Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat adanya kenaikan penggunaan BBM Pertalite setelah harga jual Pertamax naik. Rentang harga yang cukup lebar antara BBM nonsubsidi dan subsidi dinilai menjadi alasan masyarakat beralih.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyampaikan bahwa fluktuasi harga BBM nonsubsidi seri Pertamax mendongkrak konsumsi Pertalite. Hal serupa terjadi pada bahan bakar diesel, yakni seri Dex dan Biosolar.
Advertisement
"Walaupun di akhir bulan Agustus ini harga untuk kategori Pertamax termasuk Dex series terjadi penurunan, namun disparitas harganya masih cukup lebar, cukup tinggi, dan masyarakat banyak melakukan shifting penggunanya kepada BBM subsidi dan kompensasi negara," kata Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR, dikutip Kamis (27/8/2026).
Ia menerangkan tren kenaikan terlihat sejak penyesuaian harga BBM nonsubsidi seri Pertamax pada 10 Juni 2026 lalu. Saat itu, harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter, Pertamax Green menjadi Rp 17.000 per liter, dan Pertamax Turbo menjadi Rp 20.750 per liter.
Sementara itu, harga Pertalite tetap sebesar Rp 10.000 per liter.
Setelah penyesuaian tersebut, terjadi kenaikan penggunaan Pertalite rata-rata 9,19 persen pada Juni 2026 atau sebanyak 82.760 kiloliter (KL) per hari dari sebelumnya 75.795 KL.
Pada Juli 2026, kenaikan mencapai 12,92 persen atau sebanyak 85.589 KL per hari dibandingkan sebelum kenaikan harga seri Pertamax. Pada periode tersebut, sempat terjadi penurunan harga Pertamax Turbo menjadi Rp 19.300 per liter.
Pada Agustus 2026, konsumsi Pertalite masih mencatatkan kenaikan rata-rata 11,31 persen menjadi 84.368 KL per hari. Pada periode yang sama, harga Pertamax turun menjadi Rp 15.950 per liter, Pertamax Green menjadi Rp 16.600 per liter, dan Pertamax Turbo menjadi Rp 18.300 per liter.
"Konsumsi Pertalite ini cukup lumayan naik pasca adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo," beber dia.
Konsumsi Pertalite Melebihi Alokasi
Wahyudi mencatat sejumlah wilayah mengalami konsumsi Pertalite yang melebihi alokasi penetapan, meliputi kawasan Sumatera, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku dan Papua.
Meski demikian, ia menjamin tren penyaluran Pertalite saat ini masih dalam kondisi aman.
"Posisi di sebagian provinsi tersebut memang mengalami kenaikan, namun kaitannya dengan alokasi yang telah diberikan, insyaallah masih cukup untuk disalurkan kepada masyarakat," tutur Wahyudi.
Kuota LPG Subsidi Jebol
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mencatat konsumsi liquefied petroleum gas (LPG) bersubsidi 3 kilogram (kg) kerap melebihi kuota penetapan pemerintah. Oleh karena itu, skema pembatasan LPG 3 kg kini sedang digodok oleh pemerintah.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa konsumsi LPG subsidi selalu melampaui kuota setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Pemerintah pun konsisten mengubah besaran kuota dan menetapkan volume yang lebih tinggi dari kuota awal.
"Kami lanjutkan ke bagian kuota LPG. Kita ketahui bahwa memang dari tahun ke tahun sesungguhnya konsumsi LPG ini terus meningkat," kata Laode dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII, Rabu (26/8/2026).
Rincian Penyaluran LPG Subsidi
Pada 2023, pemerintah menetapkan kuota awal 8,0 juta metric ton (MT), yang kemudian diubah menjadi 8,1 juta MT dengan realisasi mencapai 8,04 juta MT. Pada 2024, kuota awal 8,03 juta MT disesuaikan menjadi 8,29 juta MT dengan realisasi 8,23 juta MT. Sementara pada 2025, kuota awal 8,17 juta MT diubah menjadi 8,55 juta MT dengan realisasi 8,52 juta MT.
Dilihat dari patokan kuota awal, terjadi peningkatan saban tahun sepanjang 2023–2025. Laode bahkan mencatat prognosa konsumsi LPG subsidi 3 kg menembus 8,67 juta MT pada 2026, atau mencapai 108,46 persen dari kuota Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Secara umum konsumsi LPG kita dari tahun ke tahun memang terus meningkat. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengurangi beban dari meningkatnya konsumsi LPG ini," pungkasnya.