Liputan6.com, Washington, DC - Durasi latihan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan dipangkas menjadi separuh atas permintaan Washington. Latihan yang semula dijadwalkan berlangsung selama 10 hari itu kini hanya digelar selama lima hari.
Keputusan itu diambil beberapa hari setelah Presiden Donald Trump meminta latihan tersebut dikurangi skalanya dengan alasan hubungan dekatnya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Advertisement
Latihan tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS), yang dimulai pada Senin (17/8/2026), semula dijadwalkan berlangsung selama 10 hari. Namun, militer AS dan Korea Selatan mengatakan latihan itu kini akan berakhir pada Jumat, (21/8).
Seorang pejabat Pentagon mengatakan pengurangan tersebut dilakukan berdasarkan arahan Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Meski skala UFS dikurangi secara signifikan, latihan yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan taktis tetap dilanjutkan.
Menurut pejabat tersebut, sejumlah latihan langsung di lapangan dikurangi. Beberapa kegiatan dibatalkan, sementara sebagian lainnya dialihkan menjadi simulasi.
"Penyesuaian ini tetap mempertahankan kesiapan dan tujuan utama latihan," kata pejabat tersebut seperti dilaporkan CNN.
Ia menegaskan target latihan bagi pasukan AS tidak akan berkurang.
Militer Korea Selatan mengatakan keputusan untuk menyesuaikan sebagian durasi dan skala latihan UFS dilakukan atas permintaan AS.
Perubahan jadwal itu dilakukan setelah Trump pada Minggu (16/8) mengatakan telah meminta Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk mengurangi latihan tersebut.
Trump mengatakan permintaan itu didasari "hubungan yang sangat baik" dengan Kim. Menurut dia, latihan militer tersebut mengirimkan sinyal yang "sama sekali tidak pantas dan bersifat bermusuhan" kepada Korea Utara.
Trump menyinggung pula kurangnya bantuan dari Seoul terkait perang dengan Iran.
Trump Ingin Kembali Bertemu Kim Jong Un
Korea Selatan telah menjadi sekutu dekat AS selama lebih dari 70 tahun. Kedua negara memiliki perjanjian pertahanan bersama yang terutama ditujukan untuk melindungi Korea Selatan dari Korea Utara, yang kekuatan nuklirnya terus berkembang.
Namun, hubungan pribadi Trump dengan Kim yang kerap ia tonjolkan menjadi ujian bagi hubungan lama AS dan Korea Selatan.
Sejak masa jabatan pertama Trump sebagai presiden, Kim telah memperluas kemampuan militer Korea Utara secara signifikan. Negara itu kini diyakini memiliki puluhan hulu ledak nuklir.
Kim belum mengomentari permintaan Trump untuk mengurangi latihan tersebut. Namun, media pemerintah Korea Utara, KCNA, dalam artikel yang diterbitkan Rabu menyebut latihan itu sebagai "ancaman paling langsung dan terbuka" terhadap Pyongyang dan keamanan kawasan.
Artikel KCNA tersebut terbit sebelum muncul kabar bahwa durasi UFS dipangkas. Korea Utara sendiri sejak lama mengecam latihan tahunan tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu, Trump mengeluhkan biaya yang dikeluarkan untuk latihan itu. Ia mengatakan Korea Utara telah bersikap tidak mengancam dan menghormati selama dirinya menjabat sebagai presiden.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Selasa (18/8) mengatakan latihan tersebut bukan bertujuan meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Lee menyebutnya sebagai "latihan defensif" yang bertujuan menjaga perdamaian dan melindungi masyarakat. Ia menegaskan Korea Selatan akan tetap mempertahankan kesiapsiagaan militernya.
AS rutin menggelar latihan militer bersama Korea Selatan. Negara itu juga menjadi lokasi Camp Humphreys, pangkalan militer AS terbesar di luar negeri.
Latihan UFS tahun ini dirancang untuk menyesuaikan diri dengan kemampuan militer Korea Utara yang terus berkembang.
Seorang juru bicara Pasukan AS di Korea mengatakan pekan lalu bahwa latihan tersebut akan mencakup pelatihan untuk menghadapi drone, gangguan GPS, dan serangan siber.
Sedikitnya 18.000 tentara Korea Selatan semula dijadwalkan mengikuti latihan tersebut.
Pimpinan militer Korea Selatan pada Rabu mengatakan Seoul dan Washington selanjutnya akan membahas dan menjalankan berbagai langkah agar tujuan latihan UFS tetap tercapai dan kesiapan pertahanan bersama kedua negara tetap terjaga.
Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk kembali bertemu Kim setelah pertemuan terakhir mereka pada 2019.
Dalam pertemuan tersebut, Trump sempat melangkahi garis demarkasi militer yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara. Ia menjadi presiden AS pertama yang masih menjabat yang menginjakkan kaki di Korea Utara.
Pada Senin, Trump mengatakan dirinya dan Kim baru-baru ini telah berkomunikasi, tetapi tidak memberikan perincian mengenai pembicaraan mereka.
"Saya memahami dia. Dia memahami saya," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Trump menepis kritik bahwa dirinya lebih mengutamakan kepentingan Korea Utara dibandingkan sekutu lama AS. Menurut dia, pendekatannya terhadap Kim justru membuat dunia lebih aman.