Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada kuartal II 2026. Pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sedikit lebih rendah dari periode sama sebelumnya.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud menuturkan, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan.
Advertisement
Edy mencatat nilai produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II 2026 atas dasar harga berlaku sebesar Rp 6.552,1 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp 3.576,2 triliun.
"Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 dibandingkan dengan triwulan II 2025 atau secara year on year (yoy) tumbuh 5,29% ," ujar Edy dalam rilis BPS, Rabu (5/8/2026).
Angka tersebut sedikit lebih rendah dari capaian pertumbuhan ekonomi tahunan pada kuartal I-2026. Kala itu, ekonomi RI tumbuh 5,61%.
Namun, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 jika dibandingkan dengan triwulan I-2026 atau secara quartal to quartal (q to q) tumbuh sebesar 3,73 persen. Lalu, bila dibansingkan dengan semester I-2026 atau secara c-to-c, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,45 persen.
S&P Global Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 5,1% pada 2026
Sebelumnya, lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia akan tumbuh 5,1% pada 2026. Prediksi pertumbuhan ekonomi itu seiring kinerja ekonomi dapat melambat pada kuartal-kuartal berikutnya karena ketidakpastian eksternal yang berkelanjutan dan suku bunga yang lebih tinggi.
“Kami memperkirakan rata-rata pertumbuhan 4,9% per tahun dari 2026-2029,” demikian mengutip dari laman spglobal.com, Senin, (13/7/2026).
Rata-rata penghasilan di Indonesia tetap lebih rendah daripada sebagian besar negara berperingkat investasi lainnya, tetapi meningkat lebih cepat.
Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita dapat mencapai US$ 5.200 tahun ini, hanya naik sedikit dari US$ 5.100 pada 2025 dibandingkan dengan pertumbuhan PDB nominal yang diperkirakan sebesar 8,3%. Hal ini terutama disebabkan oleh depresiasi rupiah.
“Terlepas dari pergerakan nilai tukar, pertumbuhan tren Indonesia sebesar 3,9% akan lebih baik daripada sebagian besar ekonomi dengan tingkat penghasilan yang serupa,” demikian seperti dikutip dari laporan S&P.
Lembaga pemeringkat internasional terus percaya kalau lembaga politik dan kebijakan di Indonesia secara umum stabil dan bebas dari tantangan terhadap legitimasinya.
“Para pembuat kebijakan Indonesia terus memprioritaskan stabilitas ekonomi dan keuangan. Selama bertahun-tahun, mereka telah berupaya meningkatkan transparansi melalui interaksi dan berbagi informasi secara teratur dengan pelaku pasar keuangan,” demikian seperti dikutip.
“Mereka fleksibel dalam menyesuaikan kebijakan bila diperlukan, seperti melakukan pemotongan besar-besaran untuk menjaga defisit di bawah ambang batas tahun ini,” demikian seperti dikutip.
Profil Fleksibilitas dan Kinerja
"Beban pembayaran utang, dan kebutuhan pembiayaan eksternal telah meningkat, sebagian karena faktor-faktor sekali pakai,” demikian seperti dikutip.
S&P Global Ratings memperkirakan defisit fiskal Indonesia akan tetap di bawhah 3% dari PDB, sesuai dengan persyaratan hukum negara, bahkan dengan pengeluaran yang lebih tinggi untuk subsidi energi.
“Defisit transaksi berjalan kemungkinan akan melebar tahun in, tetapi pendapatan ekspor lebih tinggi dan pasar energi yang secara bertahap kembali normal akan mengurangi dampaknya,” demikian seperti dikutip.
Mata uang rupiah meski telah berasa di bawah tekanan signifikan tahun ini, S&P memperkirakan bank sentral akan merespons dengan berbagai instrumen kebijakan. “Hal ini akan membatasi pengurasan cadangan devisa,” demikian seperti dikutip.