Kebakaran Bromo Padam, 1.120 Hektare Dilalap Api

Setelah perjuangan panjang, kebakaran hutan di Bromo akhirnya padam.

oleh Hermawan ArifiantoDiterbitkan 14 Agustus 2026, 06:55 WIB
Proses pemadaman Karhutlah di kawasan Gunung Bromo. (Liputan6.com,/ Hermawan Arifianto)

Liputan6.com, Jawa Timur Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melahap kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) akhirnya berhasil dikendalikan. Setelah perjuangan ratusan petugas gabungan di wilayah Probolinggo hingga Pasuruan, seluruh titik api kini dinyatakan padam.

​Meski titik api tak lagi terlihat, kesiapsiagaan penuh masih diberlakukan untuk mengantisipasi potensi munculnya titik panas baru.

​"Alhamdulillah, berdasarkan laporan tim di lapangan, titik api sudah tidak terlihat. Namun, pemantauan ketat dan proses pendinginan (cooling down) terus dilakukan untuk memastikan api benar-benar padam total," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, Jumat (14/8/2026).

​Keberhasilan meredam amukan si jago merah yang melahap hingga 1.120 hektare lahan di empat kabupaten (Probolinggo, Malang, Lumajang, dan Pasuruan) ini merupakan hasil dari operasi terpadu skala besar.

​Strategi pemadaman dilancarkan secara masif dari dua lini yaitu, Operasi udara atau water bombing. Keroyokan 3 helikopter water bombing digencarkan untuk mengguyur titik terisolir, seperti kawasan P30 Probolinggo dan Pusung, Desa Wonokitri, Pasuruan.

" Operasi darat sekala besar juga kita lakukan. Tim gabungan berjibaku langsung di garis depan memadamkan api secara manual serta membangun sekat bakar demi memutus rantai penyebaran api," tambahnya

 

Alutsista Mutakhir

Oemar memandang, ​alutsista mutakhir turut dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi dan pemadaman, termasuk1 unit water drone BNPB1, 6 unit mobil pemadam kebakaran, 5 unit kendaraan double cabin, serta 70 unit sepeda motor trail untuk menembus medan terjal.

​Untuk memastikan kawasan TNBTS benar-benar aman, petugas memperketat pengawasan dengan mengombinasikan patroli darat, pemantauan visual, dan teknologi digital melalui aplikasi  Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (SIPONGI) guna mendeteksi hotspot secara real-time.

​Pihak otoritas menghimbau keras masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas riskan yang dapat memicu kebakaran. 

"Warga juga kita minta segera melapor jika melihat kepulan asap atau titik api sekecil apa pun di area TNBTS," tambahnya

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya