Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga pertumbuhan kredit dengan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengelolaan risiko secara disiplin. Strategi ini dilakukan untuk memastikan ekspansi bisnis perseroan tetap berjalan sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika perekonomian.
Sebagai bank yang memiliki fokus utama pada pemberdayaan segmen UMKM, BRI menilai pertumbuhan kredit tidak hanya dilihat dari besarnya pembiayaan yang disalurkan. Kualitas kredit juga menjadi perhatian utama.
Advertisement
Karena itu, proses penyaluran kredit dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari profil risiko debitur, prospek usaha, kemampuan membayar, hingga kondisi sektor dan industri yang mendapatkan pembiayaan.
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan, prinsip kehati-hatian menjadi landasan dalam setiap keputusan penyaluran kredit BRI. Upaya menjaga kualitas aset dilakukan sejak tahap awal melalui proses underwriting yang disiplin, pemantauan kualitas kredit secara berkelanjutan, serta penerapan sistem early warning untuk mendeteksi potensi risiko sedini mungkin.
“BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas. Kami memastikan setiap ekspansi kredit melalui proses asesmen risiko yang memadai sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Ety.
BRI Selektif Salurkan Kredit Sesuai Profil Risiko
Dalam menjalankan strategi pertumbuhan, BRI menerapkan pendekatan yang selektif dengan mempertimbangkan karakteristik risiko pada setiap segmen dan sektor ekonomi. BRI juga terus menyempurnakan kebijakan perkreditan serta mekanisme monitoring portofolio agar tetap relevan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan profil risiko. Pendekatan tersebut memungkinkan BRI menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan tingkat risiko yang dapat diterima oleh bank.
Di sisi lain, pengelolaan risiko tidak berhenti setelah kredit disalurkan. BRI melakukan pemantauan portofolio secara berkala melalui pendekatan berbasis data untuk mendeteksi perubahan kualitas debitur maupun potensi tekanan pada sektor tertentu.
“Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga. Karena itu, kami terus memperkuat proses dari hulu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus,” lanjut Ety.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting mengingat portofolio BRI yang didominasi segmen UMKM dengan karakteristik nasabah yang beragam dan tersebar di seluruh Indonesia. Dengan basis data dan pengalaman panjang di segmen UMKM, BRI terus meningkatkan kemampuan dalam memahami karakteristik dan profil risiko nasabah secara lebih granular.
Kualitas Aset BRI Menunjukkan Perbaikan
Sebagai informasi, perbaikan kualitas aset BRI tersebut tercermin dari rasio NPL yang membaik secara Quarter on Quarter (qoq) dari posisi akhir Desember 2025 sebesar 3,07% menjadi 3,01% pada Maret 2026. Selain itu, salah satu indikator risiko kredit yang lebih forward-looking, yaitu rasio Loan at Risk (LaR) juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Rasio LaR turun dari 11,13% pada Maret 2025 menjadi 9,67% di Maret 2026, atau turun 145 basis poin.
BRI juga secara konsisten menjaga kecukupan pencadangan dan permodalan sebagai bagian dari mitigasi risiko serta bantalan untuk menghadapi berbagai potensi tekanan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan fundamental perseroan tetap kuat dalam mendukung ekspansi bisnis ke depan. Hal ini tercermin dari rasio NPL Coverage yang terjaga pada 179,45% dan rasio LaR Coverage pada 55,75%. Konsistensi tren yang stabil untuk dua rasio tersebut menggambarkan kedisiplinan dalam menjaga tingkat pencadangan risiko sebagai bagian dari implementasi manajemen risiko yang pruden.