Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia Januari-Juni 2026 membukukan surplus US$ 3,58 miliar atau sekitar Rp 64,4 triliun. Surplus tersebut ditopang kinerja perdagangan nonmigas yang masih mampu mengimbangi defisit perdagangan migas.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus US$ 19,35 miliar pada semester I 2026. Sementara itu, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit US$ 15,77 miliar, sehingga surplus perdagangan nasional menyempit menjadi US$ 3,58 miliar.
Advertisement
"Hingga Juni 2026, neraca perdagangan barang Indonesia mencapai surplus sebesar US$ 3,58 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 19,35 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$ 15,77 miliar," kata Ateng di Kantor BPS, Senin (3/8/2026).
Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar Indonesia dengan nilai US$ 8,55 miliar, diikuti India sebesar US$ 6,68 miliar dan Filipina sebesar US$ 4,24 miliar. Sebaliknya, China menjadi penyumbang defisit terdalam sebesar US$ 13,61 miliar, disusul Australia sebesar US $4,40 miliar dan Singapura sebesar US$ 4,33 miliar.
BPS mencatat surplus nonmigas terbesar berasal dari komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15) sebesar US$ 17,55 miliar, bahan bakar mineral (HS27) sebesar US$ 13,61 miliar, serta besi dan baja (HS72) sebesar US$ 8,61 miliar.
Defisit Nonmigas
Sementara itu, defisit nonmigas terbesar berasal dari impor mesin dan peralatan mekanik (HS84) sebesar US$ 15,93 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) sebesar US$ 7,98 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS39) sebesar US$ 4,72 miliar.
"Surplus nonmigas terutama didorong oleh komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, defisit nonmigas terbesar berasal dari mesin dan peralatan mekanik, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik," ujar Ateng.
Secara kumulatif Januari-Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 140,81 miliar atau meningkat 4,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, nilai impor mencapai US$ 137,24 miliar atau naik 18,69%, sehingga Indonesia masih mempertahankan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,58 miliar pada semester I 2026.