TKI Sukabumi Kritis di Arab Saudi, Butuh Biaya Pulang Rp 113 Juta

Pihak majikan tempatnya bekerja menolak menanggung biaya pemulangan sebesar 27.000 riyal atau sekitar Rp 113 juta.

oleh Fira SyahrinDiterbitkan 25 Agustus 2026, 20:31 WIB
Pekerja Migran asal Sukabumi kritis tertahan di Arab Saudi. (Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Sukabumi, Gopar (46), terancam tidak bisa dipulangkan ke tanah air meski kondisinya kritis. Pihak majikan tempatnya bekerja menolak menanggung biaya pemulangan sebesar 27.000 riyal atau sekitar Rp 113 juta.

Warga Kampung Cibolang Kidul, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat ini sudah satu tahun terbaring tidak berdaya di Rumah Sakit Aster Sanad, Riyadh, Arab Saudi. Gopar mengalami komplikasi setelah operasi kanker otak dan hipertensi hingga lumpuh total.

Rekan sesama PMI di Arab Saudi, Yusup Saepulloh menuturkan, kondisi fisik Gopar saat ini sudah tidak memungkinkan untuk beraktivitas.

"Awalnya Pak Gopar kena darah tinggi, lalu ada kanker otak dan dioperasi. Sekarang kakinya sudah tidak bisa berjalan dan tidak ada pergerakan sama sekali," kata Yusup, Selasa (25/8/2026).

Yusup menjelaskan, proses kepulangan Gopar membentur tembok tebal karena majikan enggan bertanggung jawab atas ongkos transportasi medis menuju Indonesia.

"Saya sudah lobi pihak KBRI, tapi majikan tetap tidak ada kesanggupan memberikan ongkos kepulangan dengan alasan terlalu mahal, 27.000 riyal," ujar Yusup.

Selain masalah pemulangan, Gopar diduga mengalami penelantaran hak selama bekerja sebagai sopir pribadi. Gajinya sebesar 1.600 riyal per bulan sering dipotong secara sepihak untuk biaya pemeliharaan kendaraan.

"Kalau pecah ban atau mobil rusak, gajinya dipotong. Pembayaran gaji 1.600 riyal itu juga sering terlambat sampai akhir bulan," kata Yusup.

Pekerja Migran asal Sukabumi kritis tertahan di Arab Saudi. (Istimewa).

Sementara itu, istri Gopar, Isoh (44), yang bekerja pada majikan yang sama, tidak diberikan akses penuh untuk merawat suaminya karena dituntut terus bekerja merawat lansia.

"Istrinya disuruh majikannya fokus merawat lansia. Saya miris, tidak ada kebijakan dari majikan untuk merawat suaminya yang terbaring sakit selama satu tahun," tambah Yusup.

Pihak keluarga kini sangat berharap Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI Riyadh untuk segera mengambil langkah diplomatik guna membebaskan dan memulangkan Gopar ke Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya