Kedubes Ukraina Gelar Pameran Fotografi Penyintas Perang, Catat Tanggal dan Lokasinya

Pameran ini ditujukan dalam rangka memperingati 35 tahun kemerdekaan Ukraina.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 25 Agustus 2026, 21:30 WIB
Pameran Fotografi oleh Kedubes Ukraina Senin (24/8/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Liputan6.com, Jakarta - Kedutaan Besar Ukraina di Indonesia gelar perayaan 35 tahun kemerdekaan Ukraina dengan mempersembahkan sebuah pameran seni bertajuk “Living the War: Children.”

Koleksi seni ini dipamerkan di gedung lobby WTC 2 Jakarta hasil kolaborasi Kedubes Ukraina bersama BringKidsBackUA dan terbuka untuk umum hingga 21 September 2026. Terpampang banyak fotografi yang menunjukkan kondisi anak-anak yang menjadi korban perang.

Pameran ini menyoroti kekejaman yang harus anak-anak lalui.

“Empat setengah tahun berlalu sejak perang di Februari 2022. Seorang anak di Ukraina yang berumur empat tahun sekarang tidak pernah menjalani kehidupan yang aman dan damai,” tutur Charge d’Affaires Kedubes Ukraina, Yevhenia Shynkarenko Senin (24/8/2026).

Charge d’Affaires Kedubes Ukraina, Yevhenia Shynkarenko Senin (24/8/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

“Suara petir bisa terdengar seperti ledakan. Kembang api bisa terdengar seperti rudal atau sistem pertahanan udara. Ruang bawah tanah bisa menjadi tempat untuk tidur saat terjadi serangan udara,” imbuhnya. 

Shynkarenko menyebutkan bahwa setidaknya 17 anak Ukraina dibunuh dan 166 lainnya terluka. Ukraina sudah mendokumentasikan lebih dari 20 ribu laporan tentang deportasi yang melanggar hukum dan pemindahan paksa anak-anak Ukraina, sementara sekitar 1,6 juta anak masih berada di bawah kendali Rusia.

Gambar Milik Anak Bernama Illya di Pameran Fotografi oleh Kedubes Ukraina Senin (24/8/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

“Hingga saat ini, 2,470 anak sudah berhasil dibawa pulang. Tapi, di balik angka tersebut adalah seorang anak, sebuah nama, dan sebuah keluarga yang menunggu. Di sinilah pameran hari ini menghubungkan kita dengan inisiatif global lainnya. Tidak ada seorang anak pun yang seharusnya harus menjadi tangguh menghadapi perang,” jelasnya.

Perwakilan Kedubes Ukraina tersebut juga berkata bahwa meskipun di tengah situasi yang sangat menyeramkan dan mencekam, anak-anak di Ukraina tetap bermain, belajar, menggambar, dan memiliki mimpi. “Ketangguhan mereka luar biasa. Namun, kita tidak boleh meromantisasi hal tersebut.”

 

 

Aksi Gantungan Kunci

Aksi Gantungan Kunci di Pameran Fotografi Kedubes Ukraina Senin (24/8/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Kemudian, Shynkarenko mengajak tamu yang hadir untuk menggenggam gantungan kunci apapun yang dibawa saat itu lalu digoyangkan dan menimbulkan suara. “Kehilangan masa kecil tidak dapat dikembalikan lagi. Kami mengajak hadirin untuk memegang kunci tersebut sebagai pengingat bahwa orang-orang adalah kunci. Kunci perdamaian. Ini adalah hal biasa sehari-hari yang menjadi simbol seseorang harus pulang ke rumah.” 

Gambar Tentang Kehilangan Keluarga Senin (24/8/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Ia juga berkata meskipun judul dari pameran ini adalah Living the War, tujuan mereka bukanlah agar anak-anak Ukraina atau anak-anak di seluruh dunia untuk hidup dalam perang. Namun, tujuannya adalah untuk anak-anak bisa menjalani kehidupan mereka dengan baik untuk belajar, bermimpi, membangun keluarga, dan membentuk masa depan.

Gambar Tentang Kebahagiaan Anak-anak di Masa Perang Senin (24/8/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Untuk menutup sambutannya, Shynkarenko berkata setiap anak di Ukraina, Afrika, Palestina, dan di seluruh kawasan Timur Tengah harus bisa tumbuh tanpa perang yang mewarnai kenangan masa kecil mereka. Ia juga berharap bahwa anak-anak di Ukraina bisa mendengar petir sebagai tanda hujan, dan kembang api sebagai tanda selebrasi, dan bisa merayakan kemerdekaan selayaknya selebrasi nasional pada umumnya.

“Tidak ada negara yang masa depannya harus ditentukan oleh negara lain, dan tidak ada seorang anakpun yang masa kecilnya harus dirampas oleh perang,” ujarnya.

 

Sambutan Dubes Uni Eropa, Denis Chaibi

Dubes Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi Senin (24/8/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Acara ini juga dihadiri oleh Dubes Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi. Ia membuka sambutannya dengan mengingat saat COVID, saat di mana orang-orang tidak dapat berinteraksi dengan baik, terutama anak anak. Ia berkata bahwa kita tahu pandemi itu akan selesai, tapi anak-anak di Ukraina dan Gaza tak tahu menahu tentang kapan hal tersebut akan usai.

Gambar di Basement Sekolah Senin (24/8/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

“Mereka tidak tahu besok akan seperti apa. Jadi ini bukanlah situasi sementara. Ini bukan COVID,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa perang di Ukraina bukan satu tahun, melainkan sudah empat setengah tahun dan bahkan beberapa minggu terakhir semakin parah. 

Anak yang berumur delapan tahun sudah menjadi 12 tahun, atau 12 tahun menjadi 16 tahun. “Jadi, baik seluruh masa pembentukan karakter di masa kanak-kanak atau remaja sepenuhnya dibentuk oleh ketidakpastian, ketakutan, dan kesedihan."

Ilustrasi Skema yang Dilakukan Rusia terhadap Anak-anak Ukraina Senin (24/8/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

“Karena itulah pameran hari ini sangat menggetarkan,” imbuhnya. Chaibi berkata pameran ini bukan hanya memperlihatkan kenyataan perang, tapi juga apa yang sudah diambil oleh dunia dan ketangguhan anak-anak untuk terus berharap dan bermimpi di segala situasi. “Dan saat kita melihat gambar-gambar ini, saya berharap kita akan mengingat bahwa di balik sebuah foto tersimpan sesuatu yang sederhana.”

Di akhir sambutannya, Chaibi berkata karena itulah kita harus berdiri bersama rakyat Ukraina, mendukung Ukraina dan yang terpenting, mendukung anak-anak di sana sampai mereka bisa tumbuh tanpa rasa takut dan melihat ke masa depan yang damai. “Setiap anak berhak untuk tumbuh dalam damai. Sesederhana itu.”

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya