Liputan6.com, Bogota - Efrain Gallego masih yakin kakaknya akan ditemukan dalam keadaan hidup setelah gempa Kolombia meruntuhkan sebuah gedung di Cali. Namun, setiap kali membicarakan sang kakak yang masih terjebak di bawah reruntuhan, suaranya bergetar. Ia beberapa kali terdiam menahan emosi sebelum kembali melanjutkan bicara.
"Rasanya sangat menyesakkan. Setiap kali ada kabar seseorang ditemukan masih hidup, harapan kami muncul lagi bahwa dia juga akan ditemukan," kata Gallego dengan suara penuh emosi seperti dilaporkan BBC.
Advertisement
Kakaknya yang berusia 80 tahun tertimbun bersama istrinya ketika gedung Torres del Limonar di Cali ambruk.
Kota di wilayah barat daya Kolombia itu menjadi salah satu daerah yang paling parah terdampak gempa.
Torres del Limonar pun menjadi simbol tragedi yang melanda kota terpadat ketiga di Kolombia tersebut.
Cali memiliki lebih dari dua juta penduduk. Menurut Wali Kota Alejandro Eder, sedikitnya 95 orang tewas.
Di bawah terik matahari pada Selasa (11/8/2026) pagi, Torres del Limonar kini hanya berupa tumpukan puing. Kasur, perabotan, dan barang-barang milik penghuni tampak menyembul di antara bongkahan beton.
Di atas reruntuhan, tim penyelamat dan para relawan terus bekerja.
"Semua diam (petugas meminta semua orang di lokasi menghentikan suara agar bisa mendengar respons dari korban di bawah reruntuhan)! Kami dari pemadam kebakaran. Kalau Anda bisa mendengar kami, berteriaklah atau buat suara apa pun."
Seruan itu berulang kali terdengar setiap kali tim menggali cukup dalam dan merasa sudah mendekati kemungkinan lokasi korban yang masih hidup.
Saat itulah harapan Gallego kembali tumbuh. Namun, detik demi detik berlalu tanpa jawaban dari balik reruntuhan.
Torres del Limonar merupakan satu dari lebih dari 50 bangunan yang ambruk di Cali.
Gedung itu berada di kawasan Capri, bagian selatan kota. Bangunan empat lantai tersebut memiliki puluhan unit apartemen. Belum diketahui secara pasti berapa orang yang berada di dalam gedung ketika bangunan itu runtuh.
Di sekitarnya, selain terlihat sejumlah retakan, bangunan-bangunan lain luput dari nasib yang menimpa Torres del Limonar.
Tim penyelamat, personel militer, relawan, paramedis, petugas pemadam kebakaran, pekerja kemanusiaan, hingga jurnalis berdatangan ke lokasi.
Lebih dari 100 orang menunggu kabar di sekitar lokasi. Menurut Eder, hingga Senin malam diperkirakan masih ada 25 orang yang terjebak di bawah reruntuhan.
Eder memberlakukan jam malam agar operasi pencarian dan penyelamatan bisa berlangsung lebih cepat.
Malam berlalu, tetapi penggalian tidak berhenti. Seorang anggota tim penyelamat di lokasi mengatakan sekitar 10 orang telah berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat sejak gedung itu runtuh.
Laporan media lokal, termasuk radio Blu Pacifico, menyebut salah satu yang berhasil diselamatkan adalah bayi yang baru berusia beberapa bulan.
"Yang bisa saya pastikan saat ini, sedikitnya ada dua orang yang terdeteksi masih hidup. Tim sedang membuat jalur untuk mengeluarkan mereka. Salah satunya masih harus dibebaskan dari reruntuhan yang menjepit kakinya," kata anggota tim penyelamat James Velasco.
Menurut Badan Geologi Nasional, gempa magnitudo 7,4 yang mengguncang Kolombia pada Senin (10/8), merupakan gempa terburuk yang melanda negara itu sepanjang abad ini.
Selain Cali, gempa menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di wilayah lain, termasuk Choco di bagian barat laut Kolombia.
Di sekitar puing-puing Torres del Limonar, tidak banyak warga yang bersedia berbicara seperti Gallego. Banyak di antara mereka memilih diam. Wajah mereka memperlihatkan kelelahan dan kesedihan.
Sebagian tertidur kelelahan di tanah atau di sofa yang diletakkan di pinggir jalan. Sebagian lainnya berkumpul di tempat teduh, saling menemani sambil menunggu kabar.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Semakin lama menunggu, kecemasan pun semakin besar.
Namun, Velasco masih menyimpan harapan.
"Dalam operasi sebelumnya, saya pernah ikut mengevakuasi korban yang ditemukan masih hidup setelah tujuh hari terjebak," tuturnya. "Kalau memang seseorang ditakdirkan selamat, dia akan selamat. Belum ada yang bisa memastikan bagaimana akhirnya."
Warga Turun Tangan Membantu
Di tengah kecemasannya, Gallego tidak lupa menyoroti peran warga yang datang membantu proses penyelamatan.
"Kita harus mengapresiasi semua orang yang datang membantu dengan membawa air, logistik, perkakas, dan berbagai perlengkapan. Banyak sekali yang ikut turun tangan. Relawan juga berdatangan," katanya.
Alejandro Mahecha (19) merupakan salah satu relawan tersebut. Ia memutuskan datang setelah melewati malam bersama keluarganya dalam keadaan selamat dan mulai pulih dari keterkejutan akibat gempa.
"Sejak awal saya ingin membantu. Gempa ini berdampak pada kota saya dan rumah orang-orang yang saya kenal. Saya datang ke sini karena banyak orang membicarakan gedung ini dan kebutuhan bantuan di lokasi," kata Mahecha.
Bersama sejumlah temannya, Mahecha membantu menyingkirkan puing, membawakan air untuk tim penyelamat, serta membersihkan jalan agar proses evakuasi bisa berjalan lebih lancar.
Di tengah kesibukan itu, suara palu dan gergaji terus terdengar. Peralatan tersebut digunakan untuk membuka jalur di antara reruntuhan agar korban bisa dievakuasi.
Suara palu dan gergaji hanya berhenti ketika orang-orang di lokasi mengangkat tangan. Isyarat tersebut berarti semua orang harus diam.
Gallego pun kembali menunggu. Belum ada kabar tentang kakaknya.