Dirut KS: FTA Jangan Cuma Buka Pasar, Industri Lokal Harus Makin Kuat

Ungkap Efek Berganda Rantai Pasok, FTA Diminta Perkuat Industri Nasional

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 21 Agustus 2026, 14:43 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Akbar Djohan.

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Akbar Djohan menegaskan, implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) dapat memberikan manfaat bagi perekonomian sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.

Namun, keterbukaan pasar melalui FTA perlu diimbangi dengan penguatan industri dalam negeri. “FTA harus membuka pasar sekaligus memperkuat daya saing industri nasional. Yang perlu kita lihat bukan hanya bagaimana perdagangan menjadi lebih terbuka, tetapi bagaimana keterbukaan tersebut memberikan manfaat nyata bagi perekonomian dan industri nasional,” ujar dia. 

Dia menegaskan jika industri baja memiliki dampak ganda yang besar terhadap rantai pasok dan industri terkait. Setiap US$ 1 aktivitas di industri baja disebut dapat mendorong sekitar US$ 2,5 di rantai pasok dan hingga US$ 13 di industri terkait.

Karena itu, implementasi FTA perlu memperhatikan dampaknya terhadap industri nasional, termasuk investasi, utilisasi industri, tenaga kerja, serta keberlanjutan rantai pasok.

Krakatau Steel juga mendorong agar FTA diarahkan untuk membuka akses pasar sekaligus mendukung investasi, hilirisasi, transfer teknologi, dan peningkatan daya saing industri nasional.

Hal tersebut dapat dilakukan antara lain melalui penerapan trade remedies yang responsif serta penguatan Rules of Origin (ROO).

“Pada akhirnya, kebijakan atau skema apa pun harus dilihat dari manfaat nyatanya bagi industri dan perekonomian nasional. FTA harus menjadi instrumen untuk membuka pasar, tetapi pada saat yang sama memperkuat fondasi industrialisasi Indonesia,” tegas Akbar Djohan.

Penguatan daya saing industri nasional melalui implementasi FTA tersebut sekaligus mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, khususnya agenda melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

 

 

 

Pendekatan komprehensif

Sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis data untuk mengukur dampak FTA. 

Pendekatan tersebut penting untuk mengidentifikasi sektor industri yang terdampak sekaligus merumuskan strategi penguatan industri nasional.

"Pemerintah juga mendorong penyusunan peta jalan (roadmap) industrialisasi serta revitalisasi sektor manufaktur," jelas dia.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya