2.119 Gempa Susulan Terjadi di NTT, 70 Dirasakan Warga

Gempa susulan masih terus terjadi di wilayah NTT. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 2.119 gempa susulan usai gempa M7,7.

oleh Ahmad ApriyonoDiterbitkan 18 Agustus 2026, 09:44 WIB
Gambaran gempa susulan yang terjadi di NTT usai gempa Magnitudo 7,7. (Liputan6.com/ BMKG)

Liputan6.com, Jakarta - Usai gempa Magnitudo 7,7 yang memicu gelombang tsunami, gempa susulan masih terus terjadi di wilayah NTT. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga Selasa (18/8/2026), pukul 05.00 WIB, ada sebanyak 2.119 gempa susulan, dengan rincian Magnitudo terbesar 6,2 dan Magnitudo terkecil 1,3. Sementara itu Magnitudo di atas M5 ada sebanyak 24 kali. Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 70 gempa dirasakan getarannya oleh masyarakat.

BMKG menyebutkan, dari grafik pelurusan masih fluktiatif belum terlihat jelas pola penurunan. Estimasi peluruhan terjadi sekitar 2-3 minggu ke depan akan stabil.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT mencatat, hingga Senin (17/8/2026) kemarin, tercacat sebanyak 7.968 rumah rusak akibat gempa. Tak hanya itu, gempa juga merusak 744 fasilitas umum dan infrastruktur. 

Kepala BPBD NTT Mahadin Sibarin mengatakan, angka tersebut masih merupakan hasil pendataan sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.

"Pendataan kerusakan masih terus dilakukan di kabupaten terdampak. Angka ini merupakan data yang sudah masuk dan diverifikasi sampai batas waktu pelaporan," ujarnya.

Berdasarkan laporan yang diterima kerusakan bangunan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan laporan situasi sebelumnya pada 15 Agustus 2026.

Saat itu BPBD mencatat sebanyak 1.639  rumah rusak. Dalam dua hari jumlah tersebut meningkat menjadi 7.968 unit atau bertambah lebih dari empat kali lipat.

Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas umum dan infrastruktur. Jumlah fasilitas umum dan infrastruktur yang terdampak meningkat dari 163 unit pada laporan sebelumnya menjadi 744 unit.

Mahadin mengatakan peningkatan jumlah kerusakan tidak terlepas dari proses pendataan yang semakin luas di wilayah terdampak, termasuk Kabupaten Manggarai, Ngada, Nagekeo, dan Sikka.

"Tim di lapangan terus melakukan pendataan dan verifikasi terhadap bangunan yang terdampak. Kami ingin memastikan data yang diperoleh benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat di lapangan," ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya