Liputan6.com, Jakarta - Perum Bulog akan menambah anggaran pemeliharaan gudang beras hingga dua kali lipat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kualitas beras dan komoditas pangan lainnya tetap terjaga dalam kondisi prima.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, penambahan biaya operasional pemeliharaan gudang ini direalisasikan seiring dengan meningkatnya keuntungan perusahaan. Hal tersebut terwujud setelah margin penjualan Bulog naik menjadi 7 persen per kilogram (kg) atau setara Rp 970 per kg.
Advertisement
"Kami dalam waktu dekat akan meningkatkan pemeliharaan gudang, terutama khusus untuk teman-teman kepala gudang dan kawan-kawan yang selama ini menjadi ujung tombak dan tulang punggung Bulog dalam memelihara dan merawat beras," kata Rizal di Kantor Bulog, Jakarta, dikutip Selasa (4/8/2026).
"Kami naikkan biaya operasionalnya di gudang menjadi dua kali lipat. Harapan kami, kualitas dan standardisasi beras tetap terjaga sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah," imbuhnya.
Tambahan anggaran ini akan mulai diberlakukan pada September 2026, setelah Bulog resmi mengantongi margin keuntungan 7 persen per kg. Rizal juga membeberkan rincian hitungan penambahan biaya tersebut.
Bulog sendiri memiliki beberapa tipe gudang dengan biaya operasional dan perawatan yang beragam. Sebagai gambaran, jika Gudang Tipe A sebelumnya membutuhkan biaya pemeliharaan Rp 2 juta, maka ke depan anggarannya dinaikkan menjadi Rp 4 juta.
"Contohnya seperti itu. Tipe A itu yang ukurannya 3.500 ton ke atas. Pemeliharaannya rutin, mulai dari harian, mingguan, bulanan, sampai dengan semesteran. Itu rutin kita berikan," bebernya.
Margin Bulog Naik
Sebelumnya, Pemerintah resmi menetapkan margin keuntungan sebesar 7 persen per kilogram dari penjualan beras. Kenaikan margin ini digadang-gadang mampu mengerek laba bersih Bulog hingga mencapai Rp 1,14 triliun pada 2026.
Keputusan tersebut tertuang dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 3 Tahun 2026. Beleid baru ini mengerek margin Bulog dari yang sebelumnya hanya Rp 50 per kg menjadi Rp 970 per kg.
"Margin Bulog yang dulunya Rp 50 per kg, sekarang menjadi 7 persen. Nah, 7 persen itu kalau dikalkulasikan setara dengan Rp 970," jelas Rizal.
"Sehingga dengan nilai Rp 970 tersebut, jika diperhitungkan sampai akhir tahun, maka diproyeksikan neraca keuangan Bulog akan menjadi positif, yakni sekitar Rp 1,14 triliun," tambah dia.
Tingkatkan Kualitas Layanan
Menurut Rizal, kenaikan margin tersebut tidak sekadar mendatangkan keuntungan finansial, tetapi juga akan dialokasikan untuk meningkatkan kualitas layanan Bulog kepada masyarakat.
"Dengan penambahan hasil yang positif ini, Bulog akan memperbaiki dan menaikkan kualitas serta tingkat pelayanan kepada masyarakat. Kami berjanji akan berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara Republik Indonesia," tegasnya.
Beban Bunga Turun
Di sisi lain, Perum Bulog juga berhasil menghemat anggaran hingga Rp 1,07 triliun pada tahun ini. Rizal menilai penghematan efisiensi tersebut berdampak sangat positif bagi kesehatan keuangan perusahaan.
Angka penghematan fantastis ini didapatkan dari penurunan beban bunga cicilan Bulog dari semula 7–8 persen menjadi hanya 3 persen. Penurunan beban tersebut turut disumbang oleh adanya subsidi bunga kredit dari pemerintah sebesar 2 persen.
"Bunga bank yang biasanya 7–8 persen diturunkan menjadi 2–3 persen. Ini luar biasa, dan dampak dari pengurangan bunga bank tersebut membuat Bulog mampu mengurangi biaya pembayaran bunga lebih dari Rp 1,07 triliun dalam setahun," pungkas Rizal.