Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memang membuat kemajuan pesat dalam menghasilkan kalimat yang mirip seperti buatan manusia. Namun, dalam hal penalaran dan produktivitas, AI masih kalah dibanding bayi.
Berdasarkan laporan MIT Technology Review, bayi merupakan pembelajar bahasa manusia terbaik. Demikian sebagaimana dikutip dari Futurism, Jumat (28/8/2026).
Advertisement
Menurut Ilmuwan
Michael C. Frank, seorang ilmuwan kognitif di Universitas Stanford, menyatakan kemajuan AI saat ini memang luar biasa, tetapi membutuhkan sumber daya yang sangat besar.
“Kita harus menghabiskan sumber daya dalam jumlah besar hanya untuk menciptakan kembali pencapaian manusia yang terjadi secara alami di ruang tamu rumah kita dalam setahun,” ujar Frank kepada MIT.
Bayi mampu menyerap aturan bahasa dan kosakata dengan cepat layaknya spons kecil. Balita biasanya mulai bisa merangkai kalimat jelas setelah mendengar sekitar 10 hingga 30 juta kata dari lingkungan sekitar.
Sementara Large Language Models (LLM) membutuhkan data bahasa secara masif untuk mencapai tingkat kepintaran tersebut, jauh melampaui yang dibutuhkan manusia.
Nasib AI Menurut Ahli
“Jika melatih GPT-2 dengan 30 juta kata, hasilnya hanyalah mesin penghasil omong kosong, bukan kemampuan anak kecil,” kata Frank menegaskan.
Bagi industri AI, hal ini menjadi tantangan besar yang akan sulit diselesaikan. Banyak ahli meragukan ambisi perusahaan AI untuk menciptakan kecerdasan setingkat manusia hanya dengan terus memperbesar skala model bahasa.