Korban Tewas Imbas Gelombang Panas di Eropa Tembus 35.000 Orang

Korban tewas akibat gelombang panas ekstrem di Eropa mencapai lebih dari 35.000 orang, angka sementara yang diperkirakan akan terus meningkat.

oleh Septian DenyDiterbitkan 25 Agustus 2026, 16:30 WIB
Orang-orang melindungi diri dari terik matahari dengan payung di dekat Koloseum selama gelombang panas awal musim di Roma. (Tiziana FABI/AFP)

Liputan6.com, Berlin - Sedikitnya 35.000 orang lebih banyak meninggal selama empat gelombang panas berturut-turut yang memecahkan rekor di Eropa musim panas ini dibandingkan jumlah kematian yang biasanya diperkirakan terjadi.

Angka tersebut masih bersifat sementara karena baru mencakup data dari sedikitnya separuh wilayah benua Eropa. Para ahli memperkirakan jumlah korban akan meningkat signifikan setelah data kematian pada Agustus selesai dihimpun dan dianalisis.

Di tiga negara besar Uni Eropa, yakni Jerman, Prancis, dan Spanyol, jumlah kematian berlebih sementara sudah melampaui 25.000 orang.

Gelombang panas berturut-turut melanda Eropa Barat sejak Mei. Suhu ekstrem memecahkan rekor historis di ratusan stasiun cuaca. Prancis bahkan mencatat hari dengan suhu rata-rata nasional terpanas sepanjang sejarah pencatatan.

Di Jerman, rekor suhu pecah selama tiga hari berturut-turut pada akhir Juni. Sebanyak 46 stasiun cuaca mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius. Sementara itu, Spanyol mengalami suhu tinggi yang terus bertahan di atas 42 derajat Celsius.

Para ilmuwan mengatakan pemanasan global akibat aktivitas manusia membuat kejadian cuaca ekstrem seperti ini semakin sering dan semakin intens.

Jerman Catat Korban Tertinggi

Jerman mencatat angka kematian terkait panas tertinggi. Pada akhir pekan lalu, negara itu melaporkan perkiraan 14.000 kematian terkait panas selama periode 6 April hingga 9 Agustus.

Badan kesehatan masyarakat Robert Koch Institute (RKI) mengatakan sekitar 9.600 orang meninggal hanya dalam satu pekan, yakni pada 22-28 Juni.

Data kematian berlebih yang dikompilasi secara sistematis di seluruh Uni Eropa sejak 2008 menunjukkan hanya ada satu pekan musim panas lain dengan tingkat kematian tambahan yang lebih tinggi. Peristiwa tersebut terjadi pada Juli 2022, ketika Covid-19 masih aktif.

Musim panas 2026 menjadi periode terburuk terkait kematian akibat panas di Jerman sejak pencatatan dimulai. Rekor sebelumnya terjadi pada 2018 dengan sekitar 8.900 kematian.

Menurut RKI, pada musim panas normal, jumlah kematian terkait panas di Jerman sering kali berada di bawah 2.000 orang.

 

Spanyol Lampaui Rekor 2022

Sejumlah warga di La Baneza, provinsi Leon, Spanyol utara terpaksa diungsikan sementara di sebuah gedung olahraga, akibat gelombang kebakaran hutan besar dalam salah satu musim panas terparah di Spanyol. (CESAR MANSO/AFP)

Di Spanyol, data dari sistem pemantauan kematian Institut Kesehatan Carlos III menunjukkan sekitar 4.947 kematian antara Mei hingga pekan ini dapat dikaitkan dengan panas.

Angka tersebut menjadikan 2026 sebagai tahun terburuk di Spanyol dalam hal kematian terkait panas. Jumlahnya telah melampaui rekor sebelumnya, yakni 4.520 kematian pada 2022.

Namun, setiap negara memiliki metode berbeda dalam menghitung dan menyajikan data kematian akibat panas.

Spanyol dan Jerman menggunakan pemodelan untuk memperkirakan kematian terkait panas secara real time. Perhitungan dilakukan dengan membandingkan suhu harian dan tingkat kematian untuk memperkirakan jumlah kematian yang dapat dikaitkan dengan paparan panas.

Pemodelan diperlukan karena panas jarang dicatat sebagai penyebab langsung kematian. Dalam banyak kasus, suhu ekstrem memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada, seperti penyakit pernapasan atau kardiovaskular. Korban kemudian meninggal akibat serangan jantung, stroke, atau gagal ginjal.

Penetapan penyebab kematian secara final dapat membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Sejumlah negara bahkan belum merilis data hingga awal Agustus.

Mantan Menteri Kesehatan Jerman Karl Lauterbach mengatakan pekan lalu bahwa angka yang telah dirilis kemungkinan masih lebih rendah dari jumlah sebenarnya.

Prancis Catat 7.300 Kematian Berlebih

Prancis menjadi salah satu negara yang mengalami gelombang panas terparah. Lebih dari 500 stasiun cuaca mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius. Pada satu titik, sebanyak 98 persen wilayah negara itu berada dalam status peringatan panas.

Badan kesehatan nasional Prancis melaporkan angka awal kematian berlebih dari semua penyebab. Penentuan berapa banyak kematian yang secara definitif dapat dikaitkan dengan panas dilakukan kemudian.

Badan tersebut mengatakan pekan lalu bahwa jumlah kematian berlebih dari semua penyebab antara akhir Mei hingga 22 Juli mencapai 7.300 orang.

Data Agustus belum tersedia. Data awal tersebut juga hanya berdasarkan sertifikat kematian elektronik yang mencakup sekitar 80 persen dari total kematian.

Sementara itu, Italia yang menggunakan data pemerintah daerah dalam sistem pemantauan panas nasional masih menghadapi keterlambatan dalam pengumpulan data. Sejauh ini, Italia baru melaporkan indikator real-time yang belum lengkap, bukan angka kematian nasional yang telah terkonsolidasi.

Pemodelan menunjukkan sekitar 2.700 orang lebih banyak dari biasanya meninggal di Italia hanya dalam periode 22-28 Juni. Para ahli epidemiologi memperkirakan total kematian yang dapat dikaitkan dengan panas di negara tersebut kemungkinan mencapai antara 5.000 hingga 8.000 orang ketika angka resmi akhirnya dicatat.

 

Inggris hingga Belgia Ikut Terdampak

Sejumlah negara Eropa lainnya juga telah melaporkan peningkatan kematian.

Di Inggris, badan keamanan kesehatan mengatakan pada Juli bahwa pemodelannya menunjukkan gelombang panas pada Mei dan Juni menyebabkan 2.877 kematian terkait panas di Inggris.

Belgia melaporkan data awal yang menunjukkan peningkatan angka kematian sebesar 39 persen pada 18-29 Juni. Kenaikan tersebut setara dengan 1.222 kematian tambahan.

Belanda menyebut setidaknya 900 orang lebih banyak dari biasanya meninggal pada 22 Juni hingga 5 Juli.

Sebuah studi pemodelan cepat yang dikutip Komisi Eropa memperkirakan 1.070 orang lebih banyak meninggal di Polandia selama gelombang panas akhir Juni.

Sementara itu, data otoritas kesehatan masyarakat Swiss menunjukkan sekitar 220 kematian berlebih akibat panas pada pekan yang sama.

Angka awal dari Luksemburg, Yunani, Rumania, Bulgaria, dan Denmark masing-masing menunjukkan sekitar 40 kematian berlebih.

Agence France-Presse menghitung wilayah yang dihuni lebih dari 80 juta warga Eropa mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius pada musim panas ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Mei bahwa kematian terkait panas di kawasan Eropa telah meningkat lebih dari 30 persen dalam 20 tahun terakhir. WHO memperkirakan angka tersebut akan meningkat secara signifikan akibat krisis iklim dan bertambahnya populasi lanjut usia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya