Liputan6.com, Jakarta - Badan Energi Internasional atau the International Energy Agency (IEA) mengatakan, permintaan minyak dunia akan turun lebih dalam dari perkiraan sebelumnya pada 2026. Hal ini seiring semakin parahnya dampak penutupan Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, Rabu (12/8/2026), IEA memprediksi permintaan minyak akan turun 1,6 juta barel per hari pada 2026. Angka ini 510.000 barel per hari lebih tinggi dibandingkan perkiraan bulanan terakhir pada Juli.
Advertisement
IEA menyebutkan, harga bahan bakar tinggi yang akan terus membebani tingkat konsumsi meskipun permintaan akan meningkat sepanjang tahun dan kembali tumbuh pada kuartal terakhir.
Situasi di Selat Hormuz masih diliputi ketidakpastian. Kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk membuka kembali jalur air vital tersebut belum juga tercapai karena kedua belah pihak terus melontarkan tuntutan secara terbuka.
"Munculnya kembali konflik dan gangguan pelayaran menghambat upaya peningkatan pasokan minyak global," ujar IEA pada Rabu pekan ini.
Adapun pasokan pada Juli tercatat 6,3 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal ini memicu volatilitas harga minyak mentah. Minyak mentah Brent, sebagai acuan internasional, sempat melampaui angka US$100 per barel bulan lalu, namun juga sempat turun hingga mendekati US$ 70 per barel. Terakhir, harganya diperdagangkan sedikit di bawah US$ 90 per barel.
Kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan minyak yang dapat mengguncang stabilitas global akibat penutupan selat tersebut pada Maret ternyata tidak terbukti. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penurunan tajam impor Tiongkok, penggunaan rute pelayaran alternatif, dan pengurangan cadangan minyak.
Cadangan Minyak Mentah AS Turun
Data minggu ini menunjukkan cadangan minyak mentah AS telah turun di bawah 300 juta barel, tingkat terendah dalam lebih dari empat dekade.
Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah relatif terkendali karena para pedagang terus bereaksi terhadap setiap sinyal yang mengindikasikan kemungkinan tercapainya kesepakatan, sebuah situasi yang menurut para analis tidak akan bertahan selamanya.
Konsumen turut merasakan dampaknya, mengingat kapasitas kilang, yang menentukan harga produk seperti bensin dan solar, mengalami kendala yang sangat berat.
Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahunan menjadi 3% dari sebelumnya 3,3% sejak pecahnya perang Iran pada Februari.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, sebelumnya menyatakan tahun ini segala arah kini menuju pada harga lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.