Liputan6.com, Jakarta - Suasana haru menyelimuti Rumah Sakit Urip Sumoharjo, Bandar Lampung. Auri (65), ayah Brigpol Ariyadi (30), hanya bisa terduduk lemas di kursi rumah sakit sambil menunggu putranya siuman setelah mengalami luka tembak dalam baku tembak dengan buronan kasus narkoba sekaligus penjual senjata api di Lampung Utara.
Ariyadi masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU Rumah Sakit Urip Sumoharjo, Selasa (25/8/2026).
Advertisement
Ariyadi merupakan satu dari tiga anggota Polres Lampung Utara yang terluka saat melakukan penindakan terhadap Popi Handika Purba (30), seorang buronan kasus narkoba yang melakukan perlawanan menggunakan senjata api rakitan.
Sambil menunggu kondisi anaknya membaik, Auri menceritakan detik-detik dirinya menerima kabar bahwa sang anak menjadi korban penembakan.
Kabar itu diterima Auri melalui telepon langsung dari Ariyadi pukul 04.30 WIB. Saat itu, Auri yang tinggal di Desa Simuljaya sedang berada di lokasi berbeda.
"Anak saya telepon subuh-subuh sekitar jam setengah lima pagi. Dia mengabarkan kalau ada keributan dan dia kena tembak," ujar Auri di Rumah Sakit Urip Sumoharjo, Selasa (25/8/2026).
Mendengar kabar tersebut, Auri langsung bergegas pulang untuk menyiapkan pakaian sebelum menyusul Ariyadi ke Rumah Sakit Handayani.
Setibanya di rumah sakit, Ariyadi telah mendapatkan penanganan medis. Namun, karena membutuhkan perawatan lebih lanjut, Ariyadi kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Urip Sumoharjo, Bandar Lampung.
Sekitar pukul 05.30 hingga 06.00 WIB, Ariyadi diberangkatkan menggunakan ambulans. Rombongan kemudian tiba di Rumah Sakit Urip Sumoharjo sekitar pukul 07.30 hingga 08.00 WIB.
Setibanya di rumah sakit, Ariyadi langsung ditangani tim medis dan menjalani operasi sebelum akhirnya dipindahkan ke ruang ICU.
"Di sini langsung ditangani dan masuk ruang operasi. Selesai operasi, dipindahkan sebentar ke ruang pemulihan pembiusan, lalu dibawa ke ruang ICU," tutur Auri.
Auri bersama keluarga belum dapat melihat langsung kondisi luka yang dialami Ariyadi. Akses tersebut dibatasi selama proses tindakan medis dan perawatan berlangsung.
"Dari awal masuk operasi sampai ke ICU, kami orang tua tidak bisa melihat kondisinya secara langsung," ujarnya.
Ariyadi merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Dia menikah dengan Febrina (25) dan dikaruniai seorang anak.
Di tengah kecemasan menunggu kondisi putranya, Auri memilih tidak banyak membahas proses hukum terkait insiden penembakan tersebut. Dia menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara kepada kepolisian.
Bagi Auri, saat ini yang terpenting adalah keselamatan dan kesembuhan anaknya.
"Harapan utama saya yang penting anak saya bisa sehat dan sembuh kembali. Kalau masalah hukum, saya tidak begitu mengerti, jadi saya serahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang yang menjalankan prosesnya," pungkasnya.
Tiga Polisi Terluka
Sebelumnya, tiga anggota Polres Lampung Utara terluka dalam baku tembak saat hendak menangkap Popi Handika Purba. Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Muara Jaya, Kelurahan Kotabumi Udik, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara, Selasa (25/8/2026) dini hari.
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun, mengatakan polisi bergerak setelah mendapat informasi mengenai keberadaan Popi.
Namun, saat hendak diamankan, Popi melakukan perlawanan dengan menembakkan senjata api ke arah petugas.
"Setelah menerima informasi keberadaan DPO inisial PHP, petugas menuju lokasi. Namun, dalam proses pengamanan, pelaku melakukan perlawanan dan menembakkan senjata api ke arah petugas," kata Yuni.
Akibat baku tembak tersebut, tiga polisi mengalami luka. Aipda Adizar terkena tembakan di kaki kanan, Brigpol Ariyadi mengalami luka tembak di bagian perut, sedangkan Aipda Adi Agus Candra mengalami luka gores pada pelipis.
Ketiganya sempat mendapat perawatan di RS Handayani. Ariyadi kemudian dirujuk ke RS Urip Sumoharjo karena membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Sementara itu, Popi Handika Purba meninggal dunia di lokasi kejadian. Polisi menduga pria tersebut juga berkaitan dengan peredaran senjata api ilegal di Lampung Utara.
Dari lokasi kejadian, polisi mengamankan satu pucuk senjata api jenis revolver rakitan berwarna chrome dengan gagang cokelat, dua butir amunisi kaliber 9 milimeter, serta tiga selongsong peluru.
Polisi masih mendalami kasus tersebut, termasuk menelusuri kemungkinan adanya jaringan lain yang terlibat dalam kepemilikan dan peredaran senjata api ilegal.
Keluarga Popi disebut menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah. Meski demikian, penyidik tetap melanjutkan proses penyelidikan untuk mengungkap asal-usul senjata api yang digunakan dalam insiden tersebut.
Polisi juga meningkatkan patroli dan kewaspadaan di sekitar lokasi kejadian guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan pascabaku tembak.