B50 Diuji 40.000 Km, Begini Hasilnya pada Truk Mitsubishi Fuso

Mitsubishi Fuso menegaskan kesiapan mendukung implementasi bahan bakar nabati (BBN) berbasis kelapa sawit dengan campuran biodiesel 50 persen atau B50

oleh Septian PamungkasDiterbitkan 08 Agustus 2026, 11:08 WIB
Talkshow interaktif bertajuk "Bedah Roadmap Implementasi B50: Regulasi hingga Dampak pada Industri Otomotif Indonesia" di GIIAS 2026. (ist)

Liputan6.com, Jakarta - PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), distributor resmi kendaraan niaga Mitsubishi Fuso di Indonesia, menegaskan kesiapan mendukung implementasi bahan bakar nabati (BBN) berbasis kelapa sawit dengan campuran biodiesel 50 persen atau B50.

Komitmen tersebut disampaikan dalam talkshow interaktif bertajuk "Bedah Roadmap Implementasi B50: Regulasi hingga Dampak pada Industri Otomotif Indonesia", yang digelar KTB bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Forum ini turut dihadiri pelaku industri kendaraan komersial, pengusaha armada truk, serta asosiasi logistik nasional. Diskusi membahas kesiapan regulasi, teknologi kendaraan, hingga dampak penerapan B50 terhadap produktivitas industri transportasi dan logistik.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM menilai perluasan penggunaan BBN berbasis kelapa sawit hingga B50 menjadi salah satu pilar strategis untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.

Indonesia juga disebut menjadi salah satu negara pionir yang secara masif menerapkan campuran biodiesel 50 persen untuk sektor transportasi.

Koordinator Pokja Pengujian Hilir Migas Kementerian ESDM, Cahyo Setyo Wibowo, mengatakan penerapan B50 tidak dilakukan secara tiba-tiba. Sebelum didistribusikan secara luas, bahan bakar tersebut telah melalui serangkaian pengujian teknis untuk memastikan kesesuaiannya dengan kendaraan yang digunakan saat ini.

"Motivasi utama dari perjalanan panjang implementasi B50 ini adalah ketahanan energi agar Indonesia bisa berdiri di atas kaki sendiri. Formulasi B50 ini tidak diputuskan seketika, melainkan melalui perjalanan panjang sejak B25 pada 2008 hingga uji jalan (road test) sejauh 40.000 kilometer untuk kendaraan di atas 3,5 ton," ujar Cahyo.

Setelah uji jalan selesai, sejumlah komponen kendaraan seperti mesin, fuel line, hingga fuel filter dibuka dan dianalisis bersama para ahli teknis dari pabrikan.

Menurut Cahyo, peningkatan persentase biodiesel juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas B100 atau FAME serta pengawasan ketat terhadap kualitas bahan bakar di lapangan.

"Setelah uji jalan, komponen mesin, fuel line, hingga fuel filter dibuka dan dianalisis bersama para ahli teknis pabrikan. Kenaikan persentase biodiesel ini juga terus diimbangi dengan peningkatan kualitas B100 (FAME) serta pengawasan ketat BBM di lapangan," jelasnya.

Sebagai salah satu pemain utama kendaraan niaga di Indonesia, Mitsubishi Fuso menyatakan kesiapannya menghadapi transisi energi tersebut melalui penyesuaian teknologi kendaraan dan penguatan layanan purna jual.

Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Aji Jaya, mengatakan Mitsubishi Fuso telah berpartisipasi dalam proses pengujian B50 bersama pemerintah sejak tahap awal.

Salah satu model yang terlibat langsung adalah Mitsubishi Fuso Canter. Selain itu, lini kendaraan Fuso seperti Fighter X telah menggunakan teknologi Euro 4.

"Kami di industri otomotif berkomitmen penuh mendukung program pemerintah. Salah satu varian kami, Mitsubishi Fuso Canter, terlibat langsung dalam uji jalan B50 sejauh 40.000 kilometer dan hasilnya berjalan lancar tanpa dampak negatif signifikan pada kendaraan," kata Aji.

Aji menambahkan, sejak April 2022 seluruh lini produk Mitsubishi Fuso, baik Canter maupun Fighter X, telah mengadopsi teknologi Euro 4.

Untuk mendukung konsumen menghadapi perubahan spesifikasi bahan bakar, Mitsubishi Fuso juga mengandalkan jaringan purna jual yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

"Melalui jaringan 223 dealer kami di Indonesia serta sarana edukasi publik seperti di booth GIIAS, kami juga gencar menyosialisasikan langkah preventive maintenance bagi mekanik dan konsumen demi mengusung komitmen Zero Downtime agar armada konsumen tetap beroperasi maksimal," ujarnya.

Tidak Berdampak Signifikan

Kesiapan kendaraan dan dukungan purna jual tersebut turut dirasakan oleh pelaku usaha transportasi darat. Direktur Utama PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk, Ronny Senjaya, mengatakan peralihan menuju penggunaan B50 sejauh ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap operasional armadanya.

Perusahaan tersebut mengoperasikan lebih dari 2.000 unit armada, mulai dari CDD hingga tronton wingbox, untuk melayani rute Jabodetabek, Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. Sebagian armada yang digunakan merupakan kendaraan Mitsubishi Fuso.

"Sebagai perusahaan angkutan darat yang mengoperasikan lebih dari 2.000 unit armada (CDD dan tronton wingbox) untuk rute Jabodetabek, Jawa, Sumatera hingga Sulawesi, kami merasakan dampak transisi ke B50 ini tidak begitu buruk, tidak ada kendala signifikan terhadap mesin," kata Ronny.

Menurutnya, edukasi dan pelatihan bagi mekanik menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kendaraan tetap beroperasi optimal selama masa transisi.

"Kuncinya ada pada edukasi dan pelatihan pencegahan yang rutin diberikan pihak ATPM kepada tim mekanik kami. Selama langkah antisipasinya dijalankan, operasional ribuan armada kami tetap aman dan lancar," tuturnya.

Mitsubishi Fuso dan Kementerian ESDM sepakat bahwa komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan perlu terus dilakukan untuk memastikan implementasi B50 tidak mengganggu produktivitas sektor transportasi dan logistik nasional.

Dari sisi produsen, Mitsubishi Fuso juga menekankan pentingnya menjaga kualitas B50 yang beredar di lapangan. Pengawasan terhadap spesifikasi dan kualitas bahan bakar dinilai perlu diperketat, terutama di jalur transportasi lintas provinsi yang banyak digunakan kendaraan niaga.

Salah satunya adalah jalur distribusi di Pulau Sumatera yang menjadi salah satu rute penting bagi kendaraan logistik.

Sinergi antara pemerintah sebagai regulator, Mitsubishi Fuso sebagai produsen kendaraan, dan GrahaTrans sebagai pelaku industri transportasi menunjukkan bahwa implementasi energi terbarukan di sektor kendaraan komersial dapat dilakukan secara bertahap.

Dengan dukungan pengujian teknis, edukasi mekanik dan pengguna, perawatan kendaraan yang tepat, serta pengawasan kualitas bahan bakar, penerapan B50 diharapkan dapat berjalan aman sekaligus tetap menjaga produktivitas industri transportasi dan logistik nasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya