Kronologi Kepala SPPG Muntah Usai Santap MBG di Karanganyar

MBG untuk 94 siswa SDN 2 Jati batal dibagikan. Kepala SPPG Jati muntah usai mencicipi ayam rempah. 300 porsi ditarik, Abra tegaskan tidak ada yang keracunan.

oleh Arie SunaryoDiterbitkan 13 Agustus 2026, 17:22 WIB
Lokasi Kepala SPPG keracunan di Karanganyar. (merdeka.com/istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk 94 siswa SDN 2 Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dibatalkan pada Rabu (12/8/2026). Keputusan diambil setelah Kepala SPPG Jati, Abra Yodha Raya, merasakan mual dan muntah usai mencicipi menu ayam rempah yang disiapkan untuk pembagian hari itu. Ia juga mengaku sempat pusing setelah uji rasa.

Abra mengatakan laporan awal datang dari chef dapur yang mendeteksi kejanggalan pada aroma masakan. Menyusul itu, ahli gizi di lokasi juga melakukan pengecekan dan menyampaikan temuan yang sama sebelum ia turun tangan.

"Saya dapat laporan dari dapur, dari chef-nya bilang 'Pak ini coba dirasakan sama bau, ini kalau dari saya ada agak aneh'. Ahli gizi juga sudah merasakan, laporan ke saya, terus saya turun tangan," kata Abra, Kamis (13/8).Menurut Abra, sekitar 10 orang ikut mencicipi menu tersebut, mulai dari tim dapur hingga ahli gizi. Namun hanya dirinya yang merasakan mual setelah uji rasa.

"Rasa itu enak, karena apa? Ketutup rempah. Tapi dari aroma enggak bisa dibohongi, Mas, aromanya memang beda, agak kecut gitu," ujar Abra.

Uji Rasa Berujung Pembatalan Menu Ayam Rempah

Masakan ayam rempah itu kemudian diuji organoleptik. Dari skala 1–5, hasilnya bernilai 2. Karena tidak memenuhi standar, menu otomatis tidak didistribusikan kepada penerima.

"Mungkin bisa jadi itu karena saya sorenya habis sepak bola pol-polan sampai lemas terus paginya kan jaga di sini, jadwal piket juga di sini. Kalau piket otomatis enggak tidur," kata dia.

 

 

300 Porsi Ditarik, Instruksi Turun dalam Menit

Menu ayam rempah untuk batch kedua disiapkan sebanyak 300 porsi. Beruntung, pembagian belum dimulai saat keputusan pembatalan diambil, sehingga semuanya ditahan sebelum keluar dari dapur.

Abra menyebut langkah cepat itu mencegah 300 porsi untuk batch kedua agar tidak sampai ke penerima. Menurutnya, sinyal awal datang dari dapur ketika ada laporan aroma masakan yang dinilai janggal oleh tim.

Pada Kamis (13/8), Abra menegaskan keputusan pembatalan bersifat pencegahan. Ia menyebut tidak ada pihak yang mengalami keracunan dan membantah adanya keracunan MBG di Karanganyar.

 SPPG Jati juga menarik kembali 300 porsi dari batch pertama yang sebagian sudah terlanjur didistribusikan. Penarikan menyasar seluruh paket yang sudah dan belum dikonsumsi sebagai langkah kehati-hatian.

"Batch pertama. Jadi sudah ada yang dimakan, ada yang belum, itu pokoknya ditarik semua. Itu langkah antisipasi. Bukan itu yang bahaya enggak, tapi itu langkah antisipasi kami seperti itu," ujar Abra.

"Ini adalah tindakan preventif, sekalian meluruskan bahwa tidak ada yang keracunan," kata Abra.

Abra menyatakan keputusan penarikan diambil sekitar pukul 08.01 WIB. Satu menit kemudian, sekitar pukul 08.02 WIB, ia memerintahkan jajarannya untuk menghubungi seluruh penanggung jawab dan pengemudi agar paket yang sedang dalam perjalanan segera ditarik.

"Langsung saya perintahkan, hubungi seluruh PIC, hubungi driver langsung untuk menarik semuanya," ujar Abra.

Supplier Lokal Disisir

Dia menambahkan, laporan peristiwa disampaikan secara berjenjang kepada pihak terkait, mulai dari koordinator wilayah hingga jenjang berikutnya sesuai struktur pelaporan yang berlaku. Menurutnya, kejadian ini merupakan yang pertama dialami SPPG Jati.

Bahan ayam untuk menu tersebut diketahui berasal dari pemasok di wilayah sekitar. Menyusul kejadian ini, SPPG Jati akan memperketat proses seleksi dan pemeriksaan bahan baku dari pemasok.

"Yang jelas kami akan memperketat lagi yang namanya pemilihan supplier," kata Abra.

Selain menyisir bahan baku, SPPG Jati juga memperkuat briefing internal. Tim akan mendapatkan pengarahan berkala sebelum proses pemasakan dan setelah pemorsian agar setiap tahapan lebih terpantau.

Abra menjelaskan pengaturan waktu produksi turut menjadi bagian dari pengarahan, sehingga alur kerja di dapur mulai dari penerimaan bahan, pengolahan, hingga pemorsian dapat diperiksa lebih ketat.

Untuk distribusi berikutnya, SPPG Jati memastikan produksi tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada rencana menggandakan jumlah makanan sebagai pengganti paket yang tidak dibagikan pada hari kejadian.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya