Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai menyusutnya porsi industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tidak serta-merta menandakan sektor manufaktur sedang melemah.
Menurut Purbaya, penurunan pangsa tersebut kemungkinan terjadi karena sektor-sektor lain tumbuh lebih cepat, sementara industri pengolahan tetap mencatatkan pertumbuhan yang positif.
Advertisement
“Kontribusi manufacturing memang besar, tetapi share yang menurun kemungkinan karena dia tumbuhnya lumayan bagus, namun ada sektor lain yang tumbuh lebih cepat sehingga share dalam ekonomi menurun. Jadi bukan berarti manufakturnya jelek,” ujar Purbaya di Kementerian Keuangan, Rabu (5/8/2026).
Meski demikian, Purbaya mengaku belum mencermati secara rinci penyebab menyusutnya kontribusi relatif manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi. Pemerintah, kata dia, akan mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan pada semester II/2026 untuk memperkuat daya saing sektor industri.
“Yang jelas kita sedang mencari semua instrumen yang ada dan akan kita jalankan pada semester II ini untuk memastikan sektor manufaktur bisa tumbuh lebih baik,” ujarnya.
Ia juga berharap pemulihan permintaan global dalam beberapa bulan mendatang dapat menjadi katalis bagi peningkatan produksi dan ekspor industri manufaktur nasional.
“Global demand mungkin akan recover dalam bulan-bulan ke depan karena ketegangan di sana sudah mulai mereda,” kata Purbaya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada di zona ekspansi. BPS mencatat Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur (IKBM) Indonesia pada kuartal II/2026 mencapai 52,31, meningkat dari 51,37 pada kuartal I/2026.
Sektor Industri Pengolahan
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengatakan, capaian tersebut mencerminkan sektor industri pengolahan skala besar dan sedang masih berkembang.
“Pada triwulan II/2026, IKBM tercatat sebesar 52,31 yang menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur berada pada fase ekspansi atau zona ekspansi dan menguat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya,” kata Edy.
Meski indikator aktivitas manufaktur masih menunjukkan ekspansi, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2026 tercatat sebesar 0,90 poin persentase, lebih rendah dibandingkan 1,03 poin persentase pada kuartal I/2026 dan 1,13 poin persentase pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut Purbaya, kondisi tersebut lebih mencerminkan perubahan komposisi pertumbuhan antarsektor daripada pelemahan fundamental industri manufaktur.