Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional tetap menyimpan potensi pertumbuhan yang luas, kendati harus berhadapan dengan beragam tantangan global maupun domestik.
"Industri tekstil dan pakaian jadi memiliki peran yang sangat strategis karena menyerap lebih dari 3,8 juta tenaga kerja. Meski beberapa perusahaan menghadapi tekanan, tetapi pada saat yang sama juga ada investasi baru dan ekspansi usaha. Ini menunjukkan bahwa sektor TPT masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar,” kata Menperin dikutip dari Antara, Selasa (18/8/2026).
Advertisement
Demi mengoptimalkan laju pertumbuhan tersebut, Kementerian Perindustrian berkomitmen mempertajam sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari para pelaku usaha, asosiasi industri, pemerintah daerah, hingga kementerian dan lembaga terkait.
"Pemerintah mendukung para pelaku industri tekstil dan produk tekstil dalam meningkatkan daya saing dan memenangkan kompetisi global. Kita wujudkan industri TPT Indonesia yang mampu bertahan menghadapi perubahan serta tumbuh lebih produktif, inovatif, dan berkelanjutan,” katanya.
Di tengah momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sektor TPT secara konsisten membuktikan peran krusialnya terhadap pembangunan ekonomi nasional.
Hal itu dibuktikan melalui penyerahan lapangan kerja bagi lebih dari 3,8 juta tenaga kerja serta raihan nilai ekspor yang menembus angka US$ 4,85 miliar sepanjang semester I tahun 2026.
Capaian positif tersebut semakin mempertegas posisi strategis sektor tekstil dan konveksi sebagai salah satu pilar penopang perekonomian nasional.
Indeks Kepercayaan Industri
Sikap optimis ini juga berlandaskan pada angka Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode Juli 2026 yang bertahan di zona ekspansif pada level 53,10.
Agus menandaskan bahwa peningkatan performa manufaktur tekstil wajib berjalan sejajar dengan pembaruan dan transformasi proses produksi.
Guna memacu ekspansi sektor ini secara menyeluruh, pemerintah terus menggelontorkan serangkaian kebijakan taktis. Langkah-langkah tersebut meliputi pemberian insentif investasi, program restrukturisasi, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), hingga fasilitas pembiayaan ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).
Tak berhenti di situ, upaya ini diperkuat lewat kebijakan pengamanan perdagangan, percepatan penerapan peta jalan Making Indonesia 4.0, serta konsistensi implementasi Standar Industri Hijau.
"Dunia saat ini tidak hanya membeli produknya, tetapi juga melihat bagaimana produk tersebut diproduksi. Maka perlu diingat, keberlanjutan bukan lagi menjadi beban, melainkan keunggulan dalam persaingan global," tuturnya.