Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menuturkan, sekitar 60%-70% pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang belum pernah melakukan ekspor telah difasilitasi melalui program Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor). Lewat program UMKM BISA Ekspor itu mencatatkan transaksi US$ 251 juta atau sekitar Rp 4,49 triliun pada semester I 2026.
“Tahun ini Januari-Juni itu malah (transaksi) sudah US$ 251 juta. Itu UMKM yang 60%-70% belum pernah ekspor. Kita fasilitasi dan tidak pernah ketemu, cuma online saja,” ujar Budi saat Peluncuran Program Akselerasi Produk Lokal di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis (13/8/2026).
Advertisement
Program UMKM BISA Ekspor adalah program Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk membantu pelaku usaha memperoleh akses ke pasar luar negeri.
Budi menuturkan, pelaku UMKM dapat mempresentasikan produknya kepada perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, termasuk Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).
Perwakilan tersebut kemudian membantu mencari calon pembeli untuk melanjutkan proses penjajakan bisnis.
“Bapak Ibu tinggal presentasi ke perwakilan kita di luar negeri ke Atase Perdagangan, ITPC ya. Nanti perwakilan kita, ada ITPC, kemudian mencarikan buyer. Setelah dapat buyer, Bapak Ibu nanti presentasi lagi ke buyer,” tutur Budi kepada para UMKM yang hadir dalam acara itu.
Sebagai pembanding, Kemendag mencatat program UMKM BISA Ekspor memfasilitasi 1.217 pelaku usaha dengan nilai transaksi US$ 134,87 juta atau sekitar Rp 2,41 triliun sepanjang 2025.
Nilai tersebut terdiri atas pesanan pembelian atau purchase order sebesar US$ 57,45 juta dolar AS (sekitar Rp 1,03 triliun) dan potensi transaksi sebesar US$ 77,42 juta (sekitar Rp1,38 triliun).
Seiring hal itu, angka transaksi US$ 251 juta yang disampaikan Budi untuk Januari-Juni 2026 telah melampaui capaian yang dicatat program tersebut sepanjang 2025.
Fasilitas Ekspor
Sebelumnya pada Juli 2026, Budi optimistis nilai transaksi UMKM BISA Ekspor dapat mencapai kisaran US$ 300 juta atau sekitar Rp 5,36 triliun sepanjang 2026.
Fasilitasi ekspor bagi UMKM melalui program tersebut didukung jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di 33 negara.
Melalui jaringan itu, pelaku UMKM diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai pasar tujuan sekaligus dipertemukan dengan calon pembeli untuk membuka peluang transaksi ekspor.
Budi juga melihat pemanfaatan platform perdagangan elektronik dapat menjadi pintu awal bagi UMKM untuk menjangkau pasar ekspor, termasuk melalui transaksi ritel dengan konsumen di negara lain.
Ia menyebut transaksi yang pada awalnya dilakukan dalam jumlah satuan berpeluang berkembang menjadi transaksi antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B) apabila produk yang dibeli menarik minat importir.
“Yang membeli itu bisa jadi sebenarnya importir. Yang membeli importir kemudian tahu produknya bagus, nanti komunikasi akhirnya bisa ekspor,” ujar Budi.