Liputan6.com, Jakarta - Karbohidrat kerap menjadi "tersangka utama" saat seseorang ingin menurunkan berat badan. Banyak pelaku diet memilih mengurangi bahkan menghilangkan nasi, roti, pasta, hingga buah demi mengejar angka timbangan yang lebih rendah.
Faktanya, melansir Healthline, Selasa, 4 Agustus 2026, para ahli menilai, menghindari karbohidrat sepenuhnya belum tentu menjadi strategi terbaik untuk mendapatkan berat badan ideal. No-carb diet merupakan pola makan yang menghilangkan hampir seluruh sumber karbohidrat yang dapat dicerna tubuh.
Advertisement
Pola makan ini membuat seseorang lebih banyak mengonsumsi makanan tinggi protein dan lemak, seperti daging, ikan, telur, keju, mentega, serta minyak. Beberapa orang masih mengizinkan konsumsi alpukat, kelapa, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran rendah pati karena kandungan karbohidrat bersihnya relatif rendah.
Menurunkan asupan karbohidrat memang dapat membantu proses penurunan berat badan. Namun, Anda tidak perlu menghilangkan karbohidrat sepenuhnya untuk memperoleh hasil tersebut. Mengurangi kalori secara bertahap tetap menjadi pendekatan yang lebih realistis dan mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Karbohidrat merupakan sumber energi utama tubuh. Zat gizi ini terdapat pada serealia, kacang-kacangan, umbi, buah, sayuran, susu, yogurt, roti, pasta, dan berbagai produk olahan gandum.
Saat asupan karbohidrat dipangkas drastis, tubuh akan beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi. Kondisi tersebut membuat pola makan tanpa karbohidrat memiliki kemiripan dengan diet ketogenik, meski aturan diet tanpa karbohidrat umumnya lebih ketat.
Orang yang menjalani pola makan ini biasanya tidak memiliki batasan khusus terkait jumlah kalori atau ukuran porsi. Fokus utamanya adalah menghindari makanan yang mengandung karbohidrat. Minuman yang diperbolehkan umumnya hanya air putih, kopi hitam tanpa gula, dan teh tawar.
Efektif Menurunkan Berat Badan?
Banyak orang tertarik mencoba diet tanpa karbohidrat karena berharap berat badan turun lebih cepat. Penelitian memang menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi karbohidrat dapat membantu proses penurunan berat badan.
Penggantian karbohidrat dengan makanan tinggi protein, serat, dan lemak juga dapat memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga asupan kalori harian berkurang. Meski demikian, hasil penelitian mengenai efektivitas diet rendah karbohidrat masih beragam.
Sejumlah studi menemukan penurunan berat badan lebih besar pada enam bulan pertama dibandingkan pola makan rendah lemak. Keunggulan tersebut cenderung berkurang dalam jangka panjang karena keberhasilan diet lebih dipengaruhi konsistensi menjaga keseimbangan energi daripada sekadar menghilangkan satu kelompok makanan.
Penurunan berat badan yang terjadi pada minggu-minggu awal juga belum tentu berasal dari pembakaran lemak. Tubuh menyimpan sekitar tiga gram air untuk setiap gram karbohidrat. Saat cadangan karbohidrat berkurang, cairan ikut terbuang sehingga berat badan turun dengan cepat akibat berkurangnya kadar air dalam tubuh.
Diet Sangat Rendah Karbohidrat
Sejumlah penelitian terhadap diet sangat rendah karbohidrat dan diet ketogenik juga menunjukkan potensi manfaat lain bagi kesehatan. Pola makan ini dikaitkan dengan penurunan kadar trigliserida yang berhubungan dengan kesehatan jantung.
Pembatasan karbohidrat, terutama gula dan karbohidrat olahan, juga dapat membantu mengendalikan kadar gula darah sehingga bermanfaat bagi sebagian penderita diabetes atau intoleransi glukosa. Beberapa penelitian turut mengaitkan pengurangan karbohidrat dengan penurunan tekanan darah, berkurangnya lemak di area perut, serta menurunnya risiko sindrom metabolik.
Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko yang meningkatkan peluang seseorang mengalami penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Meski demikian, para peneliti masih memerlukan bukti yang lebih kuat untuk memastikan manfaat tersebut dalam jangka panjang.
Diet tanpa karbohidrat juga memiliki sejumlah risiko yang tidak boleh diabaikan. Pembatasan buah, sayuran, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan dapat membuat asupan serat turun drastis. Kondisi ini meningkatkan risiko sembelit karena sistem pencernaan tidak memperoleh cukup serat untuk menjaga kelancaran buang air besar.
Penyebab Tubuh Lebih Cepat Lelah
Asupan energi yang rendah juga dapat memicu tubuh lebih cepat lelah. Karbohidrat merupakan bahan bakar utama bagi otak dan otot saat beraktivitas. Kekurangan karbohidrat berpotensi menyebabkan tubuh terasa lemas, sulit berkonsentrasi, dan menurunkan performa fisik, terutama pada fase awal diet.
Pola makan yang terlalu ketat juga berisiko menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral penting, seperti vitamin C, vitamin B, kalium, dan natrium. Zat gizi tersebut banyak ditemukan pada buah, sayuran, serta makanan nabati lainnya.
Peningkatan frekuensi buang air kecil yang sering terjadi saat asupan karbohidrat dibatasi juga dapat mempercepat hilangnya elektrolit dari tubuh. Hingga kini, belum banyak penelitian yang secara khusus mengevaluasi keamanan diet tanpa karbohidrat dalam jangka panjang.
Para ahli menilai pola makan ini tidak cocok diterapkan oleh semua orang. Anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, serta individu dengan riwayat gangguan makan sebaiknya tidak menjalani diet ini tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi juga dianjurkan sebelum memutuskan menghilangkan karbohidrat dari menu harian.