Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman turun langsung menyalurkan bantuan pangan beras di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menyusul keluhan harga beras mahal di wilayah tersebut.
Tindakan Amran dipantik oleh keluhan salah satu mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) asal Alor, yang mengeluhkan harga beras mahal imbas biaya distribusi yang tinggi. Bahkan, harga beras per kilogram disebut bisa mencapai Rp 25.000-30.000.
Advertisement
“Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan pangan yang cukup dan bantuan yang menjadi haknya. Tidak boleh ada masyarakat yang merasa jauh dari perhatian pemerintah hanya karena berada di wilayah kepulauan atau pelosok," kata Amran dalam keterangan resmi, Sabtu (8/8/2026).
"Hari ini kami datang langsung ke Alor untuk memastikan bantuan pangan benar-benar sampai dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” imbuh dia.
Amran mengatakan, penyaluran bantuan pangan merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan Perum Bulog menjadi kunci agar program bantuan pangan dapat berjalan efektif hingga ke daerah.
“Kita ingin memastikan negara hadir bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui aksi nyata. Bantuan pangan harus sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, tepat sasaran dan tepat waktu. Karena itu, pemerintah bersama Bulog akan terus bekerja memastikan kebutuhan pangan masyarakat di seluruh Indonesia terpenuhi,” tutur dia.
30 Kilogram Beras per Penerima
Bantuan pangan beras disalurkan bagi 37.338 penerima di Kabupaten Alor, NTT. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani turut memastikan distribusi bantuan pangan diterima masyarakat. Beras disalurkan sebanyak 30 kilogram per penerima sebagai alokasi bantuan pangan tiga bulan.
“Ini bukan hanya soal menyalurkan beras, tetapi memastikan kehadiran negara dirasakan langsung oleh masyarakat. Bantuan yang disalurkan merupakan alokasi untuk tiga bulan, jadi nanti masing-masing keluarga akan mendapatkan 30 kilogram beras,” ujar Rizal.
Menurut Rizal, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi pangan. “Bagi BULOG, tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dilayani. Alor adalah bagian dari Indonesia, dan masyarakatnya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian serta akses pangan. Kami akan terus memastikan pangan hadir sampai ke masyarakat,” tegas Rizal.
Keluhan Mahasiswa Alor
Keluhan seorang mahasiswa asal Alor, NTT disampaikan saat sesi dialog dengan Amran di Universitas Diponegoro, beberapa waktu lalu. Mahasiswa bernama Adriano menjelaskan produksi lokal beras di Alor belum mamlu menutup kebutuhan konsumsinya hingga 27 ribu ton per tahun.
"Nah masalahnya Pak, kebutuhan beras kami itu sekitar 24-27 per tahun, sedangkan kemampuan kami cuma bisa 10 persen, sehingga harga beras sering naik dan mahal, Pak," ungkap dia dalam sesi dialih.
Di wilayah perkotaan harga beras berkisar Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kg. Namun di wilayah pedalaman, harga dapat mencapai Rp 17.000 - 18.000 per kg. Bahkan ketika musim hujan menghambat distribusi antarpulau, harga beras bisa melonjak hingga Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kg.
"Kalau di wilayah perkotaan harganya sekitar Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram. Tapi di pedalaman bisa Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu. Saat terjadi hujan, jadi susah kirim beras. harganya bisa mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram," Adriano menambahkan.