Yayoi Kusama Meninggal Dunia, Selamat Jalan Ratu Polka Dot Dunia

Yayoi Kusama, seniman polka dot dan cermin tanpa akhir yang mendunia, meninggal dunia di usia 97 tahun.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 27 Agustus 2026, 09:45 WIB
Pameran seniman Yayoi Kusama di M+ Museum Hong Kong pada 2023. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Jakarta - Yayoi Kusama, seniman avant-garde asal Jepang yang dikenal luas lewat pola polka dot berulang, patung labu, dan instalasi cermin yang memukau, meninggal dunia akibat gagal organ multipel di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026.

Yayasan yang didirikan untuk mendukung karyanya mengumumkan kabar tersebut pada Kamis (27/8/2026), lapor Kyodo News. Kusama meninggal di usia 97 tahun.

Kariernya membentang lebih dari enam dekade, menjadikannya salah satu pelopor seni kontemporer dunia. Ia tergolong seniman paling populer sekaligus sukses secara komersial.

Pameran-pameran karyanya selalu menyedot kerumunan pengunjung di berbagai negara, sementara lukisannya kerap terjual di balai lelang seharga jutaan dolar per karya. Rekam jejak panjang ini menempatkan Kusama sejajar dengan sedikit seniman lain yang berhasil mempertahankan relevansi karya selama puluhan tahun tanpa henti.

Kusama lahir di Prefektur Nagano, Jepang tengah, dan mulai mengalami halusinasi sejak usia muda. Pengalaman itu kelak menjadi materi karyanya sendiri, sebuah cara baginya mengatasi rasa takut yang membayangi masa kecilnya, melansir The Strait Times.

Detail biografis ini jarang terungkap luas ke publik, meski menjadi akar dari seluruh motif polka dot yang kemudian menjadi identitas seninya. Bayangan visual yang muncul dari halusinasi tersebut lambat laun bertransformasi menjadi bahasa artistik yang justru membuat Kusama dikenal luas di seluruh dunia.

Perjalanan kariernya berlanjut setelah ia menempuh pendidikan lukis di sebuah sekolah seni di Kyoto, sebelum pindah ke Amerika Serikat pada 1957. Kusama akhirnya menetap di New York, tempat ia merilis lukisan-lukisan berukuran besar dan soft sculptures, sekaligus menggelar festival body painting dan pertunjukan mode.

Ragam Karya Ikonik

Seorang fotografer mengambil foto instalasi seni berjudul 'The spirit of the pumpkins descended into the heavens' (2015) karya seniman kontemporer Jepang Yayoi Kusama dalam pameran Yayoi Kusama: A Retrospective di Atrium Martin Gropius Bau, Berlin, Jerman, Selasa (19/5/2021). (John MACDOUGALL/AFP)

Sebagian dari pertunjukan tersebut menjadi bentuk protes terhadap Perang Vietnam dan berbagai isu sosial pada masanya. Adegan-adegan flamboyan yang ia ciptakan di jalanan New York kala itu turut membentuk citra publiknya sebagai seniman yang berani menabrak norma seni konvensional.

Kusama kembali ke Jepang pada 1973, meninggalkan hiruk pikuk seni New York yang sempat membesarkan namanya. Dalam beberapa tahun terakhir, karya instalasi "Infinity Mirror Rooms" miliknya justru meraih popularitas baru secara global lewat Instagram.

Instalasi imersif itu memungkinkan pengunjung mengalami refleksi diri tanpa akhir di antara pantulan cermin dan cahaya, sebuah pengalaman visual yang terbukti sangat cocok dengan budaya berbagi foto di era media sosial.

 

Gaya Nyentrik

Louis Vuitton x Yayoi Kusama Drop 2 telah dirilis sejak 31 Maret 2023 [Louis Vuitton]

Kusama membuka museum pribadinya sendiri pada 2017, berlokasi di lingkungan dekat kediamannya di Shinjuku, Tokyo. Museum tersebut menjadi ruang permanen bagi publik untuk menyaksikan rangkaian karyanya tanpa harus menunggu pameran keliling di berbagai negara.

Kehadiran museum ini juga menegaskan posisi Kusama sebagai salah satu dari sedikit seniman yang sempat menyaksikan sendiri karyanya diabadikan dalam institusi permanen semasa hidupnya.

Sosok Kusama identik dengan penampilan khasnya, sering terlihat mengenakan wig berwarna-warni dan busana mencolok bermotif polka dot yang menjadi ciri khas seninya. Penampilan tersebut turut menjadikannya salah satu seniman kontemporer yang paling mudah dikenali secara visual, terlepas dari kompleksitas karya yang ia hasilkan.

 

Warisan Kusama

Pameran tunggal Yayoi Kusama di M+ Museum, West Kowloon Cultural District, Hong Kong. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Ia masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah TIME pada 2016, sebuah pengakuan atas pengaruh besarnya terhadap lanskap seni kontemporer global. Pemerintah Jepang menganugerahinya Order of the Rising Sun, Gold Rays with Rosette pada 2006, penghargaan yang menegaskan posisinya sebagai salah satu seniman paling dihormati negara asalnya.

Warisan Kusama kini tersebar di berbagai museum dan koleksi pribadi di seluruh dunia, dari lukisan kanvas awal hingga instalasi cermin raksasa yang menjadi favorit generasi baru penikmat seni lewat media sosial.

Perjalanan panjangnya dari seorang anak yang bergulat dengan halusinasi masa kecil hingga menjadi salah satu seniman paling berpengaruh di dunia menjadikan kisah hidupnya sebanding dengan kekayaan karya yang ia tinggalkan.

Kepergiannya menandai berakhirnya salah satu babak paling berpengaruh dalam sejarah seni kontemporer Jepang, sekaligus menyisakan warisan visual yang akan terus dikenang lintas generasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya