angka Terbaru
Kekhawatiran atas penggunaan yang kurang terkontrol disuarakan sejumlah praktisi. Micah Smith, seorang ahli restorasi kredit, menilai edukasi konsumen memegang peran penting.
"Kekhawatiran saya adalah bahwa kecerobohan, kurangnya edukasi benar-benar akan menyebabkan banyak kerugian yang tidak perlu bagi orang-orang," kata Micah Smith.
Dari Better Business Bureau, John Zjac mengingatkan esensi PayLater sebagai bentuk pinjaman yang tetap harus dilunasi.
"Orang-orang perlu memahami bahwa mereka meminjam uang di masa depan yang harus mereka bayar kembali," ujar Zjac.
Adam Rust, direktur layanan keuangan di Consumer Federation of America, menyoroti bahwa tanpa pelaporan PayLater ke biro kredit, pemberi pinjaman berisiko menawarkan kredit lebih besar daripada kemampuan bayar peminjam. Gambaran ini selaras dengan temuan LendingTree pada 2025: 41% pengguna PayLater mengalami setidaknya satu keterlambatan pembayaran dalam setahun terakhir, naik dari 34% pada tahun sebelumnya.
Data Empower Personal DashboardTM juga mencatat peningkatan pengeluaran PayLater bulanan hampir 21% dari Juni 2024 hingga Juni 2025. Laju pemakaian yang naik berbarengan dengan tekanan pada ketepatan bayar memperkuat urgensi pengelolaan yang disiplin.
Kiat Menggunakan PayLater Secara Terkendali
Bayar tepat waktu. Selalu pastikan tagihan dilunasi sebelum jatuh tempo untuk menghindari denda, bunga tambahan, dan catatan negatif. Aktifkan pengingat atau fitur autodebet bila tersedia.
Gunakan untuk kebutuhan, bukan keinginan. Prioritaskan pengeluaran yang memang penting, bukan dorongan belanja impulsif untuk fesyen, gawai terbaru, atau liburan yang bisa ditunda.
Pahami kemampuan finansial. Idealnya, total cicilan PayLater berada di kisaran 30% hingga 40% dari penghasilan bulanan agar tidak membebani arus kas.
Batasi nilai pinjaman. Hindari memakai limit secara maksimal; sesuaikan pembelian dengan kebutuhan riil dan kemampuan bayar.
Buat anggaran belanja. Masukkan cicilan PayLater ke dalam bujet bulanan, catat transaksi, dan pantau total utang secara berkala.
Pahami syarat dan ketentuan. Baca dengan saksama bunga, biaya layanan, serta denda keterlambatan sebelum menyetujui transaksi.
Tingkatkan literasi keuangan. Terus edukasi diri mengenai pengelolaan keuangan pribadi dan risiko utang agar terhindar dari beban berlebihan.