Aida S Budiman Mau Bawa Bank Indonesia Jadi Juara di Negara Berkembang

Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S.Budiman menuturkan, Bank Indonesia juga harus tetap relevan dengan kebutuhan ekonomi nasional.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 26 Agustus 2026, 19:32 WIB
Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Aida S Budiman.

Liputan6.com, Jakarta - Aida S Budiman berencana membawa Bank Indonesia (BI) menjadi bank sentral yang terbaik di antara negara berkembang. Sederet strategi disusun oleh Calon Deputi Gubernur Senior BI tersebut.

Visi tersebut dibawa Aida saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test sebagai Calon Deputi Gubernu Senior BI bersama Komisi XI DPR. Aida mendorong BI jadi bank sentral terbaik yang mendorong ekonomi nasional.

"Visinya masih tetap, yaitu menjadi bank sentral terbaik di emerging economist, dan berkontribusi positif pada perekonomian nasional dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif," kata Aida dalam fit and proper test bersama Komisi XI DPR, Rabu (26/8/2026).

Bukan tanpa alasan, bank sentral terbaik menurut dia mampu menjalankan kebijakan yang sejalan dengan praktik terbaik dari bank sentral lainnya maupun teori. Alhasil, kebijakan yang diambil BI tetap kredibel di ranah bank sentral.

"Tetapi, harus tetap relevan dengan kebutuhan perekonomian nasional dan kebutuhan NKRI, sehingga harus berkontribusi positif. Bagaimana kita bisa melakukannya dengan bank sentral yang adaptif, inovatif, dan akseleratif," jelas dia.

Deputi Gubernur BI ini menerangkan, BI perlu menjadi adaptif dengan infrastruktur yang dimiliki pemerintah, bukan sebatas fiskal di Kementerian Keuangan, tapi ada badan pengelola investasi Danantara. Sehingga lingkup koordinasinya menjadi lebih luas.

QRIS Jadi Inovasi BI

Aida mengisahkan kesuksesan QR Indonesia Standar (QRIS) sebagai produk inovatif yang terbukti berhasil. Ini sejalan dengan upaya BI sebagai bank sentral yang mampu merespons perkembangan.

"Inovatif, responsnya harus tepat, bahkan kalau perlu dua langkah di depannya. Sebagai contoh, QRIS itu dikeluarkan pada Agustus 2019, dan ini menolong kita dari Covid yang tidak bisa melakukan interaksi pada saat melakukan transaksi," ungkapnya.

"Akselerasi, pada saat kita mempunyai target dan milestone-nya sudah jelas, maka itu harus diakselerasi percepatannya termasuk strategi pelaksanaannya," imbuh Aida.

Profil Aida S Budiman, Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Usulan Prabowo

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman dalam konferensi pers pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2024 di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Rabu (22/5/2024). (Tira/Liputan6.com)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengajukan nama Aida S Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI). Sosok ekonom senior Bank Indonesia ini memiliki pengalaman panjang di bidang kebijakan moneter, hubungan internasional, hingga koordinasi bauran kebijakan nasional dan internasional.

Ketua DPR RI Puan Maharani mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengirimkan Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI terkait pengisian sejumlah posisi strategis di Bank Indonesia.

“Kemarin Pak Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara) sudah mengirimkan surat kepada pimpinan DPR dari Presiden yang disampaikan oleh Mensesneg kepada pimpinan DPR,” kata Puan di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Menurut Puan, pemerintah mengusulkan Aida S Budiman untuk mengisi jabatan Deputi Gubernur Senior BI.

Aida S Budiman lahir di Bogor pada 1965. Ia menempuh pendidikan Sosial Ekonomi Pertanian Agribisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lulus pada 1987.

Setelah itu, Aida melanjutkan studi ke University of Southern California dan meraih gelar Master of Arts in Economics pada 1996. Pendidikan doktoralnya ditempuh di Claremont Graduate University, Amerika Serikat, dan berhasil meraih gelar Ph.D di bidang Ekonomi pada 2001.

Latar belakang pendidikan tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan kariernya yang banyak berkaitan dengan perumusan kebijakan moneter dan ekonomi makro.

Berkarier di Bank Indonesia Sejak 1991

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman dalam konferensi pers pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2024 di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Rabu (22/5/2024). (Tira/Liputan6.com)

Selama lebih dari tiga dekade berkarier di BI, ia menempati berbagai posisi strategis, terutama di bidang kebijakan ekonomi dan moneter.

Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya di Bank Indonesia antara lain:

Kepala Departemen Internasional (2014–2018)

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (2018)

Asisten Gubernur membawahi Kebijakan Strategis Sektor Moneter, Bauran Kebijakan Bank Indonesia, dan Sinergi dengan Bauran Kebijakan Nasional (2020–2022)

Aida kemudian resmi menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 147/P Tahun 2021 tanggal 24 Desember 2021.

Ia mengucapkan sumpah jabatan pada 6 Januari 2022 dengan masa jabatan hingga 2027

 

Pernah Mewakili 13 Negara di IMF

Selain pengalaman di dalam negeri, Aida juga memiliki rekam jejak internasional yang cukup kuat.

Dikutip dari laman LPS, pada 2010–2012, ia menjabat sebagai Wakil Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) pada South East Asia Voting Group (SEAVG) Office yang mewakili 13 negara anggota.

Dalam posisi tersebut, Aida banyak menangani isu pengelolaan arus modal (capital flows management) dan implikasinya bagi negara-negara berkembang.

Ia juga kerap mewakili Bank Indonesia dalam berbagai working group internasional, baik pada forum bilateral, regional, maupun multilateral.

Terlibat dalam Strategi Nasional dan Financial Safety Net

Di tingkat nasional, Aida tercatat terlibat dalam sejumlah penyusunan kebijakan strategis, antara lain:

  • Strategi nasional pengembangan sektor industri dan pariwisata,
  • Pengembangan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF),
  • Financial Safety Net,
  • Penggunaan mata uang regional, serta
  • Strategi peningkatan peringkat (rating) Indonesia.

Saat ini Aida juga menjabat sebagai Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) secara ex-officio.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya