Mengenang Yayoi Kusama lewat Warisan Karyanya, Pola Ikoniknya Sarat Makna

Daya tarik karya mendiang Yayoi Kusama tidak berhenti pada tampilan yang penuh warna.

oleh Nurri Indah KholillahDiterbitkan 27 Agustus 2026, 16:00 WIB
Proyeksi video karya "Song of a Manhattan Suicide Addict" oleh seniman Jepang Yayoi Kusama terlihat saat pratinjau media untuk pameran "I would overcome death and go on living" di Museum Yayoi Kusama, Tokyo, pada 16 Oktober 2024. (Philip FONG/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Yayoi Kusama, seniman avant-garde asal Jepang, meninggal dunia pada 14 Agustus 2026 di sebuah rumah sakit di Tokyo dalam usia 97 tahun. Kabar duka tersebut baru diumumkan oleh studio sang seniman pada Kamis (27/8/ 2026).

Mengawali karier pada akhir 1950-an, Kusama berkembang menjadi salah satu seniman Jepang paling dikenal di dunia. Namanya lekat dengan pola polka dot, Infinity Nets, labu, serta instalasi Infinity Mirror Rooms yang menawarkan pengalaman visual imersif dan penuh repetisi.

Namun, daya tarik karya Kusama tidak berhenti pada tampilan yang penuh warna. Di balik pola dan pengulangan yang menjadi ciri khasnya, tersimpan gagasan tentang kehidupan, alam semesta, pengalaman personal, serta hubungan manusia dengan ruang di sekitarnya.

Melansir MyArtBroker, Kamis (27/8/2026), polka dot dalam karya Kusama dapat merepresentasikan bagian-bagian kecil dari alam semesta yang tidak memiliki batas. Gagasan mengenai ketidakterbatasan itu kemudian berkembang melalui Infinity Mirror Rooms, sementara Obliteration Room mengeksplorasi hilangnya batas antara individu dan lingkungan di sekitarnya.

Pemikiran tersebut membuat karya Kusama terasa dekat dengan pengalaman manusia, meski disampaikan melalui bahasa visual yang unik. Pengunjung tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tapi diajak masuk dan berinteraksi langsung dengan instalasi.

Dalam proses itu, batas antara karya dan penikmat seni pun menjadi semakin samar. Pengalaman berada di dalam ruang, dikelilingi pola, cahaya, dan refleksi, memungkinkan setiap orang merasakan karya Kusama dengan cara yang personal. Inilah yang membuat seninya terus menarik perhatian publik lintas generasi dan budaya.

Ruang Reflektif

Datang dan ramaikan pameran di Museum MACAN dengan melihat kembali karya fenomenal dari Yayoi Kusama. (Foto dok: Museum MACAN).

EksplorasiKusama terhadap konsep ketidakterbatasan mulai terlihat pada 1965 melalui Infinity Mirror Room—Phalli’s Field. Instalasi ini mengembangkan pola khas Kusama menjadi pengalaman imersif dengan memanfaatkan cermin dan cahaya untuk menciptakan pantulan berulang, serta ilusi ruang tanpa batas.

Pengunjung pun tidak sekadar menjadi penonton, tapi turut menjadi bagian dari karya. Di balik pengalaman visual tersebut, Infinity Mirror Rooms menyimpan gagasan tentang kehidupan, kefanaan, dan kematian yang berkaitan dengan pengalaman masa kecil Kusama.

Pemikiran itu kemudian beririsan dengan konsep self-obliteration, yakni gagasan tentang meleburkan diri ke dalam lingkungan yang berulang kali muncul dalam karyanya. Popularitas pendekatan tersebut terlihat saat pameran Infinity Mirrors di Hirshhorn berlangsung selama tiga bulan.

Hampir 160.000 pengunjung datang untuk menyaksikan karya-karya Kusama. Antusiasme ini memperlihatkan kemampuannya menghadirkan seni interaktif yang membuat publik tidak hanya melihat, tetapi mengalami langsung karya di dalam ruang.

Terlibat Langsung

The Obliteration Room, karya Yayoi Kusama Ramai Pengunjung. (Liputan6/Vinsensia Dianawanti)

Obliteration Room karyaKusama mengajak publik terlibat langsung dalam proses penciptaan seni. Instalasi ini bermula sebagai ruangan serba putih, lengkap dengan furnitur berwarna senada. Pengunjung kemudian menerima stiker berbentuk titik dalam beragam warna untuk ditempelkan secara bebas di dinding, furnitur, dan berbagai permukaan di dalamnya.

Pertama kali dipresentasikan di Queensland Art Gallery pada 2002, ruang tersebut perlahan berubah dari lingkungan putih yang kosong menjadi permukaan penuh titik warna-warni. Setiap stiker yang ditempel menjadi bagian dari transformasi karya, membuat hasil akhirnya terbentuk melalui partisipasi pengunjung, bukan semata-mata keputusan Kusama.

Seiring popularitasnya, konsep Obliteration Room kemudian dipresentasikan di berbagai institusi seni dunia, termasuk Tate Modern dan Hirshhorn Museum. Melalui karya ini, Kusama menghadirkan pengalaman seni yang partisipatif, sekaligus mengaburkan batas antara seniman, karya, ruang, dan penikmatnya.

Bernostalgia pada Bentuk Labu

Salah satu Labu Raksasa karya Yayoi Kusama di pulau Naoshima | unsplash.com/@rena07

Labu menjadi salah satu motif paling ikonik dalam karyaKusama. Ketertarikannya terhadap objek tersebut telah tumbuh sejak masa kecil dan kemudian berkembang menjadi bagian penting dari bahasa visualnya. Bagi Kusama, bentuk labu menjadi medium untuk menuangkan sekaligus mengendalikan gambaran yang muncul dalam pikirannya.

Lebih dari sekadar objek, labu merepresentasikan kenyamanan, nostalgia, pertumbuhan, dan kegembiraan dalam kehidupan. Bentuknya yang sederhana, dipadukan dengan warna cerah dan tekstur khas, membuatnya mudah dikenali dalam berbagai karya sang seniman.

Motif ini kemudian hadir dalam beragam bentuk, mulai dari patung hingga instalasi berskala besar. Pada 1991, Kusama menciptakan Mirror Room (Pumpkin), yang memadukan labu dengan ruang bercermin sehingga menghasilkan ilusi pengulangan tanpa batas.

Sementara itu, patung Pumpkin yang dibuat pada 1994 menampilkan labu berukuran besar berwarna kuning dengan pola titik hitam yang menjadi ciri khasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya