Liputan6.com, Jakarta - Ada cerita yang tidak selalu hadir lewat kata-kata. Sebagian justru tersimpan dalam selembar kain tenun, pada susunan benang, warna, motif, dan teknik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Cerita semacam itu kini dapat ditemui di Weaving Archipelago, instalasi yang menjadi bagian dari Glorify Indonesia 2026 di Senayan City. Berlangsung di area Promenade hingga 29 Agustus 2026, pameran ini membawa pengunjung menyusuri kekayaan tenun dari 10 daerah di Indonesia.
Advertisement
Sebanyak 20 kain pilihan hadir dalam satu ruang yang dirancang Rina Renville dengan konsep "Rajutan Nusantara,' menghadirkan gambaran Indonesia sebagai gugusan pulau yang saling terhubung.
"Selama 20 tahun, Senayan City percaya bahwa sebuah destinasi tidak hanya diukur dari apa yang dihadirkan, tapi juga dari kontribusinya dalam mendukung kreativitas, budaya, dan talenta Indonesia," kata Leasing & Marketing Communications Director Senayan City, Halina, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Konsep tersebut terasa melalui cara instalasi menyatukan keberagaman wastra dalam sebuah lanskap visual. Tenun ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan yang mengalir seperti lautan, sementara pulau-pulau Nusantara seolah bertemu dalam satu bentang yang dipeluk Ibu Pertiwi.
Ruang pamer pun tidak sekadar menjadi tempat untuk melihat kain, tapi menjadi pengalaman untuk memahami hubungan antara tradisi, masyarakat, dan identitas budaya. Setiap kain membawa karakter dari daerah asalnya.
Perbedaan teknik, motif, dan nilai yang terkandung di dalamnya memperlihatkan bahwa kekayaan wastra Indonesia tumbuh dari keragaman. Tangan para perajin menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut karena di balik keindahan kain terdapat ketekunan panjang dalam mempertahankan pengetahuan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam buku.
Creative Contributors
Perspektif baru kemudian hadir melalui interpretasi sembilan Creative Contributors, yaitu Auguste Soesastro, Chossy Latu, Denny Wirawan, Didi Budiardjo, Era Soekamto, Eridani, Priyo Oktaviano, Sebastian Gunawan, dan Wilsen Willim.
Para desainer menerjemahkan tenun pilihan dari berbagai daerah ke dalam karya busana yang mempertemukan akar tradisi dengan bahasa desain masa kini. Pertemuan itu memperlihatkan bahwa tenun memiliki ruang yang luas untuk terus berkembang.
Kain yang lahir dari tradisi dapat hadir dalam siluet kontemporer tanpa harus kehilangan identitas yang melekat di dalamnya. Kreativitas para desainer justru membuka cara pandang baru agar generasi masa kini dapat melihat wastra Nusantara dari jarak yang lebih dekat.
Tak Berhenti pada Pelestarian Kain
Bagi Cita Tenun Indonesia, perjalanan tersebut tidak berhenti pada pelestarian kain. Selama hampir dua dekade, organisasi nirlaba ini mendampingi perajin melalui pemberdayaan, edukasi, peningkatan kualitas, serta pengembangan kolaborasi yang membantu tenun menemukan relevansinya di tengah perubahan zaman.
"Tenun bukan sekadar selembar kain, melainkan warisan budaya yang menyimpan sejarah, identitas, dan perjalanan masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi," ujar Sekretaris Jenderal Cita Tenun Indonesia, Intan Fauzi.
Semangat menjaga keberlanjutan itulah yang turut menjadi alasan Senayan City memberikan Infinite Merit Award 2026 pada Cita Tenun Indonesia. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas perjalanan CTI dalam mendukung para perajin, sekaligus menjaga agar tradisi tenun tetap memiliki masa depan.
Kehadiran TACO dalam Glorify Indonesia 2026 memperluas ruang eksplorasi tersebut. Kolaborasi ini mempertemukan material modern dengan gagasan kreatif para desainer, menunjukkan bahwa inovasi dapat berjalan berdampingan dengan warisan budaya.
Ketekunan Tangan Perajin
"Melalui kolaborasi ini, TACO ingin mendorong lahirnya karya-karya yang menghadirkan interpretasi baru terhadap warisan budaya Indonesia sekaligus menunjukkan bagaimana inovasi material dapat memperkaya desain kontemporer," sebut Chief Marketing Officer TACO, Anastasia Tirtrabudi, dalam keterangannya.
Weaving Archipelago pada akhirnya mengajak pengunjung melihat tenun dengan cara yang lebih utuh. Ada tangan perajin yang bekerja dengan ketekunan, ada pengetahuan yang diwariskan, ada desainer yang menerjemahkan kembali maknanya, serta ada berbagai pihak yang membuka ruang agar warisan tersebut terus bergerak.
Momentum perayaan 20 tahun Senayan City pun menemukan maknanya melalui perjumpaan antara tradisi dan masa kini. Di tengah kemeriahan Glorify Indonesia 2026, deretan kain dari 10 daerah itu seolah mengingatkan bahwa Indonesia memiliki banyak cerita untuk dirawat.
Benang-benang yang berbeda dapat bertemu, saling menguatkan, lalu membentuk satu kisah besar tentang Nusantara yang terus hidup.