Harga Minyak Dunia Tertahan, Kesepakatan Selat Hormuz Dinanti

Harga minyak dunia bergerak tipis di tengah negosiasi AS, Iran, dan Oman untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Agustus 2026, 07:40 WIB
Dua anak laki-laki bermain di perairan dangkal di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, dengan latar kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, Selasa (30/6/2026). (Dok. Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia bergerak tipis pada perdagangan Rabu (5/8/2026) seiring pelaku pasar mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS), Iran, dan Oman terkait pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Kamis (6/8/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global naik tipis 7 sen menjadi US$ 79,43 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 50 sen menjadi US$ 75,27 per barel.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Axios dari dua sumber di kawasan tersebut, AS, Iran, dan Oman tengah membahas kesepakatan sementara. Dalam skema itu, kapal yang menuju Teluk Persia akan melintas di perairan teritorial Iran, sedangkan kapal yang keluar akan melewati perairan Oman dengan koordinasi bersama Teheran.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan berlangsung sepanjang hari pada Selasa.

"Sepertinya semuanya berjalan sangat baik," ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan mengenai pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat tercapai pekan ini.

Menurut Bessent, jalur tersebut memiliki peran sangat penting sebagai rute pengiriman minyak, gas alam, pupuk, hingga berbagai produk industri lainnya ke pasar global.

 

Serangan Houthi

Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Di tengah optimisme negosiasi tersebut, harga minyak sempat menguat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim menyerang sebuah kapal tanker Arab Saudi menggunakan rudal di dekat pesisir Yanbu.

Yanbu merupakan salah satu pelabuhan utama ekspor minyak mentah Arab Saudi di kawasan Laut Merah, sehingga setiap gangguan keamanan di wilayah tersebut menjadi perhatian pasar energi global.

Sebelumnya, pada 17 Juni 2026, AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, kesepakatan itu tidak bertahan lama setelah kembali terjadi pertempuran terkait rute pelayaran yang digunakan kapal-kapal di kawasan tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya, Teheran menyerang kapal-kapal yang berlayar di sepanjang pantai Oman meski berada di bawah perlindungan militer AS. Langkah tersebut dilakukan untuk memaksa kapal-kapal melintasi perairan teritorial Iran.

Sebagai respons, Washington melancarkan lebih dari selusin gelombang serangan udara terhadap target di Iran serta kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap negara tersebut.

Rangkaian perkembangan ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati karena setiap perubahan situasi di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan arah pergerakan harga minyak dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya