Liputan6.com, Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan menuntut Iran membayar kompensasi atas kematian ribuan tentara AS serta warga sipil Iran yang tewas dalam berbagai konflik selama beberapa dekade terakhir.
Pernyataan tersebut menjadi tanda terbaru bahwa perundingan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz menghadapi kebuntuan.
Advertisement
Dikutip dari The Guardian, Rabu (12/8/2026), Trump saat ini berupaya mengakhiri konflik di Iran, Gaza, dan Lebanon. Namun, tuntutan tambahan terhadap Iran tersebut berpotensi memicu kemarahan di Teheran. Di saat yang sama, Israel juga telah menolak persyaratan Trump dalam peta jalan 15 poin untuk mengakhiri perang di Gaza.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengatakan tuntutan kompensasi perang itu disampaikan sebagai respons terhadap negosiator Iran yang sebelumnya mengajukan tuntutan serupa terkait kerugian akibat perang selama lima bulan yang telah menewaskan ribuan orang serta menghancurkan militer dan perekonomian Iran.
“Sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran untuk semua orang yang telah mereka bunuh dan lukai parah dengan bom pinggir jalan serta dalam berbagai konflik yang menjadi ciri mereka, yang awalnya dipimpin oleh Jenderal Soleimani. Ini termasuk keluarga mereka yang tewas di USS Cole dan ribuan orang lainnya yang tewas dalam pertempuran,” tulis Trump.
“Selain itu, kompensasi harus dibayarkan kepada keluarga ratusan ribu demonstran tidak bersalah yang telah dibunuh Iran selama 50 tahun terakhir, belum lagi 52.000 orang yang telah tewas dalam lima bulan terakhir.”
Tuntutan tersebut kemungkinan besar akan sulit diterima oleh para pemimpin Iran dalam perundingan damai yang tengah berlangsung. Perundingan itu bertujuan membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia sebelum AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada akhir Februari.
Trump dan sejumlah negosiator senior AS telah berulang kali menyatakan kesepakatan sudah semakin dekat. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan yang terealisasi.
Pernyataan Trump muncul setelah serangkaian kemunduran dalam upayanya mengakhiri sejumlah konflik di Timur Tengah sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November. Harga minyak dan inflasi yang tinggi diperkirakan dapat merugikan Partai Republik dalam pemilu tersebut.
Benjamin Netanyahu Menolak Rencana 15 Poin
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu menyatakan menolak rencana 15 poin yang didukung Trump dan Dewan Perdamaian untuk mengakhiri perang Israel di Gaza.
Netanyahu sebelumnya mengatakan Hamas harus sepenuhnya melucuti senjata sebelum Israel mempertimbangkan penarikan pasukan dari Gaza. Sikap tersebut berbeda dengan proposal Dewan Perdamaian yang mengusulkan penarikan pasukan secara bertahap.
Netanyahu menyebut keputusan tersebut sebagai penolakan terhadap tekanan AS agar Israel berdamai dalam sejumlah perang di Timur Tengah.
“Berbeda dengan mereka yang menggurui kami, kami melakukan apa yang perlu dilakukan demi keamanan Israel. Kami mampu dan tahu bagaimana mempertahankan pendirian kami, bahkan terhadap sahabat terbaik ketika diperlukan,” kata Netanyahu.
Trump belum menanggapi pernyataan Netanyahu secara langsung. Pernyataan tersebut menjadi salah satu perbedaan pendapat terbuka antara pemimpin AS dan sekutu terdekatnya di Timur Tengah. Namun, ketika ditanya wartawan di Ruang Oval pada Senin, Trump mengatakan hubungannya dengan Netanyahu “sangat baik”.
Trump kemudian terus meningkatkan tekanan terhadap Iran. Sekitar satu jam setelah unggahan pertamanya yang menuntut kompensasi perang dari Teheran, ia memperluas tuntutan tersebut dengan memasukkan korban konflik baru-baru ini di sejumlah wilayah Timur Tengah.
“Selain itu, terkait perundingan dengan Iran, Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang dialami masyarakat Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!” tulis Trump.