Liputan6.com, Beijing - Mantan Perdana Menteri China Zhu Rongji meninggal dunia pada usia 97 tahun karena sakit. Zhu dikenang sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam mendorong reformasi ekonomi yang kemudian menjadi salah satu fondasi kebangkitan ekonomi luar biasa China.
Kantor berita Xinhua melaporkan Zhu meninggal pada Rabu (12/8/2026) pukul 11.06 waktu setempat.
Advertisement
Dikutip dari Channel News Asia, Zhu menjabat sebagai wakil perdana menteri China pada 1991 hingga 1998, sebelum kemudian menjadi perdana menteri hingga awal 2003.
Dalam berita duka yang dikutip Xinhua, Zhu disebut sebagai “anggota terkemuka Partai Komunis China, pejuang komunis yang telah teruji dan loyal”.
“Hidup Kamerad Zhu Rongji adalah kehidupan revolusi, kehidupan perjuangan, kehidupan yang penuh kejayaan,” demikian pernyataan tersebut.
“Ini adalah kehidupan yang sepenuhnya didedikasikan untuk melayani rakyat, kehidupan yang diberikan untuk perjuangan komunis. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi partai dan negara.”
Tokoh Penting Reformasi Ekonomi China
Zhu merupakan lulusan Universitas Tsinghua di Beijing. Ia bergabung dengan Partai Komunis China pada 1949, tahun yang sama ketika Mao Zedong mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat China.
Zhu sempat dikirim ke pedesaan selama kekacauan Revolusi Kebudayaan. Setelah dipulihkan secara politik, kariernya perlahan menanjak hingga pada 1987 ia ditunjuk sebagai wali kota Shanghai.
Di Shanghai, Zhu mengawasi langkah awal kota tersebut menuju transformasi menjadi pusat keuangan global seperti sekarang.
Pada 1991, Zhu pindah ke Beijing untuk bekerja di pemerintahan pusat. Ia kemudian turut mendorong berbagai reformasi yang mengubah China dari negara yang tertekan akibat runtuhnya komunisme bergaya Soviet pada awal 1990-an menjadi negara yang tengah berkembang sebagai kekuatan besar dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang membuat negara-negara lain iri.
Zhu juga berperan dalam mengendalikan perekonomian China yang mengalami overheating pada awal 1990-an. Saat menjabat perdana menteri, ia mendorong reformasi yang menutup atau memprivatisasi banyak perusahaan milik negara dan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap para pekerjanya.
Ia juga menarik kewenangan perpajakan dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat serta meluncurkan reformasi kepemilikan perumahan yang kemudian memicu pertumbuhan pesat sektor properti.
Namun, salah satu pencapaian terbesarnya adalah keberhasilannya membawa China masuk ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2002 setelah melalui negosiasi yang panjang dan berat.
Saat itu, banyak pejabat China khawatir Zhu telah memberikan terlalu banyak konsesi demi mendapatkan keanggotaan WTO sehingga perekonomian China justru akan terhambat.
Meski demikian, masa kepemimpinan Zhu tidak sepenuhnya dianggap sukses oleh seluruh pengamat China. Sebagian menilai kesalahan dalam kebijakan pangan, distribusi pajak, serta penutupan pabrik-pabrik milik negara menimbulkan persoalan yang kemudian harus dibereskan oleh para penerusnya secara lebih perlahan.
Dikenal Blak-blakan
Zhu Rongji juga dikenal sebagai pemimpin yang tidak pernah ragu menyampaikan pendapatnya secara terus terang.
Ketika kumpulan pidatonya yang terdiri dari empat volume diterbitkan pada 2011, para pembaca dibuat terkejut oleh berbagai ungkapannya. Zhu pernah menyebut tanggul banjir yang dibangun dengan buruk sebagai “ampas tahu” dan menyebut para pelakunya sebagai “parasit”. Ia juga menyebut bankir yang melakukan kesalahan sebagai orang yang “setengah bodoh”.
Komentar-komentarnya yang blak-blakan selama berkuasa kemudian menjadi buku terlaris. Pernyataan tersebut menarik perhatian pembaca di tengah pandangan bahwa para pemimpin China pada masa itu cenderung berhati-hati dan sering menyampaikan pernyataan publik yang datar.
Antusiasme terhadap kumpulan pidato Zhu juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam di China ketika negara tersebut bersiap menghadapi transisi kepemimpinan yang kemudian mengantarkan Xi Jinping menjadi pemimpin.
Banyak persoalan yang menghantui perekonomian China menjelang Xi berkuasa juga telah menjadi perhatian Zhu. Masalah tersebut mencakup utang pemerintah daerah, pemberian pinjaman bank secara sembrono, inflasi, pertumbuhan perkotaan yang pesat, serta korupsi yang menggerogoti kepercayaan dan kas publik.
“Negara kita menghadapi banyak potensi krisis yang dapat meledak kapan saja,” kata Zhu pada awal 1998.
“Rakyat biasa tidak puas dengan kita dalam banyak hal. Terutama korupsi di kalangan pejabat, kesenjangan antara kaya dan miskin, serta cara sejumlah pejabat daerah bertindak seperti tiran.”
Zhou Ruijin, mantan redaktur senior People's Daily, surat kabar resmi Partai Komunis China, pada 2011 mengatakan bahwa para pemimpin yang diperkirakan menggantikan Presiden Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao saat itu memiliki banyak hal untuk dipelajari dari Zhu.
“Era Zhu Rongji adalah masa ketika reformasi besar didorong, dan era itu melahirkan sekelompok pengambil risiko yang berani dan berada di garis depan dalam merintis ekonomi pasar,” kata Zhou dalam wawancara dengan South Breeze Window, majalah yang secara historis mendukung reformasi dan diterbitkan di China selatan.
“Hari ini ... masih ada potensi untuk mengambil langkah besar dalam reformasi,” ujarnya.