Perang Iran Picu Krisis Mental di Kapal Induk AS

Situasi di kapal induk USS Abraham Lincoln ini menjadi sorotan di tengah perang Iran yang belum menemukan titik akhir.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 13 Agustus 2026, 10:02 WIB
Kapal induk kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, berlayar di Samudra Atlantik saat mengikuti latihan transit selat. (Dok. US Navy/Mass Communication Specialist 3rd Class Clint Davis/US DoD)

Liputan6.com, Washington, DC - Keluarga para personel militer dan anggota Kongres Amerika Serikat (AS) menyuarakan kekhawatiran atas memburuknya kondisi kesehatan mental di kapal induk USS Abraham Lincoln. Sekitar 5.000 pelaut dan marinir di kapal tersebut telah menjalani penugasan panjang di laut di tengah perang Iran.

Dua media militer terkemuka, Navy Times dan Stars and Stripes, melaporkan sejumlah pelaut sempat mencoba melompat dari kapal. Buruknya kondisi kehidupan dan beratnya tekanan mental selama penugasan disebut telah mencapai titik kritis.

Para awak kini memasuki bulan kesembilan penugasan di laut. Mereka telah menghabiskan 250 hari berturut-turut tanpa menginjak daratan, yang disebut sebagai rekor bagi awak kapal induk pada era modern.

Menurut Stars and Stripes, kekhawatiran keluarga para awak mengemuka dalam pertemuan dengan jajaran pimpinan Angkatan Laut AS di San Diego pada Kamis (6/8/2026).

Dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 200 anggota keluarga itu, istri salah satu awak mengatakan suaminya mengirim pesan pada hari yang sama dan berkata bahwa "dia berharap tidak bangun lagi besok".

Keluhan keluarga disampaikan langsung kepada jajaran pimpinan Angkatan Laut AS. Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao dan sejumlah pejabat tinggi lainnya hadir dalam pertemuan tersebut.

Stars and Stripes melaporkan, seorang perempuan dalam pertemuan itu mengatakan kepada Cao bahwa kepercayaan keluarga awak terhadap pimpinan angkatan laut telah rusak.

Sementara itu, Navy Times mengungkap sejumlah percobaan bunuh diri yang berhasil dicegah di USS Abraham Lincoln selama penugasan kali ini.

Annabelle Loma mengatakan kepada media tersebut bahwa suaminya sempat mencoba melompat dari kapal setelah masa tugasnya di laut terus diperpanjang.

"Dia takut. Dia berpikir akan diberhentikan dengan tidak hormat, dan hanya karena kelelahan, kariernya selama 13 tahun hancur begitu saja," kata Loma.

Navy Times turut mengutip istri seorang pelaut lainnya. Suaminya terlibat dalam insiden berbeda ketika mencegah seorang awak melompat dari kapal dengan menangkap dan menariknya kembali ke dek.

Mike Levin, anggota Kongres dari Partai Demokrat asal California, turut memperingatkan buruknya kondisi di USS Abraham Lincoln, yang kini memasuki bulan kelima operasi tempur melawan Iran.

Melalui X, Levin menggambarkan kondisi yang dihadapi para awak sebagai "kamar mandi berjamur, toilet rusak, fasilitas pencucian pakaian tidak berfungsi selama berminggu-minggu, serta berhari-hari tanpa air panas".

Ia mengatakan para awak bahkan pernah mendapat makanan yang hanya terdiri atas setengah cangkir nasi dan dua tortilla. Sabun, deodoran, dan pasta gigi juga disebut tidak tersedia.

Jason Crow, anggota Kongres dari Partai Demokrat asal Colorado yang merupakan mantan prajurit Ranger Angkatan Darat AS dan pernah bertugas di Afghanistan serta Irak, memperingatkan bahwa tekanan terhadap para personel dan keluarga mereka di USS Abraham Lincoln "terus meningkat dari minggu ke minggu".

 

Masa Tugas Diperpanjang, Tekanan Meningkat

Kondisi tersebut sebenarnya telah memburuk selama berbulan-bulan.

USS Abraham Lincoln meninggalkan San Diego pada 21 November. Kapal itu semula dijadwalkan bertugas di kawasan Pasifik, tetapi kemudian dialihkan ke Timur Tengah setelah perang AS dan Israel melawan Iran dimulai.

Sejak saat itu, menurut laporan MS Now, lebih dari 5.000 awak kapal hanya sempat menghabiskan dua hari di daratan, masing-masing di Guam pada Desember dan Oman pada Juli.

Masa penugasan mereka semula dijadwalkan berakhir pada Mei, tetapi telah beberapa kali diperpanjang karena perang masih berlangsung.

Pada April, kondisi buruk di kapal induk tersebut sempat memicu gelombang kritik. Foto-foto yang beredar menunjukkan makanan berkualitas buruk dengan porsi terbatas. Ada pula laporan mengenai kekurangan air, kamar mandi berjamur, dan mesin cuci yang rusak.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat itu menepis laporan tersebut sebagai "berita palsu lagi".

Levin menanggapi pernyataan Hegseth pada pekan ini.

"Para pria dan perempuan ini mendaftar untuk mengabdi kepada negaranya. Paling tidak, negara wajib memberi mereka air panas, toilet yang berfungsi, dan makanan yang layak. Hegseth bahkan tidak mampu menyediakan itu, tetapi masih berani menatap keluarga mereka dan menyebut mereka pembohong," ujar Levin.

The Guardian menghubungi Angkatan Laut AS untuk meminta tanggapan terkait laporan mengenai percobaan sejumlah pelaut melompat dari kapal.

Setelah artikel tersebut diterbitkan, seorang pejabat Angkatan Laut AS memberikan tanggapan. Ia mengatakan pihaknya menyadari bahwa "masa penugasan yang panjang memberikan tekanan besar terhadap para personel militer dan keluarga mereka, dan kami berterima kasih atas ketangguhan serta pengorbanan mereka".

Pejabat tersebut menegaskan kesehatan dan kesejahteraan seluruh awak USS Abraham Lincoln menjadi prioritas.

"Berdasarkan informasi yang tersedia bagi komando, kami belum menemukan adanya peningkatan laporan mengenai pikiran untuk bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di atas kapal," tuturnya.

Menurut pejabat tersebut, para awak memiliki akses terhadap tenaga keagamaan, medis, dan kesehatan mental sebagai bagian dari "jaringan dukungan komprehensif". Dukungan itu mencakup konselor yang mendampingi awak selama penugasan serta rohaniwan di kapal.

Ia mengakui perang telah mengganggu jalur pasokan yang biasanya digunakan. Namun, ia mengatakan laporan terbaru dari kapal menunjukkan para awak tetap memiliki akses terhadap air bersih, pendingin udara yang berfungsi, serta pilihan makanan sehat.

Masalah kesehatan mental di kalangan personel aktif Angkatan Laut AS sendiri telah lama menjadi perhatian.

Sebuah penelitian yang terbit tahun lalu mengkaji berbagai sumber tekanan yang secara khusus dihadapi pelaut selama menjalani penugasan. Faktor yang paling umum antara lain kebisingan, kurang istirahat, serta layanan kesehatan fisik dan mental yang tidak memadai.

Para peneliti melakukan survei terhadap pelaut yang sedang bertugas dan menemukan hampir separuh responden merasa tidak mendapatkan bantuan yang memadai untuk menghadapi tekanan selama berada di laut.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa "mengingat tingginya angka bunuh diri di kalangan militer, termasuk di angkatan laut, upaya untuk meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan di kapal sangat mendesak".

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya