Pengelolaan Sampah Mandiri Kurangi Beban TPA Gunungkidul

Pemkab Gunungkidul mendorong pengelolaan sampah mandiri melalui bank sampah, TPS3R, dan pengolahan sampah rumah tangga untuk mengurangi beban TPA.

oleh Nurul HudaDiterbitkan 06 Agustus 2026, 16:03 WIB
Warga memilah sampah rumah tangga dan mengolah sampah organik menjadi kompos di Gunungkidul.

Liputan6.com, Jakarta - Pengelolaan Sampah Mandiri dimaksimalkan untuk menyelesaikan sampah dari skala rumah tangga demi memangkas pasokan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wukirsari dan Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

Menurut kepala DLH Gunungkidul Edy Basuki, langkah ini untuk mengejar target bebas sampah organik TPA per Agustus 2026 lewat penguatan fungsi bank sampah serta TPS3R.

“Gunungkidul telah memiliki hampir 400 bank sampah dan 21 TPS3R sebagai langkah mitigasi agar masyarakat tidak lagi membuang sampah organik langsung ke TPA,” katanya, seperti dikutip dari Antara, Kamis (6/8/2026).

Melalui pengolahan mandiri di tingkat rumah tangga ia berharap beban pembuangan sampah ke TPA Wukirsari dan TPS3R dapat berkurang signifikan.

“Di rumah tangga itu harapannya sudah bisa mengolah sampah sendiri,” ucapnya.

Bank Sampah dan Komposter Jadi Solusi

Sampah anorganik dapat dipilah dan dikirim ke bank sampah yang telah ada di berbagai wilayah.

“Bank sampah nantinya bisa bekerja sama dengan pengepul untuk mengambil kertas, botol minuman bekas, maupun sampah plastik lainnya,” katanya.

Sementara untuk sampah organik, masyarakat didorong membuat lubang kompos di sekitar rumah memanfaatkan ketersediaan lahan yang masih luas di Gunungkidul.

“Sampah organik itu nanti juga bisa menjadi pupuk atau kompos yang bermanfaat untuk tanah,” ujarnya

Dia menambahkan, wadah kompos juga dapat dibuat dengan memanfaatkan barang bekas. Seperti galon air mineral atau ember plastik.

“Galon yang ditumpuk itu kalau diisi sampah organik, nanti cairan lindinya turun kebawah dan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman,” katanya.

Targetkan Pengurangan Sampah ke TPA

Edy mencatat timbunan sampah organik dan anorganik di Kabupaten Gunungkidul mencapai 50 hingga 60 ton per hari.

“Harapannya, kalau setiap keluarga sudah tidak membuang sampah ke TPA, volume sampah yang masuk bisa turun menjadi sekitar 20 ton per hari,” ucapnya.

Karena itu, DLH terus menggencarkan sosialisasi agar kesadaran mengelola sampah dari rumah tangga dapat tumbuh secara bertahap.

Kolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengumpulkan seluruh ASN lingkungan DLH untuk membahas berbagai persoalan dan tantangan lingkungan. 

“DLH adalh garda terdepan dalam menjaga kelestarian Bumi Handayani, dan tugas pengelolaan sampah merupakan misi suci untuk warisan anak cucu,” katanya.

Endah juga mengajak seluruh ASN DLH memperkuat kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) demi menjaga kelestarian lingkungan dan menjamin kualitas pelayanan publik secara bersama. 

“Memperkuat integrasi perencanaan pembangunan yang berwawasan lingkungan sekaligus menjamin kepastian hukum dan kualitas layanan publik di Kabupaten Gunungkidul,” katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya