Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun pada perdagangan Selasa, (25/8/2026). Koreksi harga perak Antam hari ini mengikuti harga perak dunia, tetapi melawan arah dengan harga emas Antam.
Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini turun Rp 100 menjadi Rp 45.800. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam dipatok Rp 45.900.
Advertisement
Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Perak batangan 250 gram Antam dibanderol Rp 11.975.000 dan perak batangan 500 gram ditetapkan Rp 23.025.000.
Lalu bagaimana harga perak dunia?
Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 1,64% menjadi US$ 67,82.
Harga perak turun ke bawah level US$ 68 per ons pada Selasa, tetapi tetap bertahan di dekat level tertingginya dalam dua bulan terakhir sembari mengikuti penguatan harga emas, seiring langkah intervensi pemerintah AS di pasar obligasi yang kembali memicu sentimen perdagangan terkait penurunan nilai mata uang (debasement trade).
Pekan lalu, Departemen Keuangan AS mengumumkan perluasan program pembelian kembali (buyback) utang pemerintah berjangka panjang guna meredam kenaikan biaya pinjaman. Menteri Scott Bessent menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan volume pembelian kembali tersebut sekaligus mengisyaratkan adanya rencana fiskal jangka panjang yang akan segera disusun.
Kendati demikian, pasar berspekulasi bahwa langkah-langkah tersebut mungkin hanya memberikan solusi sementara, sembari memunculkan kembali kekhawatiran mengenai risiko krisis utang AS, inflasi yang persisten, serta pelemahan nilai dolar.
Harga perak juga tetap tertopang oleh permintaan industri yang kuat, yang didorong oleh transisi energi hijau, panel surya fotovoltaik, kendaraan listrik, serta infrastruktur pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Harga Emas Dunia
Sebelumnya, harga emas melonjak ke level tertinggi lebih dari tiga bulan pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Kenaikan harga emas dunia didorong oleh aksi beli secara teknikal di tengah tren kenaikan harga yang dipicu oleh pengumuman pembelian kembali atau buyback oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini . Selain itu, dolar AS yang tertekan menjelang rilis data inflasidan Simposium Jackson Hole pekan ini.
Mengutip CNBC, Selasa (25/8/2026), harga emas spot naik 0,7% menjadi US$ 4.635,39 per ons, mencapai level tertinggi sejak 14 Mei. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,4% dan ditutup pada level US$ 4.697,80 per ons.
“Faktor fundamental dan teknikal tampak selaras mendukung tren kenaikan (bullish) bagi pasar emas pada awal pekan perdagangan ini,” Analis American Gold Exchange, Jim Wykoff.
Ia menuturkan, imbal hasil obligasi telah stabil, bahkan sedikit turun sehingga turut memberikan dukungan untuk harga emas.
Dengan tren harga yang cenderung naik, Wyckoff menyatakan, arah pergerakan emas yang paling mungkin terjadi "akan terus bergerak mendatar hingga naik" dalam beberapa minggu mendatang, kecuali jika muncul sinyal pembalikan arah secara teknikal.
Sentimen Harga Emas Lainnya
Pekan lalu, harga emas berhasil menembus level rata-rata pergerakan (moving average) 200 hari, yang semakin memperkuat momentum kenaikan harga.
Menurut World Gold Council, ETF yang didukung emas juga mencatat arus masuk sebesar 46,7 metrik ton (senilai US$ 6,4 miliar atau Rp 113,40 triliun, asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.720 ) pada pekan lalu, angka permintaan mingguan tertinggi dalam 10 bulan terakhir, dengan dana yang terdaftar di Amerika Utara dan Eropa memimpin arus masuk tersebut.
Harga emas batangan naik lebih dari 5% pekan lalu setelah rencana dukungan pembelian kembali oleh Departemen Keuangan AS menekan nilai dolar ke level terendah dalam beberapa bulan, sehingga membuat emas batangan yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi pembeli asing.
Fokus pasar juga tertuju pada pidato kebijakan yang akan disampaikan pekan ini di Amerika Serikat dan Jepang.
Pelaku pasar menantikan rilis indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure atau PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve pada Rabu, serta pidato perdana Ketua Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada Jumat, guna memantau prospek suku bunga.