Liputan6.com, Washington, DC - "Tolak AIPAC", teriak massa dalam kampanye Abdul El-Sayed di Dearborn, pinggiran Detroit, beberapa waktu lalu.
El-Sayed memenangkan pemilihan internal Partai Demokrat pada Selasa (4/8/2026) untuk menentukan calon senator dari Michigan setelah mengalahkan anggota DPR Amerika Serikat (AS) Haley Stevens. Ia selanjutnya akan maju dalam pemilu Senat AS pada November.
Advertisement
Namun, persaingan El-Sayed dan Stevens tidak hanya menjadi pertarungan antarkandidat. American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) menjadi salah satu isu utama setelah kelompok lobi pro-Israel itu dan sejumlah kelompok politik lainnya menggelontorkan puluhan juta dolar untuk membantu Stevens dan mengalahkan El-Sayed.
Catatan Komisi Pemilu Federal AS (FEC) menunjukkan AIPAC dan sejumlah komite aksi politik atau PAC telah menghabiskan lebih dari US$ 54 juta untuk mendukung Stevens.
PAC merupakan organisasi yang mengumpulkan dan membelanjakan dana untuk memengaruhi pemilu, termasuk melalui iklan dan kegiatan yang mendukung atau menyerang kandidat.
Selain itu, Center for Democratic Priorities, kelompok yang sumber pendanaannya tidak sepenuhnya terbuka, dilaporkan mengeluarkan sekitar US$ 6,5 juta untuk iklan yang mendukung Stevens.
Dengan demikian, total pengeluaran kelompok luar untuk membantu Stevens dan melawan El-Sayed mencapai lebih dari US$ 60 juta.
Dari jumlah tersebut, United Democracy Project (UDP), kelompok politik yang berafiliasi dengan AIPAC, telah menghabiskan sekitar US$ 30,6 juta. Angka itu menjadi rekor pengeluaran AIPAC dalam sebuah kontestasi pemilu.
AIPAC menggunakan kekuatan pendanaannya untuk melawan kandidat yang menentang pemberian bantuan tanpa syarat kepada Israel. El-Sayed, seorang epidemiolog progresif dan mantan pejabat kesehatan masyarakat, termasuk salah satu kandidat tersebut.
Dalam kampanye di Dearborn, anggota parlemen Negara Bagian Michigan Alabas Farhat mengatakan para pemilih dapat membuat AIPAC "membuang sia-sia" jutaan dolar dengan memenangkan El-Sayed.
"Selama ini, mereka yang mempertahankan keadaan seperti sekarang terus mengatakan bahwa kita tidak punya uang untuk sekolah modern; kita tidak punya uang untuk air minum bersih, layanan kesehatan, ataupun perumahan terjangkau," tutur Farhat.
"Namun ketika uang dibutuhkan untuk mengebom anak-anak di Gaza, untuk menjalankan kampanye pembersihan etnis di Lebanon selatan, pemerintahan ini sepertinya selalu bisa menemukan uangnya."
El-Sayed akan mencetak sejarah sebagai muslim pertama yang menjabat sebagai senator AS jika terpilih pada pemilu November mendatang.
Dukungan Kelompok Luar untuk El-Sayed Jauh Lebih Kecil
Dana yang dikeluarkan kelompok-kelompok politik tersebut berbeda dengan sumbangan yang masuk langsung ke tim kampanye kandidat.
Kelompok seperti PAC dapat membiayai iklan dan kegiatan lain untuk mendukung atau menyerang kandidat, tetapi secara hukum tidak boleh berkoordinasi dengan tim kampanye.
Dalam penggalangan dana langsung, El-Sayed justru mengungguli Stevens. Kampanye El-Sayed menghimpun US$ 14,5 juta, sedangkan Stevens memperoleh US$ 11,9 juta.
Namun, dukungan dari kelompok luar untuk El-Sayed hanya sekitar US$ 3,5 juta, jauh lebih kecil dibandingkan dana yang digunakan untuk membantu Stevens.
Stevens sendiri berusaha mengecilkan arti besarnya pengeluaran AIPAC untuk mendukungnya.
"Saya rasa tidak ada banyak perbedaan antara super PAC yang masuk untuk membantu Abdul dan super PAC yang membantu saya. Kita memang memiliki masalah dengan sistem pendanaan kampanye di negara ini," ujarnya dalam sebuah debat.
Pendukung El-Sayed menilai perbedaannya tetap sangat besar karena selisih dukungan dari kelompok luar kepada kedua kandidat mencapai lebih dari US$ 56 juta.
El-Sayed Kritik Pengaruh AIPAC
Besarnya dukungan AIPAC kepada Stevens menjadi salah satu isu utama yang diangkat El-Sayed selama kampanye.
Ia mengatakan dirinya akan mewakili masyarakat Michigan, sedangkan Stevens menurutnya lebih terikat pada kepentingan para donatur, terutama AIPAC.
"Donald Trump bukan penyakit itu sendiri; dia hanya gejala pertama dari penyakit dalam politik kita," ungkap El-Sayed.
"Penyakitnya adalah sistem yang memungkinkan para miliarder, perusahaan, dan kelompok kepentingan khusus seperti AIPAC membeli dan menjual politisi untuk mengatur sistem agar merugikan kita."
Dalam debat bulan lalu, El-Sayed mengkritik keputusan Stevens yang menolak penghentian pendanaan untuk Israel.
"Baru pekan lalu, teman kita di sini memilih untuk mengirim US$ 3,3 miliar uang pajak Anda kepada pemerintah asing," katanya.
"Itulah imbalan yang datang bersama US$ 30 juta yang dikeluarkan AIPAC."
AIPAC menolak anggapan bahwa organisasi tersebut merupakan kelompok lobi yang bekerja untuk kepentingan pemerintah asing.
Kelompok itu menggambarkan dirinya sebagai koalisi warga AS pro-Israel yang meyakini hubungan erat AS-Israel menguntungkan kedua negara.
"Sebagai warga AS pro-Israel yang bangga, kita tidak akan pernah meminta maaf karena berpartisipasi dalam proses politik dan melawan mereka yang merusak nilai-nilai bersama kita," ujar AIPAC dalam email kepada para pendukungnya.
AIPAC memasukkan pemilihan Senat Michigan sebagai salah satu kontestasi yang dianggap "krusial".
Mengapa Pemilihan di Michigan Penting?
El-Sayed mengalahkan Stevens dalam perebutan pencalonan Partai Demokrat untuk menggantikan Senator Gary Peters yang akan pensiun.
Ia selanjutnya akan menghadapi mantan anggota DPR AS Mike Rogers dari Partai Republik dalam pemilu November.
Para pendukung hak-hak Palestina menilai kemenangan El-Sayed, setelah menghadapi pengeluaran puluhan juta dolar dari kelompok pro-Israel, sebagai pukulan besar bagi pengaruh politik AIPAC.
Hasil pemilihan tersebut juga dinilai dapat memengaruhi sikap Partai Demokrat terhadap Israel pada masa mendatang.
Michigan memiliki lebih dari 10 juta penduduk dengan latar belakang yang beragam dan memilih Trump dalam pemilu presiden 2016 dan 2024.
Selain itu, perebutan kursi Senat dari Michigan berpotensi ikut menentukan partai mana yang menguasai Senat setelah pemilu November.