Pemerintah Siapkan RUU Keamanan Siber dan Satu Data Indonesia, Ini Penjelasan Wamenkomdigi

Pemerintah terus mempercepat langkah dalam memperkuat arsitektur keamanan siber nasional. Berikut penjelasan Wamenkomdigi Nezar Patria.

oleh IskandarDiterbitkan 10 Agustus 2026, 15:21 WIB
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria, di peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta. Liputan6.com/Iskandar

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus mempercepat langkah dalam memperkuat arsitektur keamanan siber nasional. Selain menyiapkan infrastruktur dan talenta, pemerintah saat ini tengah menggodok payung hukum strategis guna menghadapi pesatnya kejahatan dan ancaman siber.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengungkapkan pemerintah bersama lembaga terkait sedang membahas dua rancangan undang-undang (RUU) penting untuk memperbaiki tata kelola data dan keamanan nasional.

"Kami semakin melangkah maju soal regulasi. Saat ini sedang dibahas Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber yang digawangi BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara). Selain itu, kami juga mempersiapkan Rancangan RUU Satu Data Indonesia agar data governance menjadi lebih baik dan tertata," kata Nezar Patria saat menghadiri peresmian ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Ia menjelaskan, eskalasi ancaman siber yang kian masif menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pemangku kepentingan. Regulasi yang kuat diperlukan untuk memberikan kepastian hukum sekaligus menjadi landasan operasional dalam melindungi aset data strategis bangsa.

Meski demikian, Nezar mengakui regulasi harus diimbangi dengan kesiapan talenta digital di lapangan. Untuk itu, Komdigi terus mendorong program-program pelatihan digital yang selaras dengan kebutuhan industri praktis.

"Untuk memperkuat arsitektur cybersecurity secara nasional, kita membutuhkan modul-modul pelatihan agar anak-anak kita, terutama di kampus, bisa catch up dengan perkembangan terbaru. Kami di Komdigi memiliki program pelatihan AI yang nantinya bisa disinergikan dengan ITSEC Cyber & AI Academy," ia menerangkan.

Nezar menilai, skema pendidikan siber yang berfokus pada ranah praktis akan sangat efektif memangkas kesenjangan kemampuan (skill gap) antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri ketahanan siber.

 

Membangun Ekosistem Keamanan Siber

CEO ITSEC Asia, Patrick Rudolf Dannacher, di peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta. Liputan6.com/Iskandar

Sementara itu, CEO ITSEC Asia, Patrick Rudolf Dannacher, menegaskan pentingnya dukungan pemerintah dalam membangun ekosistem keamanan siber yang tangguh.

Pihaknya menyediakan ratusan modul pelatihan terapan yang mencakup penanganan risiko siber saat ini hingga mitigasi ancaman AI di masa depan.

"Dukungan dari pemerintah sangat penting untuk melatih sebanyak mungkin orang. Dengan menciptakan ekosistem talenta dan inovasi baru, Indonesia tidak hanya siap menghadapi tantangan siber hari ini, tetapi juga siap menyongsong masa depan digital yang aman," pungkas Patrick.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya