Jejak Naskah Proklamasi Tulisan Bung Karno Nyaris Masuk Tong Sampah

Naskah tulisan tangan Soekarno sempat ditinggalkan begitu saja setelah diketik Sayuti Melik. Lalu, siapa yang menyelamatkannya?

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 15 Agustus 2026, 06:01 WIB
Gambar Naskah atau teks proklamasi yang diklaim tulisan tangan Bung Karno sebelum diketik dan dibacakan. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Dua lembar naskah menjadi saksi penting lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Satu ditulis tangan oleh Soekarno, berdasarkan pembicaraan bersama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo. Satu lagi merupakan naskah yang kemudian diketik Sayuti Melik.

Namun, ada cerita menarik di balik naskah tulisan tangan Soekarno tersebut. Setelah selesai diketik, naskah asli itu ternyata sempat ditinggalkan begitu saja di atas meja.

Bahkan, Sayuti Melik sempat mengira konsep tulisan tangan tersebut sudah hilang.

Kisah itu bermula pada malam 16 Agustus 1945. Penyusunan naskah Proklamasi berlangsung di rumah Laksamana Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Jepang, di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta.

Meski penyusunan dilakukan di rumah seorang petinggi militer Jepang, tidak ada orang Jepang yang ikut dalam pembahasan naskah. Maeda hanya menyediakan tempat.

Pada awal pertemuan, Soekarno bahkan menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), melainkan rapat wakil-wakil rakyat Indonesia.

Menurut Sayuti Melik dalam buku Wawancara dengan Sayuti Melik yang disusun Arief Priyadi dan diterbitkan Yayasan Proklamasi Centre for Strategic and International Studies pada 1986, hanya tiga orang yang menyusun konsep naskah Proklamasi.

Mereka adalah Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo.

Sementara itu, di dalam ruangan terdapat dua orang lainnya, yakni Sukarni dan Sayuti Melik.

Peran keduanya saat itu lebih banyak mengamati jalannya pembahasan.

"Kami berdua hanya menganggukkan kepala saja kalau ditanya," kata Sayuti Melik tentang perannya di ruang itu bersama Sukarni.

Dalam penyusunan konsep, Hatta dan Soebardjo lebih banyak berbicara. Soekarno kemudian menuliskan rumusan yang dibahas tersebut.

Setelah selesai, konsep tulisan tangan itu dibacakan kepada para wakil bangsa Indonesia yang hadir.

Pembahasan belum selesai. Wakil pemuda Chaerul Saleh menolak apabila naskah tersebut ditandatangani oleh anggota PPKI lainnya. Ia menyebut mereka sebagai orang-orang Jepang.

Lobi kemudian dilakukan hingga akhirnya disepakati naskah Proklamasi ditandatangani Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Setelah kesepakatan tercapai, Soekarno meminta Sayuti Melik mengetik naskah tersebut.

"Ti, ti, tik..tik!" demikian perintah Soekarno ketika itu.

Sayuti kemudian membawa konsep tulisan tangan Soekarno ke ruangan lain untuk diketik.

Dalam proses pengetikan itu, terdapat beberapa perubahan. Salah satunya mengubah frasa "wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama Bangsa Indonesia".

Sayuti juga mengaku menambahkan nama Soekarno-Hatta pada bagian akhir naskah.

"Saya berani mengubah ejaan itu adalah karena saya dulu pernah sekolah guru, jadi kalau soal ejaan bahasa Indonesia saya merasa lebih mengetahui daripada Bung Karno," kata Sayuti.

Setelah selesai mengetik, naskah tulisan tangan Soekarno justru ditinggalkan di atas meja.

Naskah ketikan kemudian dibacakan kembali dan ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta.

Menurut Sayuti, dirinya tidak mengetik naskah tersebut dalam beberapa rangkap. Artinya, hanya ada satu salinan naskah ketikan Proklamasi.

Di titik inilah muncul pertanyaan, ke mana perginya konsep asli tulisan tangan Soekarno?

Disimpan Diam-Diam

Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, alasan Presiden Sukarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan adalah karena Bung Karno mempercayai mistik. (Dok.Arsip Nasional RI)

Naskah yang sempat ditinggalkan itu ternyata tidak berakhir di tempat sampah.

Seorang wartawan muda bernama Burhanuddin Muhammad Diah atau BM Diah menyadari pentingnya kertas tersebut. Saat itu, usianya baru 28 tahun.

BM Diah dikenal sebagai wartawan dan kemudian menjadi salah satu tokoh pers nasional. Ia mendirikan koran Merdeka dan Asia Raya, serta turut mendirikan Pedoman.

Dalam otobiografinya berjudul Butir Butir Padi BM Diah (Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman) yang diterbitkan Pustaka Merdeka pada 1992, BM Diah menceritakan bagaimana ia menyelamatkan konsep tulisan tangan tersebut.

"Saya yang sejak semula bernaluri wartawan walaupun di tempat itu duduk sebagai wakil pemuda, ikut serta bersama Sayuti Melik ke kamar sebelah. Setelah selesai mengetik, kertas proklamasi asli yang hanya diletakkan saja di atas meja sewaktu Sayuti Melik menyerahkan teks yang diketik kepada Bung Karno saya simpan dalam saku. Saya tidak menyangka bahwa kertas tersebut menjadi dokumen penting di kemudian hari," tulis BM Diah.

 

 

Anggap Bentuk 'Penyelamatan'

Potret Sayuti Melik, saat di usia muda. (Istimewa)

Kertas itu pun tidak langsung diketahui keberadaannya oleh banyak orang.

Bahkan, Sayuti Melik mengira konsep tulisan tangan Soekarno sudah benar-benar hilang karena tidak lagi terlihat di atas meja.

Dalam buku Wawancara dengan Sayuti Melik, ia mengaku sempat menduga kertas tersebut berakhir di tempat sampah.

"Saya beranggapan bahwa konsep yang ditulis tangan oleh Bung Karno itu telah hilang, mungkin sudah sampai di tempat sampah dan musnah. Tetapi ternyata anggapan saya itu salah. Saudara BM Diah ternyata memberikan perhatian terhadap konsep naskah tulisan Bung Karno tadi. Mungkin beliau telah memikirkan untuk keperluan dokumentasi maka konsep itu diselamatkan," tutur Sayuti Melik.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya