Liputan6.com, Jakarta - Shein, raksasa fast-fashion China berpotensi mencatat valuasi hingga HK$ 13,86 miliar atau Rp 31,3 triliun (asumsi kurs dolar Hong Kong terhadap rupiah 2.258) saat saham Shein mulai diperdagangkan di bursa saham Hong Kong pada 1 September.
Mengutip BBC, dalam pengajuan pada Senin (24/08/2026), Shein mengatakan akan menawarkan hampir 280 juta saham dengan harga antara HK$ 47.60 atau Rp 107.498 dan HK$ 49.50 atau Rp 111.789. Pada harga batas atas, dana yang diraup dari penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) sebesar US$ 1,77 miliar atau Rp 31,34 triliun.
Advertisement
Pada harga tertinggi dalam kisaran tersebut, nilai perusahaan akan mencapai hampir US$ 27 miliar atau Rp 477 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.700). Namun, angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan valuasi US$ 100 miliar atau Rp 1.771 triliun yang dicapai dalam putaran penggalangan dana swasta pada 2022. Hal ini mencerminkan pertumbuhan penjualan yang melemah dengan kenaikan biaya operasional.
Langkah yang sudah dinanti-nanti ini dilakukan setelah upaya gagal untuk go public di AS dan London akibat tantangan regulasi di tengah pengawasan terhadap Shein—yang berkantor pusat di Singapura, tetapi didirikan di China.
Penawaran umum perdana (IPO) ini didukung oleh raksasa investasi Wall Street, yaitu Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan JP Morgan.
Pada Juli 2026, Shein menyatakan alami kerugian kuartalan karena penjualan melambat setelah Presiden AS Donald Trump mencabut pembebasan bea masuk untuk paket-paket kecil, dikutip dari BBC.
Perusahaan tersebut melaporkan kerugian sebesar US$ 99 juta atau Rp 1,75 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini, dibandingkan dengan laba bersih sebesar US$ 395 juta atau Rp 6,99 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Hal ini juga terjadi di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti perang tarif AS-China yang saling membalas, yang saat ini sedang ditangguhkan.
Shein: Pengecer Fast-Fashion Terbesar Sejak 2008
"Menanggapi kenaikan bea masuk dan pajak, kami sedang menjajaki berbagai opsi, termasuk menaikkan harga di pasar AS untuk mengimbangi sebagian dari kenaikan biaya tersebut,” kata Shein saat itu.
Perusahaan tersebut juga menyatakan perang di Iran telah memengaruhi permintaan, meningkatkan biaya, dan menyebabkan keterlambatan pengiriman di beberapa pasar.
Angka-angka kuartal pertama juga sebagian mencerminkan kerugian di atas kertas sebesar US$ 328 juta atau Rp 5,8 triliun akibat perubahan akuntansi untuk saham investor khusus. Saham-saham tersebut dapat diubah menjadi saham biasa di kemudian hari, dan nilainya dapat berubah sebelum pencatatan di bursa.
Sejak berdirinya pada 2008, Shein telah berkembang menjadi salah satu pengecer fast-fashion terbesar di dunia, dengan lebih dari 150 negara pelanggan.
Raksasa e-commerce ini terkenal dengan harga pakaiannya yang sangat murah, didukung juga oleh jaringan pabrik yang luas di Tiongkok sehingga mampu memproduksi cepat produk baru yang sedang tren. Pendapatannya jauh melampaui pesaing seperti H&M dan Zara.
Dampak ke Lingkungan
Per akhir Maret 2026, Shein memiliki 281 juta pelanggan aktif—meningkat lebih dari 16% dibandingkan tahun sebelumnya dengan total lebih dari satu miliar pesanan.
Namun, bisnis fast-fashion Shein mengundang kekhawatiran terkait dampak lingkungannya. Ada pula tuduhan kerja paksa dalam rantai pasokannya, meski sebelumnya telah dinyatakan melalui BBC bahwa mereka memiliki “kebijakan toleransi nol terhadap kerja paksa”.
Upaya Shein untuk go public di Bursa Efek London gagal setelah perusahaan tersebut menjadi sorotan karena menolak menjawab pertanyaan mengenai praktik rantai pasokannya.
IPO di Hong Kong
Perusahaan ini akan melakukan debut yang sangat dinanti-nantikan di bursa saham Hong Kong setelah berbagai upaya untuk melantai di bursa dilakukan sejak 2023.
Profesor madya bidang ekonomi dari Nanyang Technological University, Feng Qu menuturkan, Hong Kong telah bangkit kembali sebagai "salah satu pasar IPO terbesar" setelah berhasil menarik lebih banyak perusahaan dari China daratan.
“Shein kemungkinan akan mendapatkan valuasi yang lebih tinggi di Hong Kong dibandingkan di London, tempat di mana pengawasan regulasi menggagalkan rencana penjualan sahamnya,” kata Feng.
Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan China mungkin juga berhati-hati untuk menjual saham di AS karena ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut dapat berisiko menyebabkan perusahaan didepak dari bursa saham (de-listing).