Liputan6.com, Tel Aviv - Kepala Mossad Roman Gofman memecat dua pejabat senior badan intelijen Israel setelah rencana untuk menggulingkan pemerintahan Iran gagal atau tidak pernah dijalankan. Demikian menurut laporan stasiun televisi Israel Channel 12 pada Kamis (6/8/2026).
Kedua pejabat itu adalah kepala direktorat intelijen yang baru beberapa bulan menduduki jabatannya serta kepala divisi Iran Mossad. Identitas keduanya tidak diungkap.
Advertisement
Channel 12 melaporkan, rencana untuk menggulingkan pemerintahan Iran itu disusun melalui koordinasi dengan Amerika Serikat (AS). Upaya tersebut bertujuan mendorong gerakan dari dalam Iran untuk menentang pemerintah, termasuk dengan mendukung kelompok-kelompok oposisi. Rencana itu disebut akan didukung operasi udara militer Israel dan AS dalam skala luas.
Namun, berdasarkan sejumlah penilaian yang dikutip Channel 12, rencana tersebut gagal atau bahkan tidak pernah sampai ke tahap pelaksanaan.
Sejumlah sumber keamanan mengatakan kepada Channel 12 bahwa hubungan Gofman dengan kedua pejabat tersebut sudah tegang sejak awal. Pemecatan mereka terjadi di tengah perombakan yang lebih luas dalam jajaran pimpinan dan prioritas Mossad, terutama dalam menangani Iran.
Channel 12, dengan mengutip laporan media internasional, menyebut rencana tersebut turut mencakup sejumlah skenario untuk mengganti kepemimpinan Iran serta koordinasi dengan pejabat AS mengenai kemungkinan situasi setelah pemerintahan Iran berganti.
Namun, upaya itu terhenti sejak tahap awal. Rencana tersebut, menurut Channel 12, kemudian dihentikan dan pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.
Belum ada komentar resmi dari Israel mengenai laporan pemecatan tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 13 Maret mengakui bahwa menggulingkan pemerintahan Iran bukan perkara mudah. Ia mengatakan, "Belum tentu hal itu akan terjadi."
AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan serta sejumlah sasaran di Israel. Serangan tersebut menimbulkan korban di kedua pihak.
Pada 18 Juni, Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan kerangka kerja dan memulai perundingan untuk mencapai kesepakatan akhir. Namun, pembicaraan kemudian terhenti karena perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Ketegangan kembali meningkat bulan lalu setelah AS melancarkan serangan baru di Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan di sejumlah wilayah di kawasan, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.