Harga Emas Dunia Tembus US$ 4.400, Pelemahan Dolar AS Jadi Pendorong

Harga emas dunia menguat didorong pelemahan dolar AS dan berkurangnya peluang kenaikan suku bunga The Fed.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 18 Agustus 2026, 07:20 WIB
Ilustrasi harga emas dunia. Harga emas spot naik 0,9% menjadi US$ 4.413,93 per ounce. (Gambar by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin, didukung pelemahan dolar AS dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Investor juga masih mencermati perkembangan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip CNBC, Selasa (18/8/2026), harga emas spot naik 0,9% menjadi US$ 4.413,93 per ounce. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember naik 0,8% dan ditutup pada level US$ 4.473,70 per ounce.

Kepala analis Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan, pasar emas tampaknya mulai memperhitungkan kondisi stagflasi. Situasi tersebut ditandai dengan melemahnya pasar tenaga kerja, sementara The Fed diperkirakan masih dapat menoleransi tingkat inflasi saat ini.

“Pasar emas tampaknya mulai memperhitungkan kondisi stagflasi, dengan melemahnya pasar tenaga kerja dan ekspektasi bahwa The Fed akan menoleransi tingkat inflasi saat ini,” kata Bart Melek.

Menurutnya, salah satu faktor utama yang menopang harga emas adalah pelemahan dolar AS.

“Faktor besar di sini adalah dolar AS telah melemah ke level 100 yang secara psikologis penting,” tambah dia.

Dolar AS tercatat melemah ke level terendah dalam lebih dari dua bulan. Kondisi tersebut membuat emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang selain dolar AS.

 

Peluang Kenaikan Bunga The Fed

Ilustrasi harga emas dunia. Harga emas spot naik 0,9% menjadi US$ 4.413,93 per ounce. (Gambar by AI)

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed juga semakin berkurang setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) pada pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan. Selain itu, data inflasi konsumen AS juga menunjukkan tekanan yang relatif terkendali.

Investor kini menantikan risalah rapat The Fed pada Juli yang akan dirilis pada Rabu. Risalah tersebut diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September hanya sebesar 33%. Angka tersebut turun dari 51,2% sebulan sebelumnya.

Emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga cenderung diuntungkan ketika suku bunga turun. Pasalnya, kondisi tersebut mengurangi biaya peluang bagi investor untuk memegang emas batangan dibandingkan aset berbunga.

 

Sentimen Geopolitik

Ilustrasi harga emas dunia. Harga emas spot naik 0,9% menjadi US$ 4.413,93 per ounce. (Gambar by AI)

Di sisi lain, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian investor. Seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Teheran akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya jika upaya diplomasi dengan Amerika Serikat mengalami kebuntuan.

Pernyataan tersebut mengindikasikan Iran berpotensi mengambil pendekatan yang lebih ofensif di tengah ketegangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Kondisi geopolitik tersebut turut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya