Water Bombing Arjuno-Welirang Sempat Salah Sasaran, Ini Sebabnya

Tim gabungan kembali memburu bara di tiga titik setelah penyiraman dari udara sempat dihentikan akibat koordinat lokasi yang tidak tepat.

oleh Hermawan ArifiantoDiterbitkan 21 Agustus 2026, 18:09 WIB
Proses pemadaman Karhutla di kawasan Gunung Arjuno- Welirang. (Liputan6/Hermawan Arfianto)

Liputan6.com, Jakarta - Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Arjuno-Welirang memasuki hari keempat. Tim SAR gabungan mengerahkan helikopter water bombing untuk memburu bara yang masih tersisa di tiga titik, yakni Gunung Kembar Satu, Gunung Kembar Dua, dan Sabana Lembah Kijang.

Nambun, operasi pemadaman dari udara sempat dihentikan setelah penyiraman pertama tidak tepat sasaran. Koordinat titik api yang dikirimkan tim darat melalui ponsel ternyata mengalami pergeseran dari lokasi sebenarnya.

Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, mengatakan helikopter berkapasitas 1.000 liter air telah melakukan satu kali penyiraman sebelum operasi dihentikan sementara.

"Koordinat awal yang dikirimkan ternyata bukan di lokasi sebenarnya. Kami menghentikan sementara penyiraman udara untuk menunggu verifikasi ulang dari tim darat agar water bombing berikutnya tepat sasaran," ujar Agustiningtyas, Jumat (21/8/2026).

Menurut Agustiningtyas, penghentian sementara dilakukan agar penyiraman berikutnya dapat diarahkan secara presisi ke titik yang masih menyimpan bara.

Sementara itu, tim darat terus melakukan penyisiran untuk memastikan lokasi bara yang masih tersisa. Sebanyak 29 personel dikerahkan untuk memeriksa kawasan terdampak, termasuk tumpukan serasah dan akar pohon yang berpotensi menyimpan bara.

"Pengerahan 29 personel darat difokuskan untuk menyisir tumpukan serasah secara manual sekaligus mengunci titik koordinat riil sebelum meneruskannya ke kru helikopter," tambahnya.

 

Pasokan Air dari Penampungan Warga

Proses Water Bombing Gunung Arjuno- Welirang Terkendala Faktor Cuaca

Selain persoalan koordinat, operasi pemadaman dari udara juga menghadapi kondisi angin yang cukup kencang. Kecepatan angin di kawasan terdampak tercatat mencapai 16 kilometer per jam dengan arah yang berubah-ubah.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena bara yang berada di balik serasah tebal dan akar pohon masih berpotensi kembali menyala dan memicu penyebaran api.

Sementara api utama disebut telah berhasil dipadamkan sejak Kamis (20/8/2026) petang. Tim gabungan kini fokus memastikan tidak ada bara yang tersisa dan dapat memicu kebakaran susulan.

Untuk mendukung pemadaman dari udara, helikopter mengambil pasokan air dari penampungan milik warga di kawasan Brakseng, Desa Sumberbrantas, Kota Batu.

Agustiningtyas mengatakan metode pemadaman dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan penyisiran dari darat dan pembasahan dari udara. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bara tersembunyi ikut teratasi.

Di sisi lain, seluruh jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang masih ditutup untuk mengantisipasi risiko keselamatan akibat kebakaran.

"Seluruh jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang ditutup total sejak Rabu (19/8/2026) hingga batas waktu yang belum ditentukan," tegasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya