Istri Teriak 'Gempa', Yogi Bergegas Gendong Bayi 6 Bulan Lari ke Bukit

Rumah panggung yang ditinggalinya bergoyang keras.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 15 Agustus 2026, 13:28 WIB
Anggota Tim SAR gabungan mengevakuasi korban terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 15 Agustus 2026. (Basarnas)

Liputan6.com, Jakarta - Teriakan “gempa-gempa” dari istrinya memecah keheningan pagi. Yogi Indrawan, Kepala Dusun di Desa Pasir Putih, Bajo, Nusa Tenggara Timur, yang sedang terlelap langsung terbangun.

Rumah panggung yang ditinggalinya bergoyang keras. Dalam kepanikan, ia menggendong bayi mereka yang baru berusia enam bulan dan berlari keluar rumah.

“Saya masih tertidur, dibangunkan sama istri teriak gempa. Langsung bangun panik,” kata Yogi saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026).

Begitu keluar rumah, Yogi melihat tetangganya sudah lebih dulu berhamburan meninggalkan rumah. Menurut dia, getaran gempa terasa sangat kuat karena rumah yang ditempatinya merupakan rumah panggung.

Yogi kemudian membuka telepon selulernya untuk melihat lokasi pusat gempa. Dari informasi yang dilihatnya, titik gempa berada di wilayah mereka sendiri.

“Pantas besar,” ujarnya.

Kepanikan semakin meningkat ketika peringatan dini tsunami dari BMKG muncul. Warga tidak hanya menjauh dari rumah yang bergoyang, tetapi juga segera mencari tempat yang lebih tinggi.

Sebagian warga berlari menuju bukit. Sebagian lainnya menggunakan perahu menuju pulau-pulau di sekitar yang memiliki gunung lebih tinggi.

Sekitar pukul 05.30 WITA, kepanikan masih terasa. Kondisi laut juga membuat warga semakin waspada. Air laut sempat surut setelah gempa, kemudian terlihat naik dan turun dengan arus deras.

“Air laut surut, guncangan gempa besar sekali,” kata Yogi.

 

Pagi Penuh Kepanikan

Beberapa waktu kemudian, kondisi di Messah mulai lebih tenang. Warga masih diliputi ketakutan terhadap kemungkinan tsunami, tetapi tidak ditemukan kerusakan berat pada rumah di wilayah tersebut.

Kerusakan lebih banyak terjadi pada bagian dalam rumah. Lemari, televisi, dan sejumlah perabot rumah tangga berantakan atau bergeser akibat guncangan.

“Untuk rumah masih aman semua untuk di Messah,” ujarnya.

Menurut Yogi, kerusakan lebih parah terjadi di Maumere dan Mbay. Sementara di Messah, warga mulai kembali setelah situasi berangsur aman.

Bagi Yogi, gempa itu berlangsung hanya beberapa detik, tetapi mengubah suasana pagi menjadi kepanikan.

Dari tempat tidur, ia mendadak menggendong bayi berusia enam bulan, meninggalkan rumah yang bergoyang, lalu bersama warga mencari tempat lebih tinggi setelah peringatan tsunami muncul.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya