Gen Z Ini Menjadi Miliarder Termuda di Eropa yang Bangun Kekayaan Sendiri

Pendiri Olix dan CoMind, perusahaan startup teknologi, James Dacombe, yang merupakan seorang Gen Z, kini memiliki kekayaan US$ 1 miliar, atau Rp 17,8 triliun.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 18 Agustus 2026, 21:00 WIB
Ilustrasi orang terkaya dunia atau miliarder. Foto: Freepik/vecstock

Liputan6.com, Jakarta - Seorang Gen Z yang putus sekolah untuk menjalani dua bisnis teknologi baru saja menjadi miliarder termuda di Eropa setelah putaran pendanaan yang fantastis. Kekayaan pendiri produsen chip AI, Olix, dan startup monitor otak, CoMind, James Dacombe (25), baru saja menyentuh US$ 1 miliar, atau Rp 17,8 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.851).

Melansir Yahoo! Finance, Selasa (18/8/2026), Dacombe meluncurkan perusahaan Olix yang berada di London dua tahun lalu, dan kemudian mengalami kenaikan nilai tiga kali lipat sejak Februari. 

Olix mendapat dana US$ 312 juta, atau Rp 5,57 triliun awal bulan ini, dan mendorong kapitalisasi pasar perusahaan tersebut ke US$ 3,3 miliar, atau Rp 58,9 triliun. Hal ini juga meningkatkan kekayaan Dacombe, yang memiliki 30% saham perusahaannya, yakni melampaui US$ 1 miliar.

Sementara itu, Dacombe juga memiliki 12% saham CoMind, perusahaan yang dibangunnya sejak 2017, dan masih dipimpin hingga sekarang. CoMind meraup US$ 102,5 juta, atau Rp 1,83 triliun pada Agustus tahun lalu, yang ikut mendongkrak kekayaan bersih Dacombe.

Pebisnis Gen Z asal Inggris ini hanya salah satu dari 11 miliarder di dunia yang berusia di bawah 30 tahun, dan salah satu dari empat di antaranya yang tidak tinggal di Amerika Serikat (AS).

Bagaimana Dacombe Menjadi Miliarder

Sejak muda, Dacombe sudah memprogram aplikasi dan situs, tepatnya saat usianya 13 tahun. Dia bersekolah di sekolah swasta Ashville College di Harrogate, Yorkshire Utara, sebeoum akhirnya mengikuti ujian A-level dalam mata pelajaran fisika, matematika, ekonomi, dan bisnis. Namun, Dacombe yang saat itu masih remaja tahu bahwa bidang akademik bukanlah jalannya.

Jadi, saat usianya 17 tahun, Dacome berhenti dari sekolah menengah atas untuk mengembangkan perusahaannya, CoMind. Lalu, empat tahun kemudian dia mengambil kesempatan yang akan menyokong bisnisnya.

 

Banyak Mencoba

Ilustrasi Miliarder atau Orang Terkaya. Foto: Freepik

Pendiri perusahaan muda ini mengambil Beasiswa Thiel, yakni program kompetitif dua tahun yang dibuat oleh salah satu pendiri Palantir, Peter Thiel, yang memberikan entrepreneur pemula US$ 250.000, atau Rp 4,46 miliar untuk tidak berkuliah dan menjalani minat entrepreneur mereka.

Beasiswa ini juga pernah menjadi batu loncatan untuk karir miliarder lainnya, seperti pendiri ScaleAI, Alexandr Wang dan Lucy Guo. Kini, Dacombe menjadi salah satu dari kisah sukses entrepreneur miliarder.

"Nilai tambah dari memulai bisnis saya di usia yang sangat muda adalah sifat naif," ujar Dacome kepada Sunday Times pada 2024.

"Anda tidak punya pengetahuan tentang apa yang tidak bisa, jadi Anda hanya banyak mencoba. Untungnya, beberapa berhasil," ia menambahkan.

 

 

Revolusi Teknologi Menciptakan Banyak Miliarder Gen Z

Revolusi Teknologi Menciptakan Banyak Miliarder Gen Z (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Revolusi teknologi kini mencetak rekor kapitalisasi pasar dan mendatangkan miliarder dengan kecepatan luar biasa. Selain itu, tenaga kerja generasi termuda terus meningkatkan keapikan teknologi mereka untuk mendirikan perusahaan startup swasta yang bernilai miliaran dolar AS sebelum berusia 30 tahun.

Kini, pendiri perusahaan Gen Z terus mengalahkan satu sama lain dalam mencetak rekor entrepreneur miliarder termuda di dunia.

Pada awal maraknya era internet, Mark Zuckerberg langsung melesat ke puncak  entrepreneur miliarder termuda. Dia membuat Facebook di kamar asrama universitasnya, sebuah perusahaan yang kini dikenal sebagai bisnis raksasa Meta, dengan nilai US$ 1,5 triliun, atau Rp 26.773 triliun.

Zuckerberg menjadi miliarder pada usia 23 tahun, dan menjadi yang termuda selama beberapa tahun sebelum akhirnya dikalahkan oleh rekan pendiri Facebook, Dustin Moskovitz, yang mencetak angka 10 digit pada usia 20-an

Visioner teknologi lainnya telah menempati posisi tersebut. Contohnya, seorang mahasiswa yang putus kuliah, pendiri Snapchat, Evan Spiegel, menduduki posisi itu saat usianya 24 tahun pada 2015. Kini, AI menciptakan arus kekayaan yang mengalir ke kantong Gen Z, di mana industri tersebut menciptakan lebih dari miliarder baru pada 2025. 

Investor menaruh lebih dari US$ 200 miliar, atau Rp 3,57 kuadriliun untuk industri tersebut, dan startup AI menerima 50% dana di seluruh dunia. Dalam jangka satu tahun, startup AI di AS sudah menciptakan 19 miliarder dengan total kekayaan US$ 59,3 miliar, atau Rp 1,05 kuadriliun, menurut data analisis Bloomberg pada Maret 2026.

 

 

 

Deretan Miliarder Muda

Ilustrasi Miliarder atau Orang Terkaya Dunia: Foto: Freepik/Chokniti

Pada 2022, ScaleAI meraup US$ 325 juta, atau Rp 5,8 triliun dengan valuasi sebesar US$ 7,3 miliar, yakni Rp 130,2 triliun. Ini meluncurkan Wang sebagai salah satu pendirinya yang saat itu berusia 24 tahun menjadi entrepreneur miliarder termuda. Setelahnya, rekan pendiri Wang, Guo, menyalip Taylor Swift dalam kategori wanita termuda yang mencapai angka tersebut.

Setelahnya, posisi ini diisi oleh salah satu pendiri Kalshi, Luana Lopes Lara. Lalu, pendiri dan CEO perusahaan raksasa prediksi pasar Poly Market, Shayne Coplan, merebut posisi ini di usia 27 tahun. Kurang dari satu bulan kemudian, entrepreneur Gen Z lainnya menduduki posisi tersebut.

Pada 2025, para pendiri Mercor yang berusia 20-an, Surya Midha, Brendan Foody, dan Adarsh Hiremath, menjadi miliarder setelah valuasi perusahaannya mencapai US$ 10 miliar, atau Rp 178,5 triliun di putaran dana swasta Oktober lalu.

Sejak itu, mereka telah diberi status miliarder termuda, dengan kekayaan bersih US$ 1,9 miliar-US$ 2,2 miliar atau Rp 33,9 triliun-Rp 39,2 triliun. Pendiri perusahaan teknologi meraup kekayaan dengan kecepatan yang fantastis, hingga pendiri Mercor ini mengatakan bahwa kekayaannya masih belum bisa terbayang.

"Ini sangat luar biasa,” ujar Foody kepada Forbes setelah mencapai valuasi Rp 178,5 triliun tahun lalu.

"Ini tidak terasa nyata. Tentu saja di luar imajinasi terliar kami, dalam hal yang bisa kita antisipasi dua tahun lalu,” dia menyimpulkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya