Luas Tanam Susut Turunkan Produksi Jagung

BPS mencatat penurunan luas panen berdampak terhadap produksi jagung pada Januari-September 2026.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 03 Agustus 2026, 16:40 WIB
Tanaman jagung varietas R7 produksi Raja, Semarang dengan produktivitas tinggi siap panen di Kecamatan Pasirwangi, Garut, Jawa Barat. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% mencapai 12,67 juta ton sepanjang Januari-September 2026. Angka tersebut turun 1,07% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 seiring menyusutnya luas panen.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, luas panen jagung pipilan sepanjang Januari-September 2026 diperkirakan mencapai 2,17 juta hektare atau turun 1,20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan luas panen tersebut diperkirakan berdampak pada penurunan produksi jagung nasional.

“Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang Januari sampai September 2026 diperkirakan mencapai 12,67 juta ton atau menurun 1,07% dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” kata Ateng di Kantor BPS, Senin (3/8/2026).

BPS melaporkan luas panen jagung pada Juni 2026 mencapai 0,25 juta hektare, lebih rendah dibandingkan 0,26 juta hektare pada Juni 2025. Produksi jagung pipilan kering pada bulan yang sama juga diperkirakan turun menjadi 1,50 juta ton dari 1,55 juta ton pada Juni tahun lalu.

BPS memperkirakan potensi luas panen jagung pada Juli-September 2026 mencapai 0,67 juta hektare atau turun 4,39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Potensi produksi jagung pada periode tersebut juga diperkirakan turun menjadi 3,98 juta ton atau lebih rendah 6,48% secara tahunan.

“Angka potensi masih dapat berubah sesuai kondisi hasil pengamatan lapangan, termasuk akibat serangan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, maupun perubahan waktu panen oleh petani,” ujar Ateng.

BPS menegaskan bahwa angka potensi luas panen dan produksi masih bersifat dinamis karena bergantung pada perkembangan kondisi pertanaman hingga masa panen berlangsung.

Penyerapan Jagung Bulog Tertinggi Sejak Indonesia Merdeka

Hamparan ladang jagung saat panen raya di Tuban, Jawa Timur. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Perum Bulog mencatatkan rekor serapan jagung tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Capaian ini melesat hampir tiga kali lipat dibandingkan serapan tahun lalu.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan, serapan jagung Bulog pada 2026 telah mendekati 300 ribu ton. Jumlah tersebut menjadi capaian tertinggi sejak Indonesia merdeka pada 1945.

"Serapan jagung sekarang sudah hampir 300 ribu ton, dan ini juga capaian yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka," kata Rizal di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, capaian tersebut meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan total serapan jagung pada 2025 yang hanya mencapai 102 ribu ton.

"Stok Bulog sampai 300 ribu ton jagung itu sudah capaian yang tertinggi, dan tahun lalu hanya mencapai 102 ribu ton," ujarnya.

Dari hasil serapan tersebut, Bulog juga mulai menyalurkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung ke berbagai daerah di Indonesia, terutama sentra peternakan ayam dan sektor peternakan lainnya.

Langkah itu dilakukan untuk menekan lonjakan harga jagung di pasar.

"Untuk SPHP jagung sejak kemarin hari Sabtu kami sudah luncurkan ke seluruh Tanah Air. Khususnya di sentra-sentra peternakan ayam maupun peternakan yang lain untuk mengurangi kenaikan harga jagung," tuturnya.

 

 

Program SPHP

Bulog menyiapkan kuota sebanyak 240 ribu ton jagung untuk program SPHP dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 5.500 per kilogram.

"240.000 ton untuk SPHP jagung sudah. Harganya Rp 5.500 per kilonya, sesuai dengan HET," kata Rizal.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Bulog melakukan pengadaan minimal satu juta ton jagung pipilan kering pada 2026 guna memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung swasembada jagung.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah Tahun 2026-2029 yang diteken pada 25 Maret 2026.

Dalam aturan itu, pemerintah menargetkan pengadaan jagung pipilan kering minimal 1 juta ton dengan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 5.500 per kilogram di tingkat petani. Selain itu, Bulog juga mendapat tugas melakukan pengolahan dan pengelolaan cadangan jagung pemerintah sesuai standar kualitas yang ditetapkan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya