Liputan6.com, Jakarta - Presiden Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Nurhaida mengatakan, paradigma investasi kini mulai bergeser. Investor tidak hanya mempertimbangkan keuntungan finansial, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan dari modal yang mereka investasikan.
"Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar modal. Indonesia membutuhkan modal yang memiliki tujuan untuk mampu menjadi penggerak perubahan,” kata Nurhaida, dalam Impact Investment Festival 2026, di Bursa Efek Indonesia, Kamis (13/8/2026).
Advertisement
Menurut Nurhaida, kebutuhan tersebut semakin relevan karena Indonesia menghadapi tantangan besar di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM, transisi energi, dan inklusi keuangan.
Dia mengatakan, pasar modal telah memiliki sejumlah instrumen yang dapat mendukung pembiayaan berdampak, seperti green bond, sustainability bond, dan social bond. Instrumen tersebut memungkinkan dana investor diarahkan untuk membiayai proyek yang memberikan manfaat sosial maupun lingkungan.
Nurhaida menambahkan, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai sekitar 30 juta investor hingga 7 Agustus 2026. Sementara itu, jumlah perusahaan tercatat telah melampaui 960 perusahaan dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 11.000 triliun.
"Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar modal semakin dipercaya oleh masyarakat sebagai investor dan juga oleh dunia usaha yang membutuhkan pembiayaan," tutur Nurhaida.
YCAB Dorong Pengembangan Investasi
Sementara itu, Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation mendorong pengembangan investasi berdampak atau impact investment di Indonesia melalui pasar modal. YCAB melihat potensi produk investasi berdampak di Indonesia dapat mendekati Rp 30 triliun.
Chairwoman YCAB Foundation Lisa Luhur-Schad mengatakan potensi tersebut dapat menjadi peluang bagi pasar modal untuk ikut mendukung kegiatan sosial sekaligus memberikan manfaat investasi kepada masyarakat.
“Kami ingin mengajak pasar modal untuk bersama-sama membuka potensi besar Indonesia dalam mendukung kegiatan sosial melalui impact product yang dapat menjadikan Indonesia sebagai pemain terbesar di Asia Tenggara dengan nilai mendekati Rp30 triliun,” kata Lisa.
Menurutnya, nilai tersebut belum mencakup investasi berdampak lainnya yang berbentuk venture fund. YCAB juga telah memiliki pengalaman mengembangkan produk investasi berdampak melalui kerja sama dengan Juara Capital.
Reksa Dana YCAB
Lisa mengatakan YCAB pertama kali meluncurkan produk reksa dana bersama Juara Capital melalui Juara Empowerment Balance Fund pada dua tahun lalu. Produk tersebut menjadi salah satu tonggak YCAB dalam mengembangkan instrumen yang menghubungkan investasi dengan pemberdayaan masyarakat.
Dia menilai momentum penguatan pasar modal Indonesia menjadi peluang untuk kembali mendorong investasi berdampak. Menurut dia, pasar modal Indonesia telah menunjukkan ketangguhan setelah menghadapi berbagai tekanan global.
"Di tengah berbagai ujian tersebut, pasar modal kita justru menunjukkan hal yang sangat positif yaitu resilience, ketangguhan. Dan syukurnya belakangan ini terus menunjukkan tren yang meningkat,” ujarnya.