Toyota Dirayu Indonesia, Thailand Langsung Siapkan Skema Pajak Baru Otomotif

Thailand tengah menyiapkan skema pajak baru untuk industri otomotif. Pemerintah Negeri Gajah Putih, berencana memberikan tarif cukai lebih rendah

oleh Arief AszhariDiterbitkan 19 Agustus 2026, 17:08 WIB
Industri otomotif meminta Thailand segera bergabung ke TPP. Menurut mereka, ini dilakukan agar pasar otomotif negara tersebut tetap sehat.

Liputan6.com, Jakarta - Thailand tengah menyiapkan skema pajak baru untuk industri otomotif. Pemerintah Negeri Gajah Putih tersebut, berencana memberikan tarif cukai lebih rendah untuk mobil yang diproduksi di dalam negeri.

Sedangkan untuk model yang diimpor utuh atau completely built-up (CBU) dari perusahaan yang tidak memiliki fasilitas produksi lokal, bakal dikenakan pajak lebih tinggi.

Kebijakan tersebut disiapkan setelah Indonesia berupaya menarik Toyota untuk memindahkan sebagian fasilitas produksinya dari Thailand.

Menteri Keuangan sekaligus Wakil Perdana Menteri Thailand, Ekniti Nitithanprapas menilai reformasi pajak ini menjadi langkah mendesak, untuk menjaga daya saing industri otomotif negaranya.

Kementerian Keuangan Thailand menargetkan struktur pajak baru rampung pada September dan mulai berlaku sebelum akhir 2026.

Ekniti mengakui adanya kekhawatiran di kalangan produsen otomotif Thailand, terkait perbedaan tarif pajak yang dapat mendorong perusahaan memindahkan produksinya ke negara tetangga.

Salah satu persoalannya adalah kendaraan dari sejumlah negara mitra perjanjian perdagangan bebas (FTA), dapat memperoleh bea masuk lebih rendah.

Sejumlah negara mendapatkan keuntungan dari bea masuk yang lebih rendah melalui perjanjian perdagangan bebas (FTA), dan hal ini menjadi kendala bagi perkembangan industri dalam negeri," ujar Ekniti, disitat dari nationthailand, Rabu (19/8/2026).

Thailand tidak dapat begitu saja menaikkan bea masuk kendaraan impor utuh dari negara mitra FTA. Karena itu, pemerintah memilih pajak cukai, sebagai instrumen untuk mengatasi kesenjangan tersebut.

Melalui skema baru, produsen yang berinvestasi membangun fasilitas manufaktur di Thailand akan memperoleh tarif cukai lebih rendah.

Selain itu, insentif tersebut berlaku untuk kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), hingga battery electric vehicle (BEV).

Perluas Pasar Ekspor

Namun, produsen tidak cukup hanya memiliki fasilitas produksi, dan diwajibkan melakukan investasi pabrik secara nyata, menggunakan bahan baku atau komponen yang diproduksi di dalam negeri, serta mulai membuat kendaraan untuk kebutuhan ekspor.

Sebaliknya, perusahaan yang hanya mengimpor mobil dalam kondisi utuh tanpa investasi manufaktur di Thailand akan menghadapi tarif cukai lebih tinggi.

Selain memperkuat produksi lokal, Thailand juga ingin memperluas pasar ekspor. Bahkan, pemerintah Thailand menilai penguatan investasi saja belum cukup menghadapi peralihan dari kendaraan ICE menuju mobil listrik, sehingga pasar ekspor perlu diperluas.

Sejumlah produsen kendaraan listrik bahkan telah memulai produksi di Thailand untuk dikirim ke Australia dan Selandia Baru, dengan volume ekspor diperkirakan meningkat seiring bertambahnya kapasitas produksi.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya