Liputan6.com, Jakarta - Umuganura, tradisi perayaan hasil panen masyarakat Rwanda, kini turut menjadi momentum untuk mengevaluasi capaian negara selama setahun dan menentukan perbaikan untuk tahun berikutnya.
Duta Besar (Dubes) Republik Rwanda untuk Republik Indonesia Sheikh Abdul Karim Harelimana mengatakan perubahan itu mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat Rwanda. Jika dahulu Umuganura berpusat pada hasil pertanian, peternakan dan kerajinan, kini pembahasannya mencakup berbagai bidang kehidupan modern.
Advertisement
"Sekarang kita hidup di dunia modern. Jika dahulu ada kerajinan, sekarang kita memiliki industri. Jadi, kita harus melihat apa yang telah kita lakukan selama setahun terakhir," kata Dubes Harelimana dalam perayaan Umuganura di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Dalam momentum tersebut, masyarakat melihat apakah rencana yang dibuat sebelumnya berhasil dicapai, persoalan apa yang muncul, serta hal-hal yang perlu diperbaiki.
"Apakah kita telah mencapai rencana kita? Di mana kekurangannya, apa masalah yang kita hadapi, dan bagaimana kita dapat memperbaikinya sehingga tahun depan mendapatkan hasil yang lebih baik," ujarnya.
Dubes Harelimana mengatakan evaluasi itu mencakup pembangunan infrastruktur, layanan kesehatan, pendidikan dan pertahanan, hingga kondisi politik, keamanan serta tata kelola pemerintahan.
"Bagaimana keamanan negara? Bagaimana tata kelolanya? Apakah masyarakat senang dengan para pemimpinnya atau tidak? Kami melihat setiap komponen yang membentuk sebuah bangsa," tuturnya.
Berakar dari Tradisi Panen
Secara tradisional, Umuganura merupakan perayaan untuk mensyukuri hasil yang diperoleh masyarakat sepanjang tahun.
Dubes Harelimana menjelaskan perayaan tersebut berlangsung pada akhir tahun dalam kalender tradisional Rwanda. Agustus merupakan bulan ke-12, sedangkan September menjadi bulan pertama pada tahun berikutnya.
Setelah masa panen, masyarakat berkumpul mulai dari lingkungan keluarga dan desa hingga wilayah yang lebih luas. Pada masa kerajaan, perayaan tersebut bahkan mencapai istana raja.
Masyarakat kemudian menunjukkan hasil pertanian, peternakan dan kerajinan yang menjadi sumber penghidupan mereka.
"Orang-orang berkumpul di rumah, desa, provinsi, bahkan sampai ke istana raja untuk merayakan apa yang telah mereka hasilkan," ujar Dubes Harelimana.
Menurut Dubes Harelimana, tradisi itu diperkenalkan pada Abad ke-11 pada masa Raja Gihanga Ngomijana dan telah bertahan selama lebih dari 1.000 tahun.
Meski pertanian dan peternakan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Rwanda, cara mengelola kedua sektor tersebut terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan kebutuhan produksi.
Simbol Persatuan Rwanda
Umuganura digunakan pula untuk memperkuat persatuan masyarakat Rwanda. Dubes Harelimana mengatakan tema perayaan tahun ini adalah sumber persatuan dan fondasi kemandirian.
Ia menjelaskan Umuganura bermula dari lingkungan keluarga, kemudian meluas ke desa dan wilayah lain hingga mencapai tingkat nasional. Menurut dia, pola tersebut membuat perayaan itu menjadi salah satu simbol kebersamaan masyarakat Rwanda.
Dubes Harelimana mengatakan Kerajaan Rwanda pada awalnya merupakan sebuah entitas kecil yang kemudian berkembang dan mencakup masyarakat dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda.
Namun, menurut dia, pemerintah kolonial menghapus Umuganura pada 1925. Pemerintah Rwanda kemudian menghidupkannya kembali pada 2011.
Dubes Harelimana mengaitkan kebangkitan kembali tradisi itu dengan upaya rekonsiliasi setelah Genosida terhadap Tutsi pada 1994.
Menurut dia, masyarakat membutuhkan ruang untuk kembali bertemu, membicarakan persoalan di lingkungan mereka, bertukar pandangan, serta menentukan langkah yang perlu dilakukan bersama.
"Ketika masyarakat bertemu, mereka berbincang, membicarakan masalah di desa dan hasil mereka. Mereka saling memberikan saran mengenai langkah selanjutnya. Persatuan itu dibangun kembali," tuturnya.
Tarian, nyanyian, makanan dan minuman tetap menjadi bagian dari perayaan Umuganura hingga kini.